|
Tuesday, 03 May 2011 |
|
“Untuk itu dengan musik yang saya nyanyikan, saya berharap umat Muslim lebih mudah mendekatkan dan mengikatkan batin mereka kepada Nabi Muhammad Saw. Untuk kemudian berusaha meneladani akhlak beliau,” |
|
|
Tuesday, 03 May 2011 |
|
“Tak.. tak.. tak..,” bunyi mesin ketik tua tak mampu mengejar ide yang meluap-luap dari kepalanya. Ketika itu, sehari sebelum hari raya Idul Fitri 1369 H, Isa Anshary tengah menuangkan ide untuk khutbah akbar esok paginya. Hingga dua halaman penuh, gagasannya ia tuliskan dalam kertas putih. Ia simpan rapi tulisannya, sebagaimana kebiasaan dia yang juga selalu rapi menata ide di kepalanya. |
|
|
Tuesday, 03 May 2011 |
|
Assalamu’alaikum wr. wb. Ustadzah kami kos berlima musimah semua. Saat ini kami dilanda kelesuan ukhuwah, bahkan tidak jarang dengan teman satu kamar pun saling diam, tidak bicara, di antara kami seolah ingin sa-ling menjaga perasaan, tapi akhirnya malah tidak terjadi komunikasi yang sehat dan timbul prasangka diantara sesama. Dan lama kelamaan kami malah menjadi tidak enak, namun tidak saling mengungkapkan. Menurut ustadzah, bagaimana solusinya? Terus cara untuk menghilangkan perasaan-perasaan tidak enak tanpa harus saling berterus terang? Apakah itu ada korelasinya dengan tingkat keimanan? Terima kasih. (Pupu-Bandung) |
|
|
Tuesday, 03 May 2011 |
|
Assalamu’alaikum wr. wb. Ustadzah, mohon maaf saya mau tanya. Saya punya teman sepermainan sejak kecil, seorang perempuan yang kini usianya baru menginjak 16 tahun. Sebulan yang lalu ia menikah, tapi sepekan setelah menikah dia bercerai dengan suaminya. Katanya ia tidak mau disentuh suaminya. Saya mau tanya, apakah itu dinamakan frigid? Bagaimana Islam memandang hal tersebut? Apakah pernah ada cerita jaman dahulu yang seperti itu? Bagaimana cara membuka dalam membangun komunikasi dengan teman saya itu supaya saya bisa membantu masalahnya? Wassalamu’alaikum. (Ina-Bandung) |
|
|
Tuesday, 03 May 2011 |
|
Assalamualaikum wr. wb. Ya Ustadz yang dirahmati Allah, saya ingin bertanya tentang ibadah berkurban, di antaranya sebagai berikut; 1. Menurut Ustadz, apakah orang yang berkurban harus memakan da-ging hewan yang dikurbannya? 2. Dalam surat Al Hajj ayat 36 saya menemukan kata-kata “…..Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya....” Mohon penjelasannya atas makna surat tersebut Ustadz? 3. Lantas bagaimanakah panda-ngan Ustadz dengan berkurban melalui lembaga-lembaga zakat atau sosial. Apakah cara-cara yang digunakan lembaga tersebut, seperti berkurban di daerah terpencil, dibolehkan? Sedang para pekurban tidak dapat mengikuti proses kurban tersebut secara langsung? Sekian Ustadz pertanyaan dari saya. Mohon maaf apabila terlalu banyak. (Hamba Allah – Cimahi) |
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 55 - 63 dari 1302 |