|
Thursday, 26 May 2011 |
|
“Abah, Mama Sudja’i, yang merupakan pendiri pondok pesantren ini sangat lemah lembut dan lebih suka mengurus pesantren untuk membina umat. Ini sesuai dengan ajaran bahwa Islam merupakan rahmat bagi semesta alam. Hingga wafatnya di tahun 1984, tak sedetik pun waktunya ia bebaskan dari memikirkan umat dan umat,” |
|
|
Tuesday, 03 May 2011 |
|
“Tak.. tak.. tak..,” bunyi mesin ketik tua tak mampu mengejar ide yang meluap-luap dari kepalanya. Ketika itu, sehari sebelum hari raya Idul Fitri 1369 H, Isa Anshary tengah menuangkan ide untuk khutbah akbar esok paginya. Hingga dua halaman penuh, gagasannya ia tuliskan dalam kertas putih. Ia simpan rapi tulisannya, sebagaimana kebiasaan dia yang juga selalu rapi menata ide di kepalanya. |
|
|
Thursday, 06 January 2011 |
|
"Bapak adalah ayah yang tegas, ulama yang memiliki keteguhanan luar biasa. Kalau menurut Menteri Sosial, Salim Segaf Al Jufri, yang sering berkunjung ke bapak, Yusuf Tauziri itu adalah Khomeininya Indonesia,” |
|
|
Wednesday, 01 December 2010 |
|
Sosok yang paling ditakuti Belanda bukanlah pejuang tangguh berotot besi, bukan pula perwira gagah yang berkali-kali memenangkan peperangan. Ulama. Ya, ternyata kolonialis Belanda itu takutnya dengan seorang ulama. |
|
|
Wednesday, 01 December 2010 |
|
Hassan Bandung. Demikian nama populer ulama kharismatik ini. Apakah berarti ia lahir di Ibu Kota Jawa Barat? Bisa penting bisa juga tidak menjawab pertanyaan tadi. Tapi baiklah, agar bisa sedikit menuntaskan rasa penasaran pembaca, penulis coba untuk menjawab, lengkap dengan sekelumit kiprahnya menyebarluaskan Islam di sepenggal bumi Allah, Indonesia. |
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 5 dari 25 |