| Suami Jarang Sholat |
|
|
| Friday, 01 May 2009 | |
|
Teh Sasa, saya seorang akhwat yang sudah menikah selama 6 tahun. Semula suami saya rajin salat, ngaji dan aktif di yayasan. Namun setahun kemudian setelah dikaruniai anak, ia jarang salat dan tidak aktif lagi di yayasan. Penyebabnya karena suami saya disibukkan dengan pekerjaaan untuk mencari nafkah keluarga, meskipun pada akhirnya, saya menjadi tumpuan hidup dan suami saya sendiri jarang memberi nafkah. Suami saya bersedia salat setelah saya menyuruhnya salat. (Akhwat, Bandung) Jawaban: Ass Wr. Wb., ibu yang dirahmati Allah, Ketahuilah Ibu, bahwa setiap perjalanan rumah tangga siapa pun, ibarat dua sisi mata uang, ada sisi bahagia dan sisi duka. Saya turut prihatin atas kondisi rumah tangga Ibu karena suami Ibu jarang salat, suami tidak mau memberi nafkah keluarga meski ia berdalih sibuk dengan mencari nafkah. Sehingga Ibu pun turut repot mencari penghasilan untuk keluarga. Insyaallah tiga point pertanyaan Ibu, saya rangkumkan, yaitu: Bagaimanakah Ibu mesti menyikapi suami Ibu, dan harapan Ibu terhadap rumah tangga Ibu, sekarang dan kelak? Ibu, pahami betul bahwa sumber permasalahannya adalah suami Ibu berbuat dosa besar yaitu tidak mau salat, berakibat dia menjauhkan diri dari rahmat, kasih sayang dan petunjuk Allah SWT, hatinya ternoda oleh dzalim pada diri dan orang lain, artinya dia tidak takut pada Allah SWT. Tentulah, akan mengundang perbuatan dzalim berikutnya, misalkan berdalih sok sibuk di luar rumah, sehingga jarang atau tidak betah di rumah, kemudian tidak mau menafkahi keluarga meski dia ada uang, dan lain-lainnya. Pendek kata, ia menjadi suami yang tidak jujur. Yang menjadi tugas Ibu ke depan, adalah proses Ibu mengajak suami kembali pada Allah SWT tanpa orientasi ke hasil, tapi orientasilah pada perjalanan prosesnya, tanpa mengenal lelah, sebagai bekal Ibu di akhirat, “Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, Allah dan RasulNya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu. Dan kamu akan dikembalikan kepada yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, maka Dia akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang kamu kerjakan.” (QS At-Taubah:105) Perbaiki ajakan dakwah secara lisan Ibu, beri keteladan lewat perbuatan Ibu, atau kekhusukan doa ibu untuk suami, sesuai firman Allah, “Serulah kepada jalan (agama) Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara sebaik-baiknya. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS An-Nahl:125) Walau suami bersikap nusyuz (QS An-Nisa:128), yaitu tidak melaksanakan kewajibannya sebagai suami dan ayah, tahap awal saya masih menyarankan agar Ibu mencoba bersabar tetap bertahan dalam rumah tangga ini, berhubung Ibu sudah dikaruniai satu anak, maka pertimbangkan psikis anak. Target paling minimal adalah kebutuhan anak masih memiliki sosok seorang ayah, walau pun dari segi keteladanan tentunya mesti diimbangi dan diisi oleh Ibu sendiri, karena bapaknya tidak berfungsi sebagai teladan bagi anak. Juga masalah nafkah keluarga, sebaiknya Ibu punya penghasilan sendiri, sehingga bisa mengisi kekosongan keuangan keluarga, sebab sementara waktu ini, suami melalaikan kewajibannya tersebut. Walau pun tetap, di setiap kesempatan, Ibu mesti tak kenal lelah mengingatkan dan meminta jatah uang nafkah sehari-hari, pada suami Ibu. Sebab, bila tidak diminta maka biasanya karakter suami seperti itu, maka ia akan bertambah biasa melalaikan kewajibannya, sebenarnya ia ingat tapi pura-pura lupa, atau ada uang tapi ia mengaku tidak ada uang. Insya Allah, wujud sakinah ketenangan hidup Ibu, adalah lewat ujian ketidakshalehan suami. Dalam Alquran menerangkan, “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya diantara istri-istrimu (pasangan-pasanganmu) dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka, dan jika kamu maafkan dan berlapang dada dan kamu menutupi kesalahannya, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS At-Taghaabun:14) Dari keterangan surat At-Taghaabun tersebut, tugas Ibu adalah mendampingi suami dengan ketidakshalehannya semoga ia taubat kembali pada Allah SWT. Ia bisa disebut sebagai ‘musuh’ Ibu dalam hal tingkat keimanan yang berbeda dengan Ibu, sehingga Ibu tetap mesti bersikap hati-hati, waspada pada ketidakshalehan suami jangan sampai terbawa tidak shaleh juga, jangan mudah diperdaya olehnya, jangan mau diintimidasi olehnya, terutama membela diri terhadap kekerasan fisik, namun Ibu mesti perkuat jiwa pemaaf terhadap rasa sakit psikis yang Ibu rasakan dari kedzaliman suami, berjiwa lapang dada dan tutupi kesalahannya, semuanya niat karena Allah. Insya Allah, menjadi jalan ibu mendapat ampunan dari Allah SWT. Perkuat sabar, menjadi sosok istri dan Ibu yang mengharap ridha Allah semata, tetap berinfak kala lapang dan sempit, dan membalas keburukan suami dengan kebaikan, “Dan orang-orang yang sabar karena mengharap keridhaan Tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang kami berikan kepada mereka dengan tersembunyi atau terang-terangan, menolak kejahatan dengan kebaikan, bagi mereka itu tempat kesudahan yang baik.“ (QS Ar-Radu:22). Selanjutnya Insya Allah, Ibu akan selalu sakinah karena lebih dekat lagi pada Allah dengan selalu dzikir mengngiat Allah SWT., “(yaitu) orang-orang yang beriman hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Radu:28) Jadikan tempat Ibu bergantung setiap saat hanya Allah bukan manusia (suami), “Sebenarnya, barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia berbuat kebaikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak (pula) mereka berduka cita. “ (QS Al-Baqarah:112). Aamiin. Wallahu A’lam bishawwab. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




