Advertisement
 
 
Tersenyum Menghadapi Musibah Cetak E-mail
Wednesday, 05 May 2010

“Lakukan ayah, jika itu memang perintah Tuhan. Insya Allah, engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.”

“Lakukan ayah, jika itu memang perintah Tuhan. Insya Allah, engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.”

Kalimat ini keluar dari mulut Ismail “kecil”, jauh sebelum dipilih Tuhan menjadi Nabi. Ismail pasrah setelah memperoleh penjelasan bapaknya, Ibrahim ‘alaihissalam. Ibrahim sendiri seperti tidak membayangkan sebelumnya kalau anaknya akan pasrah menerima takdir “musibah”. Bahkan mungkin hampir tidak percaya kalau itu adalah jawaban anaknya sendiri. Padahal alasannya begitu sederhana, hanya sebuah mimpi. Ismail harus menjadi korban eksperimen kepatuhan Ibrahim kepada Sang Maha Pencipta. Tapi meski masih sangat belia, Ismail pun menerima keputusan bapaknya untuk menyembelih dirinya.

“Tidak perlu kau ikat kakiku, ayah”, seru Ismail meyakinkan bapaknya tentang kesiapannya untuk menerima takdir dalam kesabaran total. Meski masih sangat belia, Ismail memahami betul kalau rencana Ibrahim menyembelih dirinya adalah keputusan Allah, bukan semata-mata nafsu hewani yang tiba-tiba muncul mendominasi pikiran dan perasaan bapaknya. Ibrahim juga sadar kalau perintah Allah ini sangat berat sehingga membutuhkan kesabaran ekstra untuk melakukannya.

Bahkan, sejak perintah itu diterima, Ibrahim masih harus menahan diri, bersabar menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakannya. Seperti dikisahkan dalam al-Qur’an (as-Shāfāt, ayat 102), Ibrahim bersabar menungguh hingga usia Ismail dipandang cukup untuk diajak berbicara sekaligus wajar menerima keputusan. Lalu ketika Ismail telah sampai pada usia as-sa’ya, Ibrahim pun memanggilnya dan mengajaknya berdialog. Setelah selesai mengungkapkan ihwal mimpinya untuk menyembelih Ismail, Ibrahim lantas bertanya: ”Bagaimana pendapatmu, nak?”.

Ini baru satu gambaran sabar seperti diperankan Ismail dan Ibrahim ketika menghadapi ujian berat. Selain kisah di atas, al-Qur’an juga mengungkap tema kesabaran lainnya yang disajikan dalam banyak tempat dan peristiwa. Dalam surah al-Kahfi (ayat 65-82), misalnya, Allah kembali mengungkap sebuah drama kesabaran seperti diperankan Musa ’alaihissalam. Jika Ismail bersabar dalam menghadapi ujian berat melaksanakan perintah Tuhan untuk disembelih oleh ayahnya sendiri, maka Musa harus bersabar menyaksikan kenyataan tindakan-tindakan yang tidak rasional seperti diperankan Khidir ’alaihissalam.

Awalnya, sesuai petunjuk Allah, ketika Musa meminta izin untuk mengikuti Khidir kemanapun pergi, Khidir menyangsikan kesabaran Musa.

”Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”, tanya Musa seraya meminta izin Khidir.

”Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersamaku”, jawab Khidir tegas. ”Dan bagaimana mungkin kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu sendiri belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”, lanjut Khidir mengingatkan Musa.

Lalu Musa pun menegaskan kesanggupannya mengikuti apapun yang dilakukan Khidir: ”Insya Allah kamu akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.

”Baik!”, kata Khidir seraya memberi izin dengan syarat, ”Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.

Tapi, benar, seperti diperkirakan Khidir, setelah mengikuti langkah-langkah Khidir dengan berbagai tindakan kontroversial yang diperankannya, Musa ternyata tidak sanggup menahan diri untuk bersabar terutama ketika menyaksikan serangkaian tindakan Khidir yang dinilainya sebagai sesuatu yang tidak rasional. Setiap kali Khidir memainkan peran sesuai kehendaknya, Musa pun segera protes menyatakan ketidaksetujuannya atas permainan yang diperankan Khidir.

Khidir membocorkan perahu milik nelayan miskin; lalu menegakkan kembali dinding rumah yang hampir roboh; dan akhirnya membunuh seorang anak yang tampaknya bersih tak berdosa.

Musa tentu saja tidak setuju. Ia spontan menyatakan keberatan atas tindakan-tindakan yang dilakukan Khidir. Tapi, tatkala Khidir mengingatkan Musa akan janji yang pernah diucapkan sebelumnya, Musa pun tunduk. ”Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku”, kata Musa minta ampun, ”dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.

Musa tidak sanggup menahan sabar karena belum memahami hikmah di balik setiap peristiwa itu. Baginya, apa yang dilakukan Khidir merupakan musibah besar. Musibah yang dapat menyengsarakan orang banyak seperti nampak ketika Khidir sengaja membocorkan perahu yang tengah ditunggangi banyak penumpang; musibah luar biasa ketika Khidir dengan sengaja menghilangkan nyawa seorang anak yang tak berdoa.

Tapi, ketika pada akhirnya Khidir menjelaskan satu persatu tindakan kontroversial yang telah dilakukannya itu, terbukalah cakrawala hikmah di balik setiap peristiwa yang sebelumnya sangat sulit dimengerti.

”Inilah isyarat hikmah (ta’wil) tentang apa-apa yang sebelumnya kamu tidak sanggup menahan sabar”, kata Khidir menutup penjelasan atas berbagai peran dramatis yang pernah membuat Musa kaget sehingga kehilangan rasa kesabarannya. Dan, atas ta’wil itu, Musa pun tulus menerimanya.

Dua kisah yang sarat hikmah di atas memberi pelajaran penting khususnya berkaitan dengan arti kesabaran. Ismail dan Ibrahim tengah memberikan pelajaran tentang keharusan bersabar dalam menjalankan setiap kebajikan yang diperintahkan-Nya, sepahit apapun. Orang sering hanya merasakan beban berat dari setiap tindakan kebajikan yang mengikat dirinya. Kesabarannya pun hilang. Padahal ada lautan hikmah terbentang di belakang setiap kebajikan.

Sementara Khidir dan Musa tengah memberikan pelajaran tentang keharusan bersabar dalam menghadapi peristiwa yang untuk sementara tampak sangat menyengsarakan. Orang sering hanya melihat sisi pahit dari setiap peristiwa yang menimpa dirinya. Kesabarannya pun sirna. Padahal ia belum mengetahui persis sisi manis di balik kesengsaraan yang terjadi.

Sayangnya, hikmah itu hampir tidak pernah tampak dalam permainan. Ia selalu bersembunyi di belakang layar. Andai saja hikmah itu dapat diketahui ketika sesuatu musibah terjadi, mungkin orang akan tersenyum menghadapinya.
Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
   
 
   
 
 
 
 
 
Alhikmah Terbaru