Advertisement
 
 
Lillahi Ta’ala Saja…! Cetak E-mail
Tuesday, 01 June 2010

HARI Ahad itu tampak bening. Tapi Kang Eful bimbang. Istrinya mengajak menghadiri undangan pernikahan anak rekan kerjanya. Kang Eful tahu kalau memenuhi undangan perkawinan wajib hukumnya. Sabda Nabi ”Penuhilah undangan jika memang kamu diundang”, masih melekat mengisi ketaatan beragama Kang Eful.

Lebih-lebih yang mengundangnya adalah rekan dekat istrinya yang juga dikenalnya sejak lama. Rumahnya tidak begitu jauh. Hanya saja waktu walimahnya berlangsung antara pukul 11.00 hingga 14.00. Agak susah membaginya jika pada hari yang bersamaan ada agenda lain yang membutuhkan waktu tempuh agak panjang.
Kang Eful bimbang karena pada hari itu ada janji yang juga harus dipenuhi. Dia harus datang memenuhi permintaan mengisi acara pelatihan di luar kota. Setelah berpikir panjang, dengan menimbang itu dan ini, akhirnya menemukan solusi.

”Ya sudah, kita bagi tugas saja”, kata Kang Eful seraya mengajak berbagi peran dengan istrinya. ”Mamih ke undangan, papih bagian cari uangnya”, sambungnya ringan. Seolah sudah menjadi tugas utamanya, Kang Eful mengambil peran mencari uang.

Dengan penuh percaya diri, Kang Eful pun pergi untuk mencari uang. Setelah pamitan pada sang istri, Kang Eful tancap gas mengejar jadwal yang sudah dijanjikan. Siang harinya, giliran istri yang meninggalkan rumah untuk memenuhi undangan rekan kerjanya, sambil tidak lupa membawa pesan permohonan maaf sang suami karena tidak bisa datang.

Masing-masing memainkan peran sesuai kesepakatan. Kang Eful sadar kalau istrinya pergi sendiri dengan keterbatasannya. Sementara istrinya pun tidak lupa mendoakan suami untuk keselamatan dan keberhasilannya.

Sudah agak larut malam ketika Kang Eful tiba kembali di rumah. Meski istrinya tidak menanyakan uang yang dijanjikan sebelum suaminya berangkat, Kang Eful sadar kalau uang yang diperoleh dari hasil kerjanya memang untuk diserahkan pada sang istri.

Tapi, apa boleh dikata, sebelum istirahat panjang, dirinya kaget. Ia kaget karena amplop yang diyakininya berisi lembaran uang itu tidak dia temukan di saku celana yang dipakainya.

Aneh, karena ia yakin kalau amplop yang diterimanya telah dimasukan tepat di saku sebelah kanan celana panjangnya. Kang Eful tidak habis pikir. Ia tidak pernah menggunakannya di perjalanan pulang. Bahkan sekedar mengeluarkan atau memindahtempatkan uang itu dari saku celana panjangnya, sama sekali tidak.
Lalu, dalam perenungan singkat, Kang Eful segera mengetahuinya. Peristiwa raibnya uang yang menurut kesadarannya diperoleh secara syah itu telah mengingatkan dirinya tentang ”niat” kepergiannya untuk mencari nafkah.

Dia baru sadar kalau niat mencari uang telah keliru ia ucapkan. Padahal Kang Eful tahu betul kalau kewajiban yang mengikat posisinya sebagai kepala keluarga hanyalah untuk bekerja sebagai bentuk ikhtiar yang menjadi otoritas manusia.

Dan uang, seperti telah menjadi kayakinanya sejak lama, tidak lebih dari sekedar ”sertifikat” kreasi sebagai alat tukar yang syah. Ia bukanlah satu-satunya fasilitas untuk dapat hidup atau menghidupi keluarganya. Sebagai salah satu simbol produktivitas, uang yang diperoleh seseorang akan selalu berbanding lurus dengan bobot dan prestasi kerja yang ditempuhnya.

Kang Eful pun segera beristighfar untuk mengklarifikasi kekeliruannya. Dalam pertaubatan yang tulus ia lakukan, tiba-tiba terlintas dalam ingatannya kisah seorang shahabat Rasulullah, Imam Ali bin Abi Thalib.
Suatu ketika, Fatimah menangis karena sang suami, Ali bin Abi Thalib, datang dengan tangan hampa. Fatimah menunggu agak lama sejak Ali pergi dengan membawa enam dirham untuk membeli makanan.
Tapi Ali batal membeli makanan karena di perjalanan uang itu diberikan kepada orang yang lebih membutuhkannya. Ketika Fatimah bertanya mengapa tidak membawa sesuatu untuk makan Hasan dan Husain, Ali hanya menjawab singkat, ”Wahai wanita mulia, aku telah meminjamkan uang itu kepada Allah”.
”Kalau begitu”, jawab Fatimah ikhlas, ”sungguh aku mendukung keputusanmu”.
Ali kemudian keluar lagi untuk menemui Rasulullah. Di tengah perjalanan, ia dihampiri seorang Badui sambil menawarkan seekor unta yang dibawanya.
”Aku tidak punya uang”, jawab Ali singkat.
”Tidak apa-apa, engkau dapat membayarnya kapan saja engkau punya”.
”Berapa harganya?”, sahut Ali balik bertanya.
”O tidak mahal, seratus dirham saja”.
”Baiklah, saya beli”, kata Ali. Lalu Ali melanjutkan perjalanan sambil menuntun unta yang baru dibelinya. Belum jauh Ali melangkah, seorang Badui lain menghampirinya.
”Wahai Abu Hasan, apakah unta itu akan kau jual?”
”Jadi”, jawab Ali penuh harap.
”Berapa?”
”Tiga ratus dirham”.
”Baiklah saya beli unta ini”, kata Badui itu sambil menyerahkan uang tunai tiga ratus dirham. Ali pun pergi dengan membawa uang yang tidak terbayang sebelumnya.

Setelah membayarkan seratus dirham kepada Badui yang pertama, Ali segera menemui Fatimah sambil menyerahkan dua ratus dirham sisanya. Kemudian Ali segera menemui Rasulullah. Sambil tersenyum, Rasulullah mengajak Ali bercerita.
”Wahai Abu Hasan, tahukah engkau, siapa Badui yang menjual unta dan siapa pula Badui yang membeli unta tadi?”
”Tidak”, jawab Ali sambil menggeleng kepala, ”Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”.
”Berbahagialah kamu”, seraya Rasulullah menjelaskan, ”kamu telah meminjamkan enam dirham kepada Allah. Lalu Allah memberimu tiga ratus dirham. Badui yang pertama menemuimu adalah Jibril, sedangkan yang kedua adalah Mikail”.

Subhanallah, sambil mengusap air mata, Kang Eful berbisik pada dirinya sendiri. “Ke depan, tidak perlu lagi berpikir apa yang akan diperoleh dari hasil suatu pekerjaan, berapa banyak uang yang akan diperoleh sebagai upah atas sesuatu pekerjaan, tidak perlu.  Lakukan saja yang terbaik apa yang seharusnya dikerjakan sesuai kapasitas yang dimiliki.

Kewajiban kita adalah bekerja sebagai bentuk ikhtiar untuk mendapatkan hasil. Sementara uang, atau apapun bentuknya, tidak lebih dari implikasi logis atas segala sesuatu yang kita sanggup lakukan. Toh Allah juga tidak akan memaksakan suatu beban di luar kemampuan kita. Dan harus yakin, kalau Allah pasti akan menghitung apapun yang dikerjakan hamba-hamba-Nya.”
Jadi, sudahlah, Lillahi Ta’ala saja. Allah pasti akan memberikan hasil yang layak sesuai dengan apa yang kita kerjakan.

Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
   
 
   
 
 
 
 
 
Alhikmah Terbaru