| Pendekatan Dialogis Membendung Pemurtadan |
|
|
| Monday, 12 July 2010 | |
|
“Dalam diskusi kali ini, kita tidak mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Kita hanya bertukar ilmu saja secara ilmiah,” kata Dr. Asep Zaenal Ausop memulai diskusi. Hal ini pun ditanggapi secara dingin oleh pendeta Bram yang sekilas nampak menunjukkan ketegangan. Diskusi sendiri berjalan menarik. Argumen yang dilontarkan oleh para pembicara begitu bernas dan brilian. Hal yang menjadi pokok pembicaraan adalah perbandingan agama Islam dengan Advent. “Saya hanya ingin mencari persamaan dengan Islam. Bagaimana kita bisa hidup secara berdampingan tanpa saling mencurigai satu sama lain,” kata pendeta Bram ketika ditanya soal motif pemberian bantuan kepada beberapa warga di Babakan Ciparay. “Saya setuju dengan ungkapan hidup secara berdampingan tanpa saling mencurigai satu sama lain. Hanya saja, mencari persamaan dengan Islam jelas tidak mungkin dan aneh. Mengapa dengan Islam yang jauh sekali ajarannya Anda ingin mencari persamaan sedang dengan satu ajaran dengan Anda seperti kristen Katolik dan Protestan Anda malah memusuhinya?” Tanya Dr. Asep Zaenal Ausop. Pertanyaan ini tidak bisa dijawab oleh pendeta Bram. Beberapa masalah hukum dalam Islam dan Advent pun dibahas secara ilmiah. Hasilnya? Pendeta Bram dibuat terbelalak. Sebab beberapa kali dalam diskusi pertanyaan yang diberikan tidak bisa dijawab oleh pendeta Bram. Pada akhir diskusi dibuat sebuah perjanjian di atas segel antara pendeta Bram dengan beberapa ormas Islam. Hal ini dibuat agar pendeta Bram tidak melakukan tindak pemurtadan yang membawa kerugian berbagai pihak. (ffh/alhikmahonline) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




