Advertisement
 
 
Beramallah, Sekecil Apapun Cetak E-mail
Friday, 23 July 2010
Alkisah, dua orang sufi bermaksud saling memaafkan. Tapi mereka tidak sempat bertemu. Keduanya hanya berdiri di atas sajadah, lalu bersujud seraya memaafkan kesalahan apapun yang pernah dilakukan sang sahabat. “Aku maafkan kau,” bisiknya dalam hati, tanpa merasa perlu bertemu secara fisik. Bahkan, kalaupun bertemu, mereka khawatir ada godaan formalitas yang lebih bersifat basa-basi.

Mereka merasa tulus saling memaafkan, tanpa harus saling meminta maaf. ”Bukankah al-Qur’an itu menyuruh kita untuk memaafkan, dan bukan untuk meminta maaf,” pikir mereka. Tapi, kata kedua sufi itu, kita memang sudah salah kaprah. Kita sibuk meminta maaf, tapi tetap enggan memberi maaf. Kita sering berpura-pura peduli sesama, tapi tidak lebih dari sebuah retorika. Kita tidak jarang begitu dekat dengan rakyat, tapi hanya terjadi pada saat butuh simpati

Suatu hari, kedua sufi itu tanpa disengaja bertemu. Mereka mengucapkan salam, saling mendo’akan untuk keselamatan masing-masing. Lalu mereka berbincang akrab. Akrab sekali. Tentang banyak hal. Tapi tidak sedikit pun menyentuh kegelisahannya ketika mereka dililit perasaan luka. Tidak pula mengungkapkan kalau mereka telah memaafkan kekhilafan masing-masing. Memaafkan, bagi mereka, bukan untuk diketahui pihak yang dimaafkan. Memaafkan adalah kewajiban yang harus dilakukan. Dan mereka merasa sudah memenuhi kewajiban, memaafkan, dan tidak merasa terikat pada keharusan meminta maaf.

Malah, di sela-sela pertemuannya itu, salah satu di antara mereka menyampaikan keprihatinannya. Dia prihatin karena kemarin, ada anak muda yang dipaksa harus minta maaf pada atasannya. Anak muda itu menolak keras. “Saya tidak merasa bersalah, dan tidak ada kewajiban untuk minta maaf,” katanya memberikan alasan. Anak muda itu dituduh bersalah karena sering mengkritik atasannya. Kritiknya benar, tentang berbagai ketimpangan yang terjadi di tempat kerjanya. Dia biasa bicara jujur, apa adanya, mengungkapkan apapun yang menurutnya benar. Bahkan dia sendiri terbuka dikritik jika pendapatnya salah.

“Aneh”, kata sufi yang lainnya, “kritik kok dianggap tindakan salah dan dinilai berdosa. Lebih parah lagi, anak muda itu dipaksa harus minta maaf”, lanjutnya sambil tersenyum tanpa beban. Padahal, kritik sebetulnya merupakan amal saleh yang belum tentu bisa dilakukan oleh setiap orang. Kritik adalah amal, namun tidak banyak orang yang memahami makna dan hakikat amal.

Lalu, kalau begitu, apa yang disebut amal? Jika amal itu dinilai baik, bagaimana memeliharanya agar kita bisa tetap beramal?

Kata “amal” yang secara sederhana biasa diartikan kerja atau karya dapat ditemukan di sejumlah ayat dalam al-Qur’an. Kata ini digunakan untuk menggambarkan karya nyata sebagai produk dari usaha manusia. Dalam pengertian ini, sebagai pelaku, manusia terikat pada kewajiban untuk terus beramal. Bahkan dalam banyak sumber dijelaskan bahwa beramal merupakan bagian dari ibadah. Dalam bentuk amal apapun, selama perbuatannya itu dilakukan sesuai dengan niyat dan kaifiyat yang benar.

Beramal merupakan perwujudan ibadah. Jika al-Qur’an menegaskan bahwa Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah, maka perwujudannya bisa dilakukan dalam banyak cara. Ibadah tidak terbatas pada bentuk-bentuk ritual formal atau biasa disebut ibadah mahdloh, tapi juga dalam banyak ragam dan bentuknya. Dengan demikian, adalah masuk akal jika manusia memang terikat pada kewajiban untuk mewujudkan ibadah, dan tidak ada aktivitas lain kecuali beribadah.

Beramal, atau sebut saja berbuat baik, tidak mensyaratkan harus diketahui orang lain. Bahkan sebaliknya, beramal sebaiknya tidak diketahui atau tidak untuk diketahui orang lain. Doktrin Islam menyatakan bahwa beramal dilakukan semata-mata untuk mengabdi kepada-Nya. Dalam terminologi ajaran Islam, beramal yang dilakukan untuk diketahui atau dinilai manusia disebut riya. Jika sutau amal dikategorikan ke dalam bentuk riya, maka al-Qur’an sendiri dengan tegas mengingatkan pelakunya untuk segera membrsihkan diri dari sikap riya.

Terkait dengan etika beramal seperti disebutkan di atas, akhir-akhir ini, khususnya ketika ada momen kampanye politik, berkembang fenomena ”semacam” obral amal. Menjelang pemilihan kepala daerah, baik gubernur maupun bupati ataupun walikota, obral amal seperti ini biasa menjadi pemandangan yang mudah ditemukan di semua daerah. Janji-janji untuk berbuat baik terpasang menjadi pemandangan di sepanjang jalan. Dilengkapi foto-foto atau gambar pelakunya, janji-janji itu dikemas dalam beragam kata dan bahasa.

Menjelang pemilihan gubernur, bupati, walikota, atau bahkan presiden, sejumlah janji digelar para calon untuk beramal shalih melayani masyarakat, memenuhi kebutuhan masyarakat, dan memberikan jaminan kesejahteraan dan keadilan. Ada janji untuk menyediakan pendidikan gratis, layanan kesehatan murah, menjajikan berbagai fasilitas layanan bagi rakyat miskin, dan lain sebagainya. Sama juga halnya ketika masa kampanye menjelang pemilihan walikota dan wakil walikota. Berbagai janji digelar dalam kemasan retorika politik yang sangat meyakinkan.

Kini, ketika pemilihan usai dilaksanakan, masyarakat kembali tinggal menunggu bukti. Janji pendidikan gratis mulai bergeser menjadi pendidikan terjangkau. Menyediakan lapangan kerja mulai menemukan batu sandung yang melelahkan. Semuanya menjadi tidak gampang. Berbagai jurus dipasang untuk memperhalus beban yang pernah dijanjikan. Kuda-kuda disiapkan untuk menangkal tuntutan yang semakin sulit direalisasikan.

Padahal, tuntutan ajaran sesungguhnya tidak sesulit itu. Agama tidak menuntut di luar kemampuan; agama tidak memaksa untuk membuat rencana yang melebihi kapasitas; agama bahkan melarang membikin janji yang melewati batas. Agama hanya mengajarkan untuk berusaha beramal sepanjang bisa dilakukan. Dalam beramal, agama hanya mensyaraktkan kejujuran dan sikap istiqamah dalam melaksanakannya. Di sinilah Nabi SAW mengingatkan, bahwa sebaik-baiknya amal adalah perbuatan nyata yang dilakukan secara istiqamah (berkelanjutan), meskipun dalam jumlah yang tidak seberapa. Bukan amal yang hanya dijanjikan, atau perbuatan yang besar tapi berlangsung hanya sesaat.

Jadi, beramallah secara istiqamah, sekecil apapun. Hndari janji yang hanya akan menjerat kebebasan, dan mulailah dengan memohon kekuatan kepada-Nya: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong” (QS, 17: 80).

Comments (1) >>
...
written by adnan, December 07, 2010

salam,
apa boleh saya mengcopy beberapa hikmah yang ada disini ? smilies/smiley.gif

Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
   
 
   
 
 
 
 
 
Alhikmah Terbaru