Advertisement
 
 
Anak Saya Takut Mati Cetak E-mail
Friday, 23 July 2010
Assalamulaikum Wr. Wb., Ustadz, suami saya meninggal 3 tahun yang lalu akibat gagal ginjal. Hampir setiap Ahad beliau (alm) melakukan proses cuci darah dengan didampingi oleh dokter ahli. Namun, rupanya Allah berkehandak lain. Setelah 1 tahun cuci darah, akhirnya ia menghadap Sang Khalik.

Tahun ini, giliran anak saya yang sudah menikah, mengalami gagal ginjal. Usianya baru 30 tahun. Ia sangat terpukul dan cenderung putus asa, lantaran ayahnya sendiri yang sebelumnya mengidap penyakit serupa, berakhir dengan meninggalkan alam dunia. Saya sudah berusaha menyemangati dia, namun belum juga berhasil. Dia selalu menangis dan ketakutan, seolah kematian berada di depannya. Apa yang harus saya lakukan, Ustadz?


Jangan biarkan ia sendiri. Jangan diberi kesempatan untuk melamun. Ajaklah dia bergembira. Tanamkan pelan-pelan kepada dirinya agar tetap tegar dan optimis.

Wafat itu pasti terjadi. Jika tidak karena sakit, pasti karena sebab yang lain. Dan kematian bukanlah akhir dari sebuah kehidupan. Sebab setelah wafat ada kehidupan lain yang pasti lebih indah kalau seseorang itu salih dan takwa kepada Allah SWT.

Ketakutan akan peristiwa kematian dapat diambil hikmahnya untuk lebih banyak beramal kebaikan, lebih taqarrub kepada Allah SWT.

Manfaatkan untuk bergaul dengan orang-orang yang salih, yang tidak pernah takut akan kematian. Ajaklah yang bersangkutan untuk banyak berdo’a, dan berserah diri kepada Allah SWT. Sering-seringlah datang ke masjid untuk shalat berjamaah dan berdo’a di masjid.

Kalau ada kesempatan (dana dan kesehatan memungkinkan), berangkatlah ke tanah suci untuk berangkat ibadah Umrah.

Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
   
 
   
 
 
 
 
 
Alhikmah Terbaru