| Ini Dia Pembuat Alquran Braile di Jawa Barat |
|
|
| Wednesday, 01 September 2010 | |
|
Di tempat inilah Alquran braile diciptakan. Alquran yang khusus diperuntukan bagi saudara kita yang tuna netra. “Banyak sekali kaum tuna netra yang mau membaca Alquran. Namun karena keterbatasan Alquran braile yang beredar membuat mereka harus menangguhkan keinginannya tersebut,” kata H. Ayi Ahmad Hidayat kepala unit percetakan braile Yayasan Penyantun Wyata Guna. Lebih lanjut H. Ayi mengatakan bahwa membuat Alquran Braile itu sulit. Harus teliti, beda sekali dengan membuat Alquran yang biasa. Kesulitan pembuatan Alquran braile terletak pada koreksi dan penyempurnaan titik-titik braile pada kertas yang akan dijadikan Alquran braile. “Kita bukan mengetik huruf braile latin. Tapi mengonversikan Alquran ke dalam huruf Arab versi braile. Setelah itu kita cek apakah titik yang dihasilkan menjadi huruf braile itu sesuai atau ada kesalahan,” paparnya. Sebelumnya, kertas-kertas yang akan dijadikan Alquran braile dimasukan dulu ke dalam alat yang disebut master create untuk diberikan titik-titik braile. Setelah itu melalui alat yang bernama reglet-lah H. Ayi bersama anak buahnya membuat dan mengoreksi Alquran braile yang diproduksinya. Setiap bulannya tidak kurang lima ratus Alquran braile bisa diproduksi dan disebarkan dari tempat tersebut. Namun jangan salah, satu alquran braile berarti berisi tiga puluh jilid dengan satu juz setiap jilidnya. Jadi jika dikalikan lima ratus, berapa jilid juz yang dihasilkan oleh H. Ayi bersama anak buahnya? Satu juz Alquran braile yang dijual dibandrol dengan harga lima puluh ribu rupiah. Ini pula yang sering menjadi ganjalan di hati H. Ayi. Harga yang mahal membuat Alquran braile seringkali sulit dijangkau oleh kocek kaum tuna netra. “Padahal itu sudah ditekan habis-habisan dengan ongkos produksi kami. Makanya mereka yang awas, harus bersyukur dapat membaca Alquran braile yang biasa,” aku lelaki yang tinggal di jalan Sukagalih, Bandung ini.
“Kami mengakui bahwa masalah dana sering menjadi kendala. Namun, ada juga beberapa donatur yang rela menyisihkan sebagian hartanya untuk membuat Alquran braile ini, seperti Ummi Maktoum Voice misalnya,” kata Ayi. Lantas dengan berbagai kendala itu apakah H. Ayi dengan percetakan Alquran braile akan menghentikan produksinya. “Tidak akan pernah. Ini adalah amanah Allah untuk membantu saudara-saudara kita yang mempunyai ‘kelebihan’ dan ingin mendekatkan dirinya dengan Allah SWT. Kami tidak akan berhenti. Allah pasti akan membantu kami. Dengan berbagai kendala yang dihadapi oleh kami dan kaum tunba netra untuk membaca Alquran braile sudah selayaknya kita yang ‘awas’ mensyukuri nikmat dapat membaca Alquran yang biasa dibanding dengan saudara-saudara kita yang lain,” ujar H. Ayi panjang lebar. Sekarang setelah mengetahui bagaimana sulitnya saudara kita untuk membaca Alquran braile masihkah kita yang mempunyai mata ‘awas’ malas membaca Alquran? (ffh/alhikmahonline)
|
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




