Advertisement
 
 
Mengapa Harus Takut? Cetak E-mail
Monday, 27 September 2010
“Siapa di antara kalian yang tidak ingin masuk sorga?” tanya sang kiai pada jamaahnya yang hadir saat itu. Semua jamaah terdiam, mengisyaratkan tak satupun di antara mereka yang tidak ingin masuk sorga. Semua menginginkan sorga.

“Lalu siapa di antara kalian yang ingin mati?” Tanya kiai lagi menyusul isyarat nonverbal dari jamaah yang menandakan keinginan mereka masuk sorga. Atas pertanyaan ini pun para jamaah diam tak menjawab. Mereka artinya tidak ingin mati.

“Aneh!” gumam sang kiai. Bagaimana mungkin orang bisa masuk sorga tanpa melalui mati terlebih dahulu. Mati adalah tahapan yang harus dilalui sebelum seseorang bisa atau tidak bisa masuk sorga. Mati memang bukan jaminan masuk sorga. Tapi mati baru merupakan salah satu “tiket” untuk masuk sorga. Setiap orang yang masuk sorga, pasti pernah mati terlebih dahulu. Tapi tidak setiap orang mati pasti masuk sorga. Mungkin, karena tidak ada jaminan kepastian inilah mereka semua enggan mati.

Mati hampir selalu ditakuti. Bagi sebagian – atau bahkan mungkin kebanyakan – orang, mati seolah menjadi momok. Begitu seseorang sakit berat, yang terbayang bukan lagi kesembuhan, tapi kematian. Dia ingat mati bukan karena siap menjemputnya, tapi justeru sebaliknya, karena mati seolah menghantuinya.

Padahal, seperti diisyaratkan Rasulullah, kalau saja setiap orang mengetahui hikmah kematian, niscaya mereka akan tersenyum menjemputnya. Sebab kematian adalah proses penyucian dari berbagai jenis kotoran yang melekat pada tubuh seorang mu’min. Bukankah tidak seorang mu’min pun yang hidup tanpa dosa, meski ia begitu bersih ketika pertama kali lahir ke dunia. Perjalanan hiduplah yang seharusnya merindukan kematian, karena lewat perjalanan itu manusia selalu bersentuhan dengan kesalahan.

Tapi memang tidak sederhana memahami kematian. Selain kematian merupakan sesuatu yang ghaib, kematian juga biasa dicitrakan negatif sejak manusia mengenal kehidupan. Kematian hampir selalu dihubung-hubungkan dengan hal-hal yang buruk dan negatif. Lihat, misalnya, hukuman mati bagi seseorang yang dinyatakan bersalah; ancaman mati dari seseorang yang terlibat dalam permusuhan; dan masih banyak contoh kasus buruk lainnya yang menggunakan kata “mati”.

Pencintraan yang tidak menguntungkan itu telah membuat manusia takut mati. Prosesnya pun telah berlangsung cukup lama. Sejak pertama kali saya belajar agama di bangku madrasah diniyah, hampir tidak ditemukan ungkapan yang mencitrakan positif bagi kematian. Selain ungkapan penjelasan guru-guru di madrasah, beberapa bahan bacaan anak-anak juga selalu mengungkap kematian sebagi sesuatu yang mengerikan.

Waktu itu, misalnya, sekitar akhir 1960-an, beredar buku komik Karma dan Saleh. Ceritanya sangat menarik karena, paling tidak, ia berkaitan dengan kematian dan gambaran kehidupan sesudah mati. Buku itu bercerita tentang perjalanan dua sosok yang memiliki perangai berseberangan, si Karma dan si Saleh. Saleh mewakili sosok muslim yang baik. Ia menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan sangat tenang dan membahagiakan. Senyumnya yang terakhir digambarkan dengan apik dan menarik. Kehidupan sesudah matinya pun menggambarkan kesempurnaan amal sebagai individu yang senantiasa berperilaku baik.

Sementara Karma tidak. Sejak kecil ia telah dikenal sebagai trouble maker baik di kalangan sebayanya maupun para orangtua. Watak pribadinya yang sangat materialistis, pragmatis, dan hedonis, sudah nampak sejak usianya yang masih sangat belia. Kematiannya digambarkan dalam buku itu dengan latar belakang yang sangat menakutkan. Ia berteriak, mengerang kesakitan. Senyumnya sirna. Dan yang lebih mengerikan lagi, gambaran kehidupan sesudah matinya yang sangat tidak membahagiakan.

Secara keseluruhan, buku itu menyediakan gambaran dua kehidupan yang sejatinya dilalui oleh setiap manusia. Dua kehidupan yang dijembatani oleh kematian ini disajikan dalam alur yang mudah dipahami oleh hampir semua lapisan usia. Dilengkapi dengan gambar-gambar yang secara khusus didisain untuk memperlihatkan dua kehidupan berbeda, penuh dengan kenikmatan di satu sisi dan sarat kepedihan siksa kubur di sisi lain. Dan, entah kebetulan atau memang disengaja, gambaran kepedihan siksa kubur disajikan lebih banyak dibanding kelezatan akhirat.

Sejujurnya, saya terpengaruh buku itu. Disiplin shalat saya, selain tentu karena asuhan orangtua, sebagiannya karena efek buku itu. Waktu itu, saya takut kena siksa kubur jika lalai melaksanakan shalat. Yang juga terbayang-bayang dalam ingatan saya waktu itu adalah proses kematian Karma yang sangat menakutkan. Malaikat digambarkan sebagai sosok yang mengerikan. Ruh Karma pun ditarik juga dengan sangat menakutkan. Anehnya, gambaran nasib si Saleh yang membahagiakan, justeru kurang melekat dalam ingatan. Mungkin karena faktor psikologis yang negatif sehingga dapat membangun kesan mendalam.

Ini baru satu ilustrasi mengapa citra kematian menjadi begitu menakutkan. Bahkan, efeknya, segala sesuatu yang berhubungan dengan kematian, seperti keranda, ambulan, kamar mati, kain kafan, dan lain-lain, selalu dicitrakan menakutkan. Akhirnya, orang lebih takut mati, meskipun ia sendiri belum pernah mengalaminya. Orang takut mati bukan karena ia pernah mati, tapi bisa jadi rasa takut itu disebabkan karena takut oleh imajinasinya sendiri tentang mati.

Jadi, tidak perlu takut. Karena sesungguhnya kematian adalah hal wajar bagi setiap orang. Tidak perlu ditakuti, bahkan harus sanggup menjemputnya dengan senyum. Jangan takut. Mati pasti datang menjemput. Bahkan al-Qur’an mengilustrasikan kedatangannya dengan cara yang bisa jadi sangat tiba-tiba: “Jika ajalmu telah datang”, kata Allah, “ia tidak bisa lagi ditunda ataupun dipercepat, meski hanya satu detik.”

Terakhir, saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip sebagian syair lagu Bimbo yang mengungkap pesan Rasul tentang kematian.

 Pesan Nabi jangan takut mati

Meski kau sembunyi pasti menghampiri

Takutlah pada kehidupan sesudah kau mati

Renungkanlah itu..

Maaf, saya mengutip syair lagu dan bukan mengutif langsung sabda Nabi. Sederhananya, saya hanya ingin membangun kesan baru tentang kematian. Ibarat sebuah lagu, ia bukan sesuatu yang menakutkan, tapi menyenangkan. Kematian selayaknya dijemput karena akan memberikan hikmah. Kata Ali Al-Hadi, kematian sama dengan kamar mandi. Lalu, seperti dikutip Kang Jalal dalam Memaknai Kematian, cucu Rasulullah yang kesembilan menjelaskan, “Kematian adalah kesempatanmu yang terakhir untuk membersihkan kamu dari dosa-dosamu dan keburukan-keburukanmu..”

Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
   
 
   
 
 
 
 
 
Alhikmah Terbaru