| Hijrah Ini Masih Luka |
|
|
| Tuesday, 30 November 2010 | |
|
Sejak pagi iring-iringan massa mulai memadati alun-alun depan kantor kewedanaan. Barisan perempuan berjilbab dan laki-laki berpeci itu datang dari berbagai pelosok desa. Mereka berbaris rapih sambil mengumandangkan takbir. Di setiap barisan terbentang spanduk putih bertuliskan “Iman, Hijrah, dan Jihad”. Saya ada di tengah iring-iringan itu. Saya yang baru duduk di bangku kelas II SMA pondok pesantren itu bergetar. Saya terharu ketika gema takbir itu tak henti-hentinya menusuk pintu telinga. Bapak saya berdiri di pinggir jalan menyaksikan iring-iringan. Terlihat air matanya menetes. Sorenya saya tanya, kenapa tampak terharu. “Massa yang ikut berbaris itu berbeda dari biasanya”, jawabnya singkat. Lelaki yang saat itu telah berusia lebih dari setengah abad itu merasakan napas kebangkitan baru umat Islam, meski dia sendiri tidak dapat mendefinisikannya dengan jelas. “Kalimat yang tertulis di spanduk itu mengharukan”, jelasnya. Tapi, yang sulit dia pungkiri, pemandangan itu telah mengingatkan pada pengalamannya ketika bertakbir sambil berteriak “Merdeka!”. Dia memang satu di antara ribuan santri pesantren yang pada era 30-an ikut dalam barisan untuk merubah nasib diri dan bangsanya. Saya juga terharu. Meski sering mengikuti upacara di alun-alun itu, tapi upacara saat itu sangat berbeda. Ribuan peserta yang hadir seluruhnya adalah santri yang sengaja datang dari berbagai pesantren. Tidak ada perempuan yang tidak berjilbab. Laki-lakinya berpeci, dan bahkan tidak sedikit yang mengenakan kain sarung. Banyak di antara mereka yang tidak terbiasa mengikuti upacara bendera. Tapi mereka tetap hidmat mengikuti seluruh rangkaian acara. Peristiwa itu terjadi sekitar tiga puluh satu tahun yang lalu, tepatnya tanggal 1 Muharam 1400 Hijriyah. Saat itu umat Islam hampir di seluruh penjuru bumi gempita merayakan datangnya abad baru hijriyah. Mereka berharap, abad ini menjadi pintu gerbang kebangkitan kembali peradaban Islam. Ada semacam kesadaran kolektif bahwa umat Islam harus bangkit dari keterpurukan. Seusai upacara, seorang muballigh menyampaikan pesan hijriyah. Pelan-pelan saya mulai memahami bahwa umat ini memang sedang terpuruk. “Kita harus bangkit berubah”, gumam saya setengah berbisik pada telinga sendiri. Tapi apa indikator keterpurukan yang paling nampak dan terasa melilit umat saat itu? Lalu apa yang harus dilakukan umat ini? Menurut sejarah, umat pengikut Muhammad saw. ini memang pernah menguasai peradaban dunia. Sejarah menyebut satu persatu pemikir pengisi kemajuan peradaban dengan karya-karyanya yang kaya dan monumental. Saat itu saya sendiri belum bisa menyebut terlalu banyak. Tapi saya semakin sadar kalau kemajuan dunia yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ini sesungguhnya bermula dari karya-karya besar yang dilahirkan ilmuwan-ilmuwan muslim. Ibn Khaldun, Ibn Sina, Ibn Rusydi, Al-Khawarizmi, Al-Ghazali, dan sederet nama besar lainnya, adalah di antara para pelopor kemajuan peradaban dunia. Kemajuan itu muncul begitu cepat. Hanya sekitar satu abad setelah wafatnya Rasulullah peradaban itu merangkak menguasai dunia, dan terus berlari hingga hancurnya Baghdad pada abad ke-13 Masehi. Era Abasiah yang berlangsung sekitar 500 tahun itu berhasil mengguncang dunia. Bahkan setelah tahun yang sering disebut-sebut sebagai era keterpurukan itu pun, kebangkitan masih menampakkan dirinya, meski mulai bergeser ke belahan dunia lainnya. Di Turki, di Persia, dan di India kekuasaan Islam tak henti-hentinya mempengaruhi dunia. Jika saat ini kita masih mendengar Taj Mahal, maka pikiran kita akan terbang menembus kesadaran sejarah bahwa satu di antara keajaiban dunia itu adalah bukti peninggalan kejayaan Islam abad ke-16 di India. Inilah warisan semangat kebangitan yang mulai dihembuskan sejak zaman Rasulullah dan para shahabatnya. Ia membawa ajaran yang sangat berpihak pada kepentingan ilmu pengetahuan, keadilan ekonomi, dan penataan kehidupan sosial yang menjadi napas utama kemajuan, yang justeru saat ini sedang tarcabik-cabik kebodohan dan ketidakadilan. Lalu ada apa sesungguhnya yang salah dengan umat ini? Memang, seperti diakui banyak kalangan, saat ini umat yang pernah besar ini tengah terpuruk. Semangat hijrah yang sering disebut-sebut sebagai pintu masuk kebangkitan kembali belum juga berhasil merubah kenyataan. Pada setiap kali melakukan refleksi hijriyah, kita baru sanggup menyebut sejarah secara harfiyah tanpa menemukan hikmah perubahan yang sejatinya menjadi tenaga untuk bangkit dari keterpurukan. Maka, dalam situasi Indonesia seperti yang kita rasakan saat ini, hijrah harus ditafsirkan dalam rumusan yang lebih kontekstual, terutama untuk berusaha menemukan jalan keluar dari berbagai himpitan sosial, politik, ekonomi dan bahkan agama dan kebudayaan. Jalan keluar yang hendak ditemukan itu tentu bukan semacam Lampu Aladin yang sekali tiup bisa merubah kenyataan. Tapi ikhtiar serius semua komponen umat untuk bangun dari tidur yang nyaris setengah mati ini. Kini tahun hijriyah pun telah memasuki angka yang semakin besar. Sejak periode Umar bin Khattab sang pencetus penanggalan tahun qamariyah, Hijriyah telah berputar sebanyak 1431 kali. Ia terus berganti mengikuti perputaran waktu dari tahun ke tahun. Tapi substansi hijrahnya sendiri seringkali terabaikan. Tahun hanya berubah tanpa menghitung perubahan realitas kehidupan para penghuni bumi ini. Padahal, pergantian tahun sebaiknya lebih dimanfaatkan bukan hanya untuk menghitung hari, tapi juga untuk menghitung realitas kehidupan. Hijrah belum sanggup menjanjikan perubahan. Mungkin karena kita sendiri sesungguhnya masih belum juga berhijrah. Akibatnya, umat kini masih bertumpuk dalam kubangan kebodohan. Sebagian lainnya terpenjara dalam kemiskinan. Bahkan dua penyakit peradaban, kebodohan dan kemiskinan, ini malah semakin memperlihatkan taringnya yang seolah siap menerkam kejam. Padahal penyebabnya sudah terlihat jelas. Kebodohan karena gagalnya pendidikan dalam mencerdaskan bangsa, dan kemiskinan karena semakin sulitnya mencairkan ketidakadilan ekonomi karena semakin mengguritanya tradisi korupsi. Lalu apakah tidak ada usaha penyelesaian? Akankah angka rata-rata lama sekolah masyarakat kita beranjak melewati target angka 9 tahun? Akankah pula berubah angka kemiskinan dan pengangguran yang hingga kini masih memperlihatkan rasio yang cukup tinggi? Bukan! Usaha telah lama dilakukan. Sayangnya, ia masih terbelenggu kepentingan dengan lebih mengutamakan basa-basi, mementingkan harga diri, mengedepankan pencitraan pribadi, atau sekedar memelihara keutuhan konstituen pemilih untuk melanggengkan kekuasaan. Maka, haru biru iring-iringan peringatan hijriyah sejak awal memasuki abad ke-15 ini tampaknya masih belum sanggup membangunkan tidur yang berkepanjangan ini. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




