| Toga Sang Ibu |
|
|
| Thursday, 06 January 2011 | |
|
Sejak ayahnya meninggal, Ahmad (bukan nama yang sebenarnya) mencoba bisa hidup mandiri. Dia membayangkan beban berat yang harus dihadapi ibunya. Lima orang adiknya masih sekolah. Bahkan si bungsu baru duduk di kelas dua sekolah dasar. Beban itu dilihatnya masih amat panjang. Baginya, hampir tidak mungkin kalau dirinya pun masih harus bergantung pada seorang ibu. Sementara ibunya hanya mengandalkan uang pensiunan peninggalan ayah. Terakhir ayahnya pensiun dalam posisi golongan dua pegawai negeri sipil. Maklum, dia diangkat menjadi pegawai negeri sekitar seperempat abad silam hanya bermodalkan pengalaman sekolah rakyat kelas tiga. Warisan inilah yang menjadi sumber utama ibunya untuk membesarkan anak-anaknya, termasuk Ahmad. Ahmad berusaha memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Dia mencari jalan keluar ketika harus membayar uang kuliah, kontrakan, dan segala kebutuhan hidup khususnya untuk kelancaran penyelesaian studi yang tinggal satu tahun lagi. ”Saya harus bisa!”, gumamnya ketika sekali waktu terpaksa harus jualan T-Shirt untuk membayar uang kuliah. Ahmad sesungguhnya ingin juga meringankan beban ibunya. Ia teringat pesan Rasulullah untuk membahagiakan seorang ibu. Wajah seorang kiai yang pernah menjelaskan pesan Rasul itu kembali hadir dalam bayangannya. Ketika ditanya tentang orang yang harus dihormati, Rasul menjawab: ”Ibumu, ibumu, dan ibumu.” Tapi tidak sanggup. Jangankan ikut meringankan beban sang ibu untuk membantu kebutuhan sekolah adik-adiknya, untuk dirinya pun masih sangat darurat. Dia hanya bisa mendorong adik-adiknya untuk tidak pernah putus asa melanjutkan sekolah. ”Kita harus sekolah!”, ajaknya penuh semangat. Baginya, hanya sekolah yang paling mungkin bisa ditempuh untuk menyelamatkan masa depannya. Setahun Ahmad berjuang menghadapi tantangan. Hampir putus asa. Kuliahnya pun nyaris tak terselesaikan. Tapi akhirnya lolos. Dia berhasil melewati ujian sarjana. Ibunya bangga, anaknya bergelar doktorandus. Ahmad adalah anak pertama yang jadi sarjana. Kakaknya tidak sempat melanjutkan kuliah. Dia terlanjur bekerja dan berkeluarga. Tantangan berikutnya muncul menghadang perjalanan Ahmad. Ibunya ingin menghadiri wisuda. Ahmad tidak bisa menolak. Bahkan ia ingin menghiburnya dengan membawa ibu menghadiri wisuda. Tapi tidak bisa, karena wisuda membutuhkan biaya. Dia tidak sanggup membayar uang wisuda meski terhitung murah. Hanya tiga puluh ribu, saat itu. Padahal uang makan sebulan saja sering tidak sampai tiga puluh ribu. Ahmad akhirnya memutuskan tidak ikut wisuda. Dua hari menjelang pesta akademik itu digelar, Ahmad pulang kampung menemui ibunya. ”Ibu, wisuda itu tidak penting”, ucapnya membuka percakapan. ”Lha, kenapa? Nanti bagaimana ijazahnya?”, jawab ibunya setengah kaget. ”Ijazah pasti diperoleh. Wisuda itu ibarat samenan, dulu ketika masih sekolah dasar. Tidak ikut juga kan tidak apa-apa. Tetap naik kelas”, jelas Ahmad penuh khidmat. Tapi dia tidak menjelaskan alasan yang sesungguhnya. Dia tidak ingin ibunya sedih hanya karena tidak sanggup membayar uang wisuda. Dia bahkan berusaha meyakinkan ibunya kalau wisuda itu memang tidak penting. Ibunya akhirnya mengerti, meski ada rasa kecewa. Dia hanya bisa menyetujui alasan anaknya. Pandangannya terlihat hampa. Samar-samar terdengar di telinga Ahmad kalau ibunya ingat pesan ayah tentang sekolah anak-anaknya. Pelan-pelan dia berbisik sendiri: ”Kalau masih ada, dia pasti bangga, anaknya jadi sarjana. Seperti juga saya.” Ahmad tak tahan menahan luka. Dia pamit lagi untuk segera menghindari rasa pilu karena rasa kecewa ibunya. Dia kembali ke tempat kontrakannya, tidak jauh dari kampus. Ahmad dan juga ibunya sebetulnya menangis. Tapi masing-masing berusaha menyembunyikannya. Keesokan harinya, sehari sebelum acara wisuda, seorang staf dari kampus mencari Ahmad. Dalam gladi bersih Ahmad tidak ditemukan dalam keramaian bersama teman-teman seangkatannya. Padahal, besok Ahmad harus tampil menerima penghargaan sebagai sarjana teladan. Hari sudah hampir gelap, ketika akhirnya Ahmad harus ikut wisuda. Pihak kampus memberi pinjaman untuk membayar uang wisuda. Ahmad pasti ingat ibunya. Tapi sulit untuk memberitahu ibunya di kampung. Sebab di rumah ibunya belum terpasang tilpon, dan jarak tempuh memang tidak mudah, apalagi malam hari. ”Sudahlah!”, gumam Ahmad. ”Apa boleh buat”, lanjutnya setengah menyesal. Ahmad akhirnya diwisuda. Surat keputusan rektor dibacakan, dan Ahmad pun dipanggil ke depan untuk menerima penghargaan. Tak seorang pun dari keluarganya yang hadir menyaksikan Ahmad. Ibunya tetap tinggal di kampung, tak jadi datang. Kakak dan adik-adiknya pun sama, tidak ada yang datang. Apalagi ayahnya, meski dia adalah sosok yang berkeinginan kuat anaknya jadi sarjana. Sebelum meninggal, ayahnya memang sempat berharap, kelak ingin menghadiri wisuda anaknya. Ahmad keluar dari arena wisuda. Kawan-kawan dan orang-orang yang mengenalnya berebut mengucapkan selamat. Sejenak dia jadi pusat perhatian. Tapi ibunya tetap tidak ada. Besoknya, nama Ahmad tertulis di koran-koran. Seorang wisudawan yang menerima penghargaan sebagai sarjana teladan. Ibunya akhirnya tahu. Entah siapa yang memberi tahu. Konon, ibu tidak bisa berkata-kata. Hanya air matanya menetes pelan, menggenapkan rasa bahagia anaknya jadi sarjana. Ahmad juga tahu kalau ibunya akhirnya tahu. Ini betul-betul kehendak Allah yang ada di luar kesanggupannya. Dia hanya bisa pasrah, seraya memohon, ”Sekiranya Engkau berkenan wahai Tuhan yang Maha Mendengar, beri kesempatan untuk sekali waktu saya bisa membawa ibu menghadiri wisuda.” Rupanya Allah berkenan memberi kesempatan kepada Ahmad untuk melanjutkan kuliah. Dia diterima untuk kuliah program magister. Tapi ini pun tidak bisa menjawab kegelisahannya untuk mengajak ibunya wisuda. Dia mendapat beasiswa kuliah di Amerika. Tidak mungkin bisa menghadirkan ibu. Ketika wisuda, Ahmad hanya bisa berkirim foto. Ibunya kembali terharu, meski tidak bisa hadir menyaksikan wisuda anaknya. Ahmad tidak putus asa. Sekembalinya ke tanah air, Ahmad melanjutkan lagi kuliah. Dia memilih kuliah program doktor di kota tempat tinggalnya sendiri. Di antara motif-motif Ahmad melanjutkan kuliah, terbayang dalam fikirannya, suatu saat dia akan membawa ibunya menghadiri wisuda. ”Ibu, besok datang ya menghadiri wisuda”, ajak Ahmad suatu ketika setelah dinyatakan lulus menjadi doktor. Sambil menangis bahagia, ibunya berfoto dengan anaknya yang bertoga. ”Ibu, toga ini milik ibu”, bisik Ahmad di perjalanan pulang seusai wisudaan. Subhanallah! Inilah toga yang menjadi simbol tafsir birrul wālidain. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




