| Di Balik Kesederhanaan |
|
|
| Tuesday, 03 May 2011 | |
|
Ia adalah sosok rendah hati yang sulit dilukiskan dalam kanvas kehidupan yang kian menipu. Di balik kesederhanaannya tersimpan kebesaran eksistensi dirinya sebagai pribadi yang agung. Inilah lukisan sifat rendah hati yang sejatinya menjadi watak orang-orang yang beriman.
SAYA baru saja membuka-buka buku Para Pencari Tuhan karya Syaikh Nadim al-Jisr. Jika tidak salah paham, pesannya sangat dahsyat meski paparannya sangat sederhana. Mudah dicerna. Ia, salah satunya, mengingatkan saya agar tidak melupakan-Nya, meski sekedar mengecilkan-Nya. Jika kita memperoleh apapun, Dia pasti ikut campur tangan di dalamnya. Kita tidak layak mengklaim bahwa apapun yang kita peroleh adalah sepenuhnya sebagai hasil karya kita.
Dalam prolognya yang amat komunikatif dan bersahaja, Syaikh Nadim bercerita tentang masa lalunya dalam nuansa yang sangat sufistik. Saya sendiri ikut larut dalam pengembaraan batinnya ketika dia mengenang satu lorong masjid tempat masa kanak-kanaknya bermain. Saya merasakan keterharuan Nadim. Ketika berdiri dan menangis di pinggir salah satu pintu masjid yang penuh kenangan itu, seorang syaikh dengan roman muka yang seram, berambut putih, dengan lilitan baju yang aneh, datang menghampiri Nadim. “Apa yang menyebabkan engkau menangis, saudaraku?” tanya syaikh itu pada Nadim yang tengah termenung sendiri. “Kenang-kenangan di masjid ini, sejak masa ayah saya dan masa kanak-kanak saya”, jawabnya pelan penuh hormat. “Siapakah ayahmu?” tanya Syaikh lagi. Dan, begitu Nadim menyebut nama ayahnya, badan Syaikh itu tiba-tiba menggigil. Ia berkata sambil meluruskan pandangan kedua matanya pada Nadim dengan air mata mulai membasahi pipinya. “Ayahmu Syaikh al-Jisr?” “Benar. Lantas, siapakah Tuan ini?” Nadim balik bertanya. Nadim pun baru sadar kalau almarhum ayahnya, Syaikh al-Jisr, adalah sosok karismatik yang selalu dikenang banyak kalangan. Padahal, selama masa hidupnya, Nadim tidak pernah membaca tanda-tanda kebesaran ayahnya. Secara fisik dia tampak sangat sederhana, meski terasa adanya pancaran wibawa yang tidak dimiliki setiap orang. Nadim lalu mengingat-ingat kembali ayahnya. Sorot matanya mengilustrasikan seorang berilmu dan berhati mulia. Demikian sepenggal dialog antara dua sosok sederhana. Saya sangat menikmati prolog itu. Baru beberapa halaman awal buku itu saya baca, kesan kesederhanaan mulai nampak memberi warna. Saya pun menikmati kesederhanaan yang tergambar dalam setiap halaman buku itu. Buku itu terasa hidup dan seolah tengah memberikan nasihat kehidupan. Saya juga merasa tidak akan sanggup mengikuti setiap nasihatnya. Meski Nadim hanya bercerita tentang dirinya, Nadim seolah hadir di depan mata mewakili kata-kata yang tersurat pada setiap halaman buku itu. Lalu Syaikh Nadim mulai bercerita tentang para pencari Tuhan yang menjadi tema utama buku itu. Luar biasa. Syaikh yang satu ini kembali memperlihatkan keagungan pemikirannya yang sangat menakjubkan. Dia berhasil menyembunyikan kebesaran pesan di balik kesederhanaan paparan. Dia menjelaskan satu persatu sosok para pencari tuhan. Sangat indah dan komunikatif. Saya memang pernah mendengarnya. Tapi tidak sebagus ini. Lalu siapa para pencari tuhan itu? Ternyata semuanya adalah sosok sederhana. Dalam bukunya, Syaikh Nadim pertama-tama memaparkan para filosof yang berkarya besar khususnya dalam bidang pemikiran. Sosok dan pemikiran para filosof yang biasanya dipandang jelimet dan membosankan, dikisahkan Nadim justru dalam gambaran yang sangat sederhana. Saya sendiri tidak bermaksud merendahkan guru saya yang pertama kali mengajarkan filsafat. Dulu, ketika pertama kali mempelajari pemikiran para filosof, saya merasa capek. Akhirnya saya tinggalkan semuanya. Kini datang Syaikh Nadim. Ia membantu menyederhanakannya. Sangat membantu. Kesederhanaan itu telah mengungkap keagungan yang sebelumnya kutakuti. Saya pun berterima kasih pada Syaikh Nadim. Lalu Syaikh Nadim bercerita tentang tanah liat yang tertawa dan menangis. “Apa maksudnya?” pikir saya. Tapi lagi-lagi saya menemukan kecerdasan Syaikh Nadim di atas rata-rata manusia pada umumnya. Dia dengan lugas mempersonifikasi manusia seperti diisyaratkan al-Qur’an, tanah liat. Begitu indah ketika Nadim menggambarkan tanah yang sanggup tertawa dan menangis. Penggambaran ini tentu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memahami pesan Quran sekaligus berhasil menangkap sifat-sifat manusia. Setelah selesai membaca kisah tanah liat itu, saya melanjutkan pengembaraan menuju alam pikiran Syaikh Nadim. Saya menemukan pernyataan retorisnya yang amat menakjubkan. “Hotel Besar!” sahutnya jelas. “Hotel ini”, lanjutnya, “yang dibangun, dipancangkan, dipelihara, diperhatikan dengan baik, dihiasi, dibentuk, dan dilengkapi dengan semua sarana kebaikan oleh Pemiliknya untuk kita – apakah juga tercipta karena faktor kebetulan?”, tanyanya meski tidak membutuhkan jawaban. Saya masih bertanya-tanya. Tapi tidak butuh waktu panjang. Syaikh Nadim kemudian menunjukkan “hotel” itu sebagai tempat kita singgah sebentar di dalam perjalanan kita dari ayunan menuju ke lubang kuburan. Nadim menjelaskan lebih lanjut. Inilah hotel yang oleh para ilmuwan biasa disebut planet bumi. Ia diciptakan-Nya dalam sebuah keteraturan. Terdiri dari berbagai unsur yang menyatu untuk tunduk hanya kepada-Nya. Di hotel inilah tanah liat itu berkembang biak dengan bantuan cahaya matahari. Cahaya matahari dan semua bintang bercahaya yang sampai ke bumi ini. Lantas dia menutup paparannya dengan mengutip salah satu pesan Allah: “Kecelakaan besarlah bagi mereka yang hatinya telah membatu di dalam mengingat Allah” (QS. 39: 22). Inilah inti persoalan “tanah liat” dan “hotel besar” itu. Tertawa dan menangis hanyalah bagian sederhana dari mahluk yang sejatinya terus mengingat Allah. Dalam kesederhanaan itulah Nadim hendak menjelaskan ajaran Allah yang maha besar. Penjelasannya sangat kaya makna dan penuh hikmah. Bagi saya, paparan Nadim adalah cermin kebesaran pemikiran, gagasan, dan eksistensi dirinya. Tapi Nadim tetap sederhana. Ia berhasil mengolaborasikan sains, filsafat, dan agama dalam ramuan karya ilmiah yang enak dibaca. Tapi ia tetap berperan sebagai seorang murid sang pencari kebenaran. Tidak banyak orang sanggup melakukannya. Nadim tetap seorang sufis yang tidak pernah terpenjara “kebesaran” duniawi. Ia tetap dalam kewajaran yang sulit dipraktikkan oleh setiap orang. Kesederhanaannya menjadi sumber inspirasi untuk menemukan sesuatu yang jauh lebih besar, sekaligus menyimpannya dalam ruang keikhlasan yang selalu tersedia. Meski begitu, orang tetap memandangnya sebagai sosok arif yang pandai menyembunyikan kebesaran. Syaikh Nadim tetap bersahaja. Ia adalah sosok rendah hati yang sulit dilukiskan dalam kanvas kehidupan yang kian menipu. Di balik kesederhanaannya tersimpan kebesaran eksistensi dirinya sebagai pribadi yang agung. Inilah lukisan sifat rendah hati yang sejatinya menjadi watak orang-orang yang beriman. |
| Berikutnya > |
|---|




