Advertisement
 
 
FUUI BEDAH TRAGEDI POSO Cetak E-mail
Thursday, 04 January 2007

PAGI cerah itu, Sabtu (10/2), ada se-suatu membuat masyarakat yang me-lintas di Jalan Cijagra, Bandung, ber-tengok ke Masjid Al Fajr. Tampak, sejumlah orang terus datang bergantian dan masuk ke masjid tersebut. Tiba waktunya, sekitar pu-kul 09.00 WIB, masjid berlantai dua itu pun penuh sesak dijejali ratusan kaum muslim.     Rupanya, di tempat itu, berlangsung acara diskusi yang bisa membuat bulu kuduk ber-gidik. Ya, acara itu bertajuk, “Menguak Tabir Tragedi Poso”. Pada diskusi itu meghadirkan, Deklarator Malino,Andi Baso, Tim Pembela Muslim (TPM), H. Ahmad Michdan, saksi dan korban tragedi Poso, Ustad Ilham SH, serta Wakil Forum Silaturahmi Umat Islam Poso, Ustad Ahmad. Tak ketinggalan, datang pula perwakilan ormas-ormas Islam di Bandung dan tamu undangan lainnya.

Satu persatu, pengisi acara tersebut me-nyampaikan pandangannya mengenai tra-gedi berdarah itu. Di sela-sela diskusi, para tamu disuguhi pula tayangan film doku-menter dan foto-foto para korban Poso dari pihak kaum muslim. Melalui layar screen, pengunjung tampak terhenyak saat melihat mayat-mayat bergelimpangan. Ada tubuh-nya tak utuh lagi, ada juga sejumlah mayat anak kecil dengan luka sayatan benda tajam.

TERJADI PENYIMPANGAN
Deklarator Malino, Andi Baso menya-yangkan, penanganan hukum tragedi Poso hanya diberlakukan pada kasus-kasus yang terjadi setelah perjanjian Malino saja. Se-mentara kasus yang terjadi sebelum per-janjian Malino tidak pernah disentuh.
“Saya merasa prihatin dengan konflik di Poso yang terus berlaru-larut. Walau sudah ada kesepakatan, ternyata banyak penyim-pangan yang dilakukan kelompok tertentu. Dan ini merugikan kaum muslim Poso,” paparnya.

Melihat hal tersebut, Andi berpan-dangan, sepertinya ada upaya pemutihan dari pemerintah terhadap mereka yang melakukan kejahatan kemanusiaan. Teruta-ma, kata dia, terhadap enam belas nama yang disebutkan Tibo yang hingga kini belum tersentuh.
Perwakilan TPM, H Ahmad Michdan SH, berkata, “Kejadian Poso yang diliput media massa Indonesia, berbeda dengan apa yang telah terjadi sebenarnya.” Ahmad menilai, apa yang terjadi di Poso itu merupakan suatu kejahatan kemanusiaan.

Sementara itu, Wakil Forum Silaturahmi Umat Islam Poso, Ustad Ahmad, merasa aneh dengan sikap penegak hukum. Dicon-tohkan Ahmad, mengenai daftar pencarian orang (DPO) yang dilakukan Densus 88, pada Januari lalu, malah menelan korban orang-orang yang tidak ada sangkut paut dalam daftar nama-nama  DPO.

MAKLUMAT FUUI    

“Perlakuan yang adil terhadap pihak-pihak yang bertikai adalah substansial dalam penyelesaian konflik,” ujar Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI), KH. Atian Ali M. Da'i, MA.

Maka itu, FUUI beserta ormas-ormas Islam lainnya mengingatkan kepada pemerintah, jika keadilan tidak segera di-tegakkan, maka  pertumpahan darah tetap potensial terjadi di Poso atau wilayah manapun. “Bila dibiarkan, ibarat bom waktu,” kata Athian.
Athian yang menyampaikan maklumat-nya setelah usai acara diskusi “Menguak Tabir Tragedi Poso”, menilai, tragedi Poso merupakan tragedi yang sudah lama diren-canakan. “Ini hasil rekayasa kaum kafir,” ucapnya, bernada geram.

Ditambahkan Athian, diharapkan umat muslim mesti mencermati fakta sejarah mengenai nasib umat Islam yang dizalimi. Dia berpesan, sangat perlu dipelihara kewaspadaan dan dilakukan upaya sungguh-sungguh guna menyelamatkan masa depan Islam dan umat Islam. (Baban)*

Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >