| Kang Kurdi dan "Wall Street" |
|
|
| Tuesday, 04 November 2008 | |
|
”Wall Street jatuh. Pasar saham di seluruh mayapada runtuh. Lonceng kematian kapitalisme berbunyi”. Demikian SMS sahabat saya, Kafil Yamin. SMS itu saya baca ketika kendaraan berhenti di perempatan menunggu lampu merah berubah hijau. Hanya beberapa detik saya baca. Tapi di luar kendaraan pun, para penjaja koran menyuarakan pesan yang kurang lebih sama. Memang, hari itu, sebagian besar koran membuat headline besar dengan tema berakhirnya Wall Street. Bahkan pagi-pagi sebelum berangkat pun, hampir semua saluran televisi memberitakan peristiwa yang mencengangkan itu. Kafil hanyalah satu dari sekian banyak orang yang merespon begitu ”emosional” atas berita itu. Saya kenal baik Kafil. Seorang wartawan yang pernah lama bekerja untuk Inter Press Service (IPS), sebuah kantor berita internasional yang berkantor di Manila. Setahu saya, sahabat lama sejak menjadi mahasiswa di IAIN Bandung ini memang memiliki perhatian di atas rata-rata kawan seangkatannya terhadap masalah-masalah sosial politik ekonomi. Ketika beberapa kawan terlibat dalam dunia saham serta bentuk-bentuk investasi lain yang, menurutnya, tidak rasional, dia sendiri yang getol mengingatkan. Wall Street sendiri sebetulnya nama jalan di kawasan Manhattan, New York, Amerika Serikat. Di sanalah sejumlah lembaga keuangan dunia berkantor -- New York Stock Exchange, Merryl Lynch, Goldman Sach, Lehman Brother, dan lain-lain. Saya sendiri pernah berkunjung ke kawasan ini untuk sebuah perjalanan biasa. Kesan sederhana saya, kawasan ini memang mencerminkan ”wajah” kapitalisme yang sangat kental. Merasa hanya seorang santri yang awam dengan dunia saham, sebetulnya saya tidak begitu tergoda suasana sekitar. Mungkin karena sensitivitas saya yang relatif tumpul ketika mencium aroma kehidupan dengan latar dunia kapitalisme ini. Kalau harus membuat perbandingan, saya ini mungkin mirip-mirip Kang Kurdi yang kesehariannya mengajar ngaji di mushola kecil dan pergi ke sawah atau ke ladang untuk bertani. Uang, kekayaan, harta, dan bentuk-bentuk kapital lainnya, bagi Kang Kurdi, hanyalah fasilitas hidup yang tidak menjamin bahagia dan bukan satu-satunya alat yang harus dimiliki. Kang Kurdi yakin, tanpa harus memiliki semuanya, dia bisa bahagia. Malah dia sering merasa khawatir, kalau atas semua yang dimilikinya, dia tidak sanggup mensyukurinya. Ketika krisis moneter 1998, Kang Kurdi pun tidak terpengaruh sama sekali. Dia tetap hidup tenang di kampung. Mengajar ngaji tidak berhenti, juga tetap bertani. Bahkan, ketika orang kota ramai membicarakan “krismon”, dia mengira kalau Krismon itu nama orang, seorang koruptor kelas kakap, kawannya Eddy Tanzil yang pernah ramai menjadi buah bibir masyarakat. “Naon deui atuh si Krismon teh. Si Eddy Tansil can katewak, geus datang deui si Krismon,” komentarnya lugu tanpa merasa bersalah. Orang-orang kota yang mendengarnya, tertawa lepas seolah terhibur Kang Kurdi. Sebelum dan sesudah krisis moneter, Kang Kurdi dan keluarga tetap menyantap beras dengan makanan tambahan singkong atau jagung rebus. Kuantitas dan kualitasnya sama sekali tidak berubah. Butuh telur ayam dan ikan nila juga tersedia, tinggal ngambil di kolam. Jika lebaran tiba atau datang tamu istimewa, dia sembelih ayam kampung untuk hidangan spesial. Sayur-sayuran sehat pelengkap hidangan kesehariannya tidak sulit didapat. Di kebun yang tidak jauh dari tempat tinggalnya tersedia berbagai macam sayuran. Hampir semua kebutuhan tersedia. Paling, jika menginginkan, Kang Kurdi masih harus beli terasi dan garam, bahan dasar membuat sambal kesukaannya. Kebetulan terasi dan garam tidak bisa ditanam seperti cabe dan tomat. Semua kehidupan desa dilaluinya dengan penuh damai. Bahkan ketika harga minyak tanah melambung, Kang Kurdi tetap tenang. Dia beralih kembali memasak dengan kayu bakar. Semua lancar-lancar saja. Tidak ada hambatan yang berarti. ”Wah, ini tauhid kelas tinggi,” komentar salah seorang mahasiswa IAIN yang kebetulan sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di kampung Kang Kurdi. Padahal, menurut mereka, tidak sedikit dosen pengajar ilmu-ilmu agama Islam yang kelihatannya masih kuat menggantungkan diri pada uang, bank, saham, dan rupa-rupa usaha sejenis lainnya. Seolah-olah Tuhan hanya ada pada saat shalat dan berdo'a. Tapi tidak ketika terjadi transaksi di bursa saham atau pada kegiatan perekonomian lainnya. Mungkin, inilah ”berhala” masyarakat modern yang bahaya teologisnya tidak jauh berbeda dari berhala zaman Jahiliyah. Diam-diam, meskipun tidak begitu akrab dengan istilah krismon, Kang Kurdi pun rajin mendengar obrolan para mahasiswa. Dia pelan-pelan mulai mengerti kalau negara saat ini tengah pontang-panting banting setir menyiasati perkembangan krisis ekonomi yang terjadi di Amerika sana. Ketergantungan Indonesia pada Amerika kelihatan jelas dari obrolan orang-orang kampus ini. ”Bagaimana mungkin Indonesia bisa terpengaruh oleh krisis keuangan yang terjadi di Amerika sana?” tanya Kang Kurdi penasaran. Jawaban mereka sederhana: pasti terpengaruh. Jangankan Indonesia, negara-negara Eropa yang perekonomiannya kuat sekalipun, kini sudah merasakannya. Kang Kurdi tidak mengerti. ”Tidak!” katanya tegas. ”Indonesia ini memiliki sumber daya alam yang sangat kaya. Masyarakat kita juga memiliki ideologi dan budaya yang sangat berbeda bila dibanding dengan masyarakat Amerika. Jadi, perbedaan inilah yang seharusnya membedakan sistem perekonomian kita. Sejak dulu, sistem ekonomi kita ini tidak bersifat kapitalistis, tapi lebih didasarkan pada sifat-sifat gotong royong, kerja sama, dan kekeluargaan,” paparnya seraya mengungkap pengalaman usaha yang selama ini dilalui bersama para petani lain di kampungnya. Dengan mengembangkan prinsip gotong royong dan kekeluargaan ini, masyarakat dan negara akan mampu mandiri. Kemandirian inilah yang dapat menjadi kekuatan untuk menghindari dampak buruk krisis. Kang Kurdi lalu teringat pada kisah krisis ekonomi yang pernah terjadi pada masa khalifah Umar bin Khattab. Krisis bermula dari kekeringan lahan pertanian yang berkepanjangan. Para petani gagal panen. Dalam sejarah tahun itu dikenal sebagai tahun Ramadi. Tapi masyarakat saat itu tidak sampai terpuruk, negara pun tetap stabil. Berbeda dengan pengalaman krisis yang menimpa sistem kapitalis yang terbukti banyak menimbulkan kerugian masyarakat. ”Sudahlah,” kata Kang Kurdi mengajak melakukan refleksi atas beberapa kali pengalaman krisis yang menimpa bangsa ini. ”Saatnya kita kembali pada sistem perekonomian yang berbasis budaya dan potensi sendiri. Jadikan pengalaman pahit ini sebagai pelajaran berharga untuk meninggalkan ketergantungan, merintis perekonomian yang bersumber pada nilai-nilai syariat,” ujarnya pendek.* |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




