Advertisement
 
 
Ulama Kharismatis Multitalenta Cetak E-mail
Tuesday, 04 March 2008

SEABAD silam, 16 Februari 1908, seorang bayi laki-laki lahir di Desa Kampung Molek, Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, yang kemudian menjadi seorang ulama besar. Dialah Abdul Malik Karim Amrullah yang kini dikenal sebagai Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah).

Untuk mengenang sejarah perjuangan dan pengabdiannya dalam menegakkan syiar Islam, pada 15 Februari 2008 digelar acara peringatan "100 Tahun Buya Hamka" di Masjid Agung Al-Azhar Jakarta. Sejumlah tokoh “penerus perjuangan” Buya Hamka hadir dalam acara tersebut, antara lain Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia KH. Syuhada Bahri, Ketua Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab, KH. Kholil Ridwan, dan Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) KH. Didin Hafidhuddin.

Hamka dikenal sebagai ulama, sastrawan, pujangga, wartawan, juga penulis produktif. Ia menulis lebih dari 75 buku keagamaan, novel, filsafat, tasawuf, dan sejarah. Tahun 1920-an ia menjadi wartawan beberapa suratkabar, seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, dan Bintang Islam.

Pada 1926 ia mendirikan jurnal Muhammadiyah pertama, Chatibul Ummah. Tahun 1928, ia menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, ia menjadi editor dan menerbitkan majalah Al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.

Karya-karya sastra Hamka antara lain novel Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wiht. Dalam bidang ilmu keislaman, ulama yang ke Mekah tahun 1927 dan tercatat sebagai Ketua MUI pertama itu menyusun kitab tafsir yang dikenal sebagai Tafsir Al-Azhar.

Ulama kharismatis yang meninggal di Jakarta pada 24 Juli 1981 ini mendapat julukan Buya sebagai pengakuan masyarakat atas integritas iman, ilmu, dan amal Islaminya. Buya sendiri adalah panggilan buat orang Minangkabau, berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku atau seseorang yang dihormati.

Ayahnya, Syekh Abdul Karim bin Amrullah yang dikenal sebagai Haji Rasul, merupakan pelopor Gerakan Islah atau Tajdid di Minangkabau, sekembalinya dari Mekah.

Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau hingga kelas dua. Ketika usianya men-capai 10 tahun, ayahnya mendirikan “Sumatera Thawalib” di Padang Pan-jang. Di situ Hamka medalami ilmu agama dan bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal, seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto, dan Ki Bagus Hadikusumo.

Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai disiplin ilmu, seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi, dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, ia dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah, seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas Al-Aqqad, Mustafa Al-Manfaluti, dan Hussain Haikal.

Melalui bahasa Arab juga, Hamka mampu meneliti karya-karya sarjana Perancis, Inggris, dan Jerman, seperti Albert Camus, William James, Sigmu-nd Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti.

Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta, seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin,  Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang andal.

PERJALANAN KARIER

Hamka menjadi guru agama tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang tahun 1929. Setelah itu ia menjadi dosen di Universitas Islam Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Padang Panjang, dari tahun 1957 hingga tahun 1958.

Setelah itu, ia diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia. Namun, Hamka meletakkan jabatan itu ketika Presiden Sukarno menyuruhnya untuk memilih antara menjadi pegawai negeri (PNS) atau aktif di partai politik Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).

Hamka aktif dalam pergerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Ia mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk andil dalam pemberantasan khurafat, bid'ah, tarekat, dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, ia mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang.

Pada 1929, Hamka mendirikan pusat latihan da'i Muhammadiyah. Dua tahun kemudian ia menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Dalam sebuah Konferensi Muhammadiyah tahun 1946, ia terpilih menjadi Ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat.

Tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Prof. Dr. Mukti Ali melantiknya sebagai Ketua Umum MUI, tetapi ia kemudian meletak jabatan itu tahun 1981 karena merasa nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah.

AKTIVITAS POLITIK

Kegiatan politik Hamka bermula tahun 1925 ketika ia menjadi anggota partai politik Sarekat Islam (SI). Tahun 1945, ia membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan turut dalam perang gerilya dalam hutan di Medan.
Pada 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional Indonesia. Ia juga menjadi anggota Konstituante Masyumi. Dari tahun 1964 hingga 1966, ia dipenjarakan oleh Presiden Sukarno dengan tuduhan pro-Malaysia. Selama di penjara itulah ia menulis Tafsir Al-Azhar (lima jilid) yang merupakan karya ilmiah terbesarnya.

Hamka pernah menerima beberapa penghargaan nasional dan internasional. Gelar Doctor Honoris Causa diperolehnya dari Universitas Al-Azhar (1958) dan Universitas Kebangsaan Malaysia (1974). Selain itu, ia mendapat gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia. (Sumber: www.buyahamka.com dan lain-lain).*

Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
   
 
   
 
 
 
 
 
Alhikmah Terbaru