| Bukhara, Kota Lautan Ilmu |
|
|
| Friday, 01 June 2007 | |
|
MENDENGAR nama Bukhara, pati ingat Imam Bukhari. Benar, inilah kota kelahiran perawi hadits terpopuler dan terpercaya bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju'fi Al-Bukhari itu. Kota Bukhara yang berada di bagian barat Uzbekistan ini menjadi pusat peradaban Asia Tengah selama berabad-abad. Di sini orang-orang berbicara bahasa Tajik yang bercampur dengan tata bahasa Uzbek, sebuah bukti persaingan hegemoni antara bahasa Persia (Tajik) dengan Turki (Uzbek).
Bukhara adalah sebuah kota terletak di kawasan Asia Tengah, di bagian barat Republik Uzbekistan. Konon, kata Bukhara berasal dari bahasa Mongolia, Bukhar, yang berarti lautan ilmu, mengingat banyaknya tokoh ilmuan (ulama) yang berasal dari kota ini. Bukhara kini menjadi objek wisata. Di kota ini terdapat banyak peninggalan ilmiah, bangunan dan seni yang merupakan peninggalan arsitektur luar biasa. Setelah Bani Saljuk menguasai Bukhara, mereka memperluas kota tersebut dan membuatnya lebih hidup dan maju baik di segi pengembangan ilmiah maupun seni. Di samping itu, Bukhara terkenal dengan posisinya sebagai pasar induk yang menampung produk dari Cina dan Asia Barat. Bukhara terkenal juga dengan hasil sutra, katun, karpet, hasil perak, hasil emas dan produk tembaga Kota ini diambilalih dari penguasaan Cina oleh penguasa Khilafah Islam Bani Umayah, masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik (68-69 H/705-715 M), ketika Hajaj bin Yusuf As-Sakafi, menteri khalifah, memerintahkan Kutaibah bin Muslim Al Bahili untuk menaklukkan negara-negara Transoksaina. Kutaibah berangkat menuju Bukhara dan berhasil menaklukkannya pada tahun 90 H./ 709 M. Setelah itu Kutaibah bin Muslim mempersiapkan segala sesuatunya untuk dapat diduduki kaum Muslim dengan membangun beberapa buah mesjid serta mengajak penduduknya memeluk Islam. Sejak itu, kota Bukhara menjadi bagian dari Khilafah Islam. Jengkis Khan pun pernah menguasai Bukhara, yakni tahun 616 H/1219 M. Sayangnya, ia menghancurkan dan meruntuhkan berbagai bangunan dan membakar perpustakaannya. Setelah kekuasaan diambil alih oleh Timur Lank tahun 785 H./ 1383 M, nasib kota Bukhara tetap dirundung malang, sampai datang Bani Uzbek yang membangunnya kembali dan membuatnya sebagai ibu kota negara pada 911 H./ 1505 M. Setelah itu, Bukhara dikuasai oleh Iran untuk beberapa waktu sampai datang Rusia yang menguasainya tahun 1336 H./ 1918 M. Ketika Rusia menerapkan sistem komunis tahun 1342 H./ 1923, kota Bukhara berada di bawah Uni Soviet sampai sistem tersebut tumbang pada tahun 1412 H./ 1991 M. DALAM kekuasaan khilafah Islam, selain Imam Bukhari, kota ini banyak melahirkan ulama dan cendekiawan Muslim kaliber dunia lainnya, seperti Ibnu Sina, Abu Hafs Umar bin Mansyur Al-Bukhara (Al-Bazzar), Hafis Abu Zakaria Abdurrahim, Ibnu Nasir Al-Bukhari, dan Abu Abbas Al-Magsisi Al-Hanbali. Di Uzbekistan pula lahir Zhahiruddin Muhammad Babur (1483-1530), tokoh yang berhasil mendirikan Dinasti Mughal atau Mogul (1526-1858), kerajaan Islam paling terkenal sekaligus terakhir di India. Uzbekistan sendiri adalah satu dari sekian negara Asia Tengah yang berpenduduk mayoritas Muslim. Uzbekistan punya julukan sebagai “sebuah mutiara dalam untaian mutiara-mutiara dari timur” (al-jauhar fil jawahirul masyrik). Pasalnya, bersama kawasan yang sekarang bernama Tajikistan, Turkmenistan, Kazakhstan, dan Kirgiztan, Uzbekstan merupakan "hiasan" indah bagi perkembangan sejarah umat dan agama Islam selama berabad-abad. Di Bukhara terdapat Menara Kalyan, berusia 1.000 tahun lebih. Selain berfungsi sebagai tempat mengumandangkan adzan, menara itu merupakan pos jaga dan observatorium. Para ahli astronomi dari seluruh dunia sering menggunakan menara itu untuk mengamati benda-benda langit. Di bawah menara terdapat madrasah "Mir Arab" yang dibangun tahun 1530-1536. Tak jauh dari madrasah itu, berdiri megah masjid "Tagban Bafon" buatan tahun 1600-an. Ada pula mausoleum Ismail Samani, salah seorang raja Dinasti Samaniyah (819-1005), benteng Arkiyah yang mengitari sebagian Kota Bukhara. Khasanah Islam di kota ini lalu diobrak-abrik rezim komunis Soviet. Kota ini dihancurkan secara fisik dan mental. Dari 109 madrasah dan 365 masjid yang tersisa akibat embusan Perang Dunia I (1914-1918), hanya tinggal satu-dua buah pada zaman kekuasaan Uni Soviet (sejak 1922), antara lain madrasah "Mirr Arab", Masjid Imam Bukhari, dan Masjid Kalyan --sekadar membangun citra bahwa rezim komunis mentoleransi kehidupan beragama. Rezim Soviet bahkan memberi nama sebuah jalan protokol di Kota Bukhara dengan "Berzbozhnaya", artinya "Tidak Bertuhan". Bangunan-bangunan kuno kota Bukhara “terlindungi” oleh bangunan benteng yang bernama "Ark". Benteng yang memisahkan Bukhara lama dengan Bukhara moderen yang dibangun masa pemerintahan komunis Sovyet. Imam Bukhari lahir pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Tak lama setelah lahir, ia kehilangan penglihatannya. Ia dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Ayahnya dikenal sebagai orang yang wara' dan merupakan murid dari Imam Malik. Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Bukhari dikenal memiliki daya hapal tinggi, ramah, dermawan, dan banyak menyumbangkan hartanya untuk pendidikan. Wallahu a'lam. (Mel, berbagai sumber).*
|
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




