| Heboh Film "Fitna", Fitnah Terkini bagi Umat Islam |
|
|
| Saturday, 05 April 2008 | |||
|
DURASINYA memang pendek, hanya 15 menit, tapi belum juga diputar dan disebarkan, film ini sudah menuai kontroversi. Yang menjadikan film berjudul Fitna ini istimewa adalah temanya yang berisi penghinaan terhadap Islam, khususnya penistaan terhadap Al-Quran. Produsernya pun tergolong istimewa, yakni seorang politikus! Namanya Geert Wilders, seorang anggota parlemen Belanda dari Partai Kebebasan (Freedom Party). Fitna berisikan hujatan terhadap agama Islam dan Al-Quran. Menurut Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi, Duta Besar Belanda pernah datang menemuinya dan menyampaikan kabar, bahwa di Belanda ada seorang anggota parlemen dari komunitas atheis berencana ingin “membongkar” apa yang mereka sebut “kejahatan-kejahatan Al-Quran”. Hal itu akan divisualkan dan diekpresikan dalam bentuk film. Anggota parlemen itu tak lain adalah Geert Wilders. Menurut Hasyim Muzadi, karena kekhawatiran yang sangat besar dari pemerintah dan Kerajaan Belanda, Wilders dipanggil oleh Perdana Menteri untuk mengurungkan niatnya. “Kelihatan Wilders ini bersikeras, sebab dia mencoba memberikan tawaran kepada televisi Belanda untuk menyiarkan ide-idenya, meski tidak ada satu pun stasiun televisi yang mau, karena pihak stasiun televisi juga berhitung risiko atas penanyangan itu. Tetapi karena dia bersitegang, bisa saja untuk dimasukan ke internet,” paparnya dalam sebuah jumpa pers di Jakarta (13/3). Wilders menjadi sosok “istimewa” belakangan ini karana kegemarannya menjelek-jelekan Al-Quran dan Islam. Sebelum berulah dengan memproduksi film Fitna, ia mengkampanyekan penolakan terhadap Al-Quran dan umat Islam. Ia mendesak agar Al-Quran dilarang di Belanda. "Larang buku (Al-Quran) yang buruk ini, seperti Mein Kampf juga dilarang,” katanya. Mein Kampf adalah buku pemikiran dan ideologi Adolph Hitler. Wilders menuduh Al-Quran sebagai sumber inspirasi atau alasan untuk tindakan kekerasan kalangan “Islam radikal”. Ia menuding Al-Quran mengajarkan umat Islam untuk menghukum atau membunuh orang-orang non-Muslim dan mengajarkan untuk membentuk sebuah negara Islam dengan cara paksa. "Saya muak dengan Islam di Belanda, tidak boleh ada lagi imigran Muslim. Saya juga muak dengan penyembahan Allah dan Muhammad di Belanda, tidak boleh ada lagi masjid," imbuhnya. Kebencian Wilders terhadap keberadaan Islam dan Muslim di Belanda memang sudah lama ia tunjukkan. Awal tahun lalu, ia mengusulkan mosi tidak percaya terhadap dua menteri Muslim, Ahmed Aboutaleb dan Nebahat Albayrak, dan mempertanyakan loyalitas kedua menteri itu pada Belanda. Ia juga menggalang kampanye larangan pembangunan masjid-masjid baru dan melarang masuknya imigran Muslim. Jumlah warga Muslim di Belanda saat ini sekitar satu juta dari 16 juta total jumlah penduduk. Pemerintah Belanda dikabarkan tidak kuasa melarang peredaran Fitna atas nama kebebasan berekspresi. Pemerintah negeri Kincir Angin itu sekadar mendesak dan mengimbau Geert Wilders untuk tidak menayangkan filmnya. PM Belanda Jan Peter Balkenende menyebut film itu hanya akan menyuburkan tindak kekerasan. Di Indonesia, sejumlah “tokoh lintas agama” menyatakan menolak penayangan Fitna, guna menghindari perpecahan antar umat beragama baik skala nasional maupun dunia. Penolakan itu dikemukakan dalam jumpa pers bersama tokoh lintas agama dari KWI dan PGI di Sekretariat PBNU Jakarta, Kamis (13/3). Film Fitna jelas merupakan cermin Islamofobia. Sebagai politisi, Wilders tampaknya sedang mencari popularitas dengan memanfaatkan momentum tingginya Islamofobia di Belanda. Pasalnya, menurut laporan Komisi Anti-Rasisme Eropa ECRI (European against Racism and Intolerance) yang dirilis 13 Februari lalu, sikap Islamofobia di Belanda “meningkat secara dramatis” sejak 2000. Warga Muslim di luar batas proporsional menjadi “target”aparat kepolisian dan mengalami tindak kekerasan serta diskriminasi. Menurut ECRI, penyebab makin meningkatnya sikap Islamofobia di Negeri Kincir Angin itu adalah berbagai peristiwa yang menjadikan warga Muslim sebagai “kambing hitam”, seperti peristiwa 11 September 2001 di AS dan pembunuhan Theo Van Gogh seorang kolomnis dan sutradara film Belanda. Warga Muslim di Belanda yang jumlahnya sekitar satu juta jiwa atau 6% dari total populasi negeri itu, menurut ECRI, mengalami apa yang disebut “stereotype” dan “stigmatisasi”, serta menjadi korban bulan-bulanan politik rasis dan pemberitaan media yang bias tentang umat Islam. Film Fitna benar-benar menjadi fitnah bagi umat Islam, baik dalam pengertian “ujian keimanan”, “gangguan terhadap agama dan kaum Muslim”, maupun “tuduhan tidak benar”. Sikap yang harus dilakukan oleh umat Islam terhadap fitnah apa pun, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran: “Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. …” (QS. Al-Anfal/8:39).
written by Andrio prijaya, October 20, 2009 Sifat mereka emang gitu... udah dari zaman nabi dulu. Biarlah Allah yang membalasnya nanti. kita cukup banyak2 mendekatkan diri kepada Allah. cukup protes dengan tenang. Todak perlu adanya tindak kekerasan. |
|||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




