Advertisement
 
 
Dirikan MTV Islam, Abu Haiba, Pelopori 'Revolusi Baru Media Islam’ Cetak E-mail
Monday, 05 May 2008

MELAWAN dengan proporsional. Mungkin itu prinsip Ahmad Abu Haiba, seorang pemain teater dan produser TV di Mesir. Ia gerah menyaksikan budaya Barat begitu deras menyerang dan membanjiri umat Islam Timur Tengah melalui media televisi (TV). Maka, melalui media itu pula ia berjuang melawannya. Ia mendirikan sebuah channel Musik TV Islam guna mempertahankan identitas agama dan kebudayaan kaum Muslim.

"Media Islam begitu miskin, sama halnya dengan tradisinya. Saya menginginkan media Islam yang baru," ujarnya seperti dilansir Islam Online.net. Pria berusia 39 tahun ini memulai mimpinya beberapa tahun lalu setelah melihat berbagai acara keagamaan gaya lama mulai kehilangan daya tarik karena pengaruh media Barat melalui TV satelit.

Abu Haiba mempelajari teknik mesin sebelum beralih ke media. Produksi pertamanya adalah film komedi situasi berjudul Boys and Girls versi Arab untuk komedi situasi AS yang terkenal, Friends. Setahun kemudian, ia memproduksi program TV bersama dengan rekan lama sekaligus menjadi host-nya, Amru Khaled. Amr Khaled adalah seorang da'i muda kondang di Mesir. Mereka memproduksi talkshow bertajuk "Words From the Heart". Video CD-nya terjual hingga puluhan ribu kopi. Sebuah stasiun satelit di Mesir menawarkan mereka air time untuk empat episode orisinil dan 11 episode yang baru.

Ayah tiga anak ini kini meluncurkan saluran musik pertama bertemakan Islam channel satelit Islam. Channel ini akan menjadi kompetitor MTV di kalangan kaum muda Arab. Acara ini menggambarkan musik dengan irama Arab guna memikat kaum muda Arab dan Muslim ke dalam identitas agama dan kebudayaan mereka sendiri.

Saat ini kaum muda Mesir, yang berusia antara 15-24 tahun dan mewakili 64 persen pemirsa TV, lebih memiliki saluran musik gaya Barat yang jumlahnya mencapai 70 channel. "Saya tidak menyalahkan Barat, tapi ini membangun kebudayaan sendiri dengan bibit sendiri. Saya lebih mengkhawatirkan kebudayaan Barat ketimbang politiknya. Ini mempengaruhi pemikiran dan idealitas kami. Ini bahaya utama yang kami hadapi dalam keyakinan agama, model, peran, dan kebiasaan kami," ujarnya seperti dikutip Los Angles Times (6/4).

CHANNEL TV musik Islam ini akan menyajikan ragam clip nyanyian Islam yang menjadi alternatif bagi masyarakat Arab, menyaingi MTV yang memberikan lagu-lagu Barat. Menurut Abu Haiba, apa yang dilakukannya merupakan bagian dari tanggung jawabnya menghadirkan hiburan yang sesuai secara peradaban dan agama pemirsa TV di kalangan masyarakat Arab.
Ia menolak pesan-pesan sekuler dari dunia Barat. Ia merasa prihatin dengan "Westernisasi" yang melanda sejumlah negara Arab akibat invasi budaya melalui media, khususnya TV. Namun, diakui, sulit untuk menghindari lekatnya budaya Barat di kalangan masyarakat Muslim: bedah plastik menggejala di kalangan bintang pop Libanon; wanita-wanita "independen" muncul film-film Tunisia dan Maroko; wanita berambut pirang tanpa jilbab bermunculan di iklan-iklan shampo. Kapitalisme, liberalisme, materialisme, dan tentu saja sekulerisme kini melanda dunia Arab-Islam. Di sisi lain, anak-anak muda terus disuguhi tayangan musik Barat.

Abu Haiba pernah bekerja sebagai produser di Timur Tengah dan Afrika untuk jaringan berita Jepang. Pekerjaan itu membuatnya mengenal lebih jauh beragam media Barat, utamanya TV. Suatu ketika, saat menonton TV, ia mulai berpikir tentang sebuah hiburan Islami (Islamic entertainment). Ia yakin akan totalitas filosofi Islam yang dipegang Ikhwanul Muslimin bahwa Islam melingkupi semua aspek kehidupan. Ia menentang pemikiran acara TV terbagi dalam dua kategori, religius dan non-religius. Menurutnya, semua acara TV harus religius.

Saat ini acara religi di TV dinilainya menjemukan. Para penceramah di TV, menurut Abu Haiba, tidak pernah berusaha menjadi "bintang TV" (TV Stars). Penceramah hanya duduk di kursi di sebuah mesjid atau ruangan dengan sejumlah audiens di depannya. Kamera pun hanya fokus pada sang penceramah yang sedang berbicara, sesekali men-shoot audiens. Abu Haiba ingin mengubah format acara dakwah seperti agar lebih menarik dan menghibur.

MENURUT Abu Haiba, MTV Islam rintisannya hanyalah tahap terkini dari sebuah revolusi "media Islami baru". Periset Swisss, Patrick Haenni, menyebutnya "Market Islam". "Ketika kita berbicara soal kebangkitan Islam, kita selalu fokus pada kelompok politik terorganisasi yang hendak memperoleh kekuasaan," kata Haenni. "Tetapi fenomena terpenting adalah (munculnya) wirausahawan religius privat (private religious entrepreneurs)," tegasnya seperti dikutip musliminstitute.net.

Target para entreprenuer ini adalah kelas menengah-atas dan fokus pada pencerahan pribadi. Mereka melawan apa yang disebut dekadensi budaya Barat. Tapi mereka hendak mengambil manfaat dari iptek, pendidikan, dan kemajuan Barat, juga menolak kekerasan dan ekstremisme. "Mereka menggunakan semua budaya massa… bicara di internet, talkshow di TV, musik rap Islami di Barat. Budaya massa sama seklali bukan musuh," terangnya. "Inilah pandangan yang lebih membumi tentang Islam," kata sosiolog Madiha Al-Safty. "Mereka berusaha 'mendamaikan' modernitas dengan Islam".

MTV Islam vers Abu Haiba didanai oleh milyuner dari Saudi, Pangeran Al-Walid bin Talal, yang dikenal sebagai anggota keluarga kerajaan yang "lebih liberal". Kalangan aktivis Ikhwanul Muslimin Mesir dikabarkan menyambut baik ide Abu Haiba. Demikian juga Mufti Mesir Ali Gomaa.

Kondisi Mesir dalam hal invasi pemikiran dan budaya Barat melalui media, termasuk "serangan" musik pop, kurang-lebih sama dengan kondisi Indonesia. Lalu, siapa yang akan menajdi "Abu Haiba Indonesia"? Wallahu a'lam. (Mel).*

Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >