Advertisement
 
 
MT Karyawati Telkom: bangkit di Tengah Syiar Shalat Jumat Cetak E-mail
Tuesday, 01 April 2008
Image
alhikmah
BERANGKAT dari suasana yang sederhana bagi orang biasa, Majelis Ta'lim Karyawati Telkom hadir dan bangkit membina para kaum ibu. Kehadirannya tidak menjadi sebuah komunitas religius eksklusif karyawati, tetapi kemudian juga berkembang dan meluas kepada kaum ibu di Kota Bandung.

Awalnya tahun 2001, sekitar sepuluh karyawati Telkom sering kali berkumpul dan berfikir tentang kegiatan selama menunggu Bapak-bapak sedang jum'atan. “Kami berfikir bagaimana jika waktu dua jam selama menunggu laki-laki yang jum'atan, kaum ibu mengadakan kegiatan yang bermanfaat”, kata Astuti Suryani, pembina Majelis Ta'lim Karyawati Telkom ini.

Pada tahun itu kemudian sekitar sepuluh orang karyawati Telkom ini menggagas acara pengajian bagi perempuan. Sebab lumayan waktu dua jam itu sangat bermanfaat jika digunakan untuk acara pengajian, tetapi akan mubadzir jika digunakan kegiatan-kegiatan yang tidak jelas aktivitasnya.

Maka sejak itulah sekitar sepuluh karyawati Telkom mulai mengundang Teh Ninih (Istri Aa Gym) untuk mengisi acara pengajian karyawati Telkom. Sejak saat itu, kemudian aktivitas berlanjut dan menjadi salah satu kegiatan unggulan karyawati setiap hari jum'at. Untuk kalangan internal, biasa ada pengumuman dan E-mail di kalangan internal tentang undangan pengajian tersebut.

Bahkan Astuti pengaku, entah informasi dari mana kemudian forum majelis ta'lim karyawati Telkom kemudian menyebar ke masyarakat. Padahal menurut pengakuannya tidak ada publikasi atau promosi secara khusus. “Dan alhamdulillah kita juga dengan semakin ramenya kegiatakegiatan majelis ta'lim ini sangat didukung oleh pihak Telkomnya sendiri”, katanya.

Dengan semakin berkembangnya acara pengajian majelis ta'lim ini, kemudian pengajian tidak hanya dilakukan di hari jum'at saja, tetapi juga di hari Selasa dan Rabu. Bahkan menurut Tunggul Winarni, sebagai Ketua Majelis Ta'lim Karyawati Telkom ini, pihaknya seringkali mengadakan acara-acara training untuk hal-hal tertentu. “Untuk kristologi kita sudah mengadakan pelatihan selama tiga hari tahun 2003 oleh Ibu Ireneu,' akunya.

Selain itu acara-acara pelatihan yang pernah diikuti adalah ESQ, pelatihan ma'rifatullah oleh KH. Muhtar Adam, asma'ul husna, dan lain-lain. Acara-acara pelatihan ini sebagai salah satu bentuk pendalaman para ibu-ibu majelis ta'lim terhadap sebuah kajian tertentu yang sekiranya memerlukan waktu khusus.

Saat ini, jamaah tetap majelis ta'lim karyawati Telkom sudah melebihi angka 100 orang. Mereka bukan hanya dari karyawati Telkom saja, ada juga para istri karyawan Telkom dan masyarakat umum. Dengan menyebarnya jamaah ke luar karyawati pada awalnya ada persoalan di nama, sebab masing menggunakan majelis ta'lim karyawati Telkom, namun akhirnya dapat diterima oleh semua, sebab menurut Astuti, “apa arti sebuah nama, yang penting kegiatannya bukan namanya”.

Para mubalighah yang biasanya mengisi di majelis ta'lim karyawati Telkom terdiri dari mubalighah yang ada di Bandung (seperti Bu Ines Parines, Bu Faridah, Bu Leni Umar, Teh Ninih, Ceu Empet dan yang lainnya) dan di Jakarta (seperti Bu Ireneu, Lutfiah Sungkar, dan Tuti Alawiyah). Para pengisi ini sifatnya bergiliran.

Sebagai ekses positif dan langsung dapat terlihat adalah terjadinya peningkatan karyawati yang mengenakan jilbab. “Saat ini pengguna jilbab bagi karyawati Telkom bisa mencapai 90 persen”, ujar Winarni. Dan selain itu, majelis ta'lim ini juga memiliki misi yaitu menyeimbangkan antara iman dan ilmu. “Sebab kalau kita punya iman tetapi tidak punya ilmu, akan tuturut muning. Kita punya ilmu tetapi tidak punya iman, akan sombong. Jadi kita ingin kedua-duanya seimbang,” harap Astuti.

Kini kegiatan majelis ta'lim ini tidak hanya terbatas pada pengajian, tetapi juga kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial seperti bakti sosial, kunjungan ke panti-panti asuhan, silaturahmi dengan majelis ta'lim yang lain dan lain sebagainya.  Kendati tidak pernah memperingati hari berdirinya majelis ta'lim ini, namun setiap Hari Besar Islam selalu mengadakan acara khusus.

Namun, besarnya majelis ta'lim telkom, bukan tanpa hambatan. Baik Astuti maupun Winarni mengaku kalau sebenarnya majelis ta'limnya itu lebih besar dari itu. Hanya saja keduanya mengaku kalau peleihahraannya memang sangat berat sekali. Sebab menurutnya pemeliharaan lebih berat dari pada mendirikan.

Bahkan menurutnya, kendala yang cukup klasik seperti dana, juga menjadi kendala dalam perkembangan majelis ta'lim ini. Memang katanya dari perusahaan (Telkom) sendiri ada dana rutin, tetapi sangat terbatas sekali. Sehingga kalau ada acara-acara khusus, kita selalu udunan antar jamaah. Walaupun akunya, selalu meminta kepada jamaah juga bukan jalan yang terbaik. “Cuma kita selalu bersyukur saja, setiap kita butuh kita selalu ada jalan keluarnya,” pungkas Astuti.

(Roni/Alhikmah)

Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >