Advertisement
 
 
Abdullah Azzam: Mujahid Inspirator Mujahidin Cetak E-mail
Monday, 01 December 2008
Image
tamanulama.blogspot.com
SENIN, 24 November 2008 lalu, umat Islam dunia, khususnya Muslim Afghanistan, memperingati gugurnya salah satu pahlawan mereka, Asy-Syahid Syekh Dr. Abdullah Yusuf Azzam (1941-1989). Pada tanggal itulah, 18 tahun lalu, Syekh Azzam gugur di Peshawar, Pakistan.

Syekh Azzam adalah sosok pemersatu para pejuang (mujahidin) Aghanistan.  Saat itu, mereka menghadapi pasukan agresor komunis Uni  Soviet. Selama lebih dari sepuluh tahun (1979-1989),  perang Afghanistan melahirkan ribuan Mujahidin. Selain syuhada yang berlaga dan gugur di medan  jihad, ada  juga syuhada yang berkiprah di bidang lain untuk menunjang kekuatan jihad. Tapi ada juga yang merengkuh keduanya sekaligus, utamanya Syekh Abdullah Azzam.

Ia lahir di Saiatul Haritsiyah, sebuah desa di  Palestina, tahun 1941. Karena kegigihannya membela jihad Afghan dan lontaran  buah pikirannya yang merangsang semangat jihad kaum Muslimin di  seluruh  penjuru bumi, Abdullah Azzam menjadi incaran musuh-musuh Islam.

 Sebelum  mewakafkan jiwa-raganya demi kepentingan perjuangan kaum Muslimin Afghanistan khususnya,  Abdullah Azzam membuat risih para penguasa negara-negara Arab yang berpandangan tradisional-materialistik.  Tahun 1980, ia pernah diusir pemerintah Yordania  karena aktivitas  ke-Islamannya dianggap ”mengganggu stabilitas monarki” dan keterlibatannya dalam aksi-aksi pejuang Palestina terhadap pendudukan Israel.

Kapasitas keilmuan Abdullah Azzam termasuk luar biasa:  hapal Al-Quran,  hadits-hadist Rasulullah, dan karya-karya sastra  Arab klasik,  sejak masa kanak-kanak. Menempuh pendidikan jarak  jauh (intisab)  di  Fakultas Syari'ah  Universitas  Damaskus,  Suriah, tahun  1966,  hingga mencapai gelar sarjana, dan  mencapai  gelat Master tahun 1969. Tahun 1973 melanjutkan ke Universitas Al-Azhar Mesir  dan  memperoleh  gelar Doktor di bidang  ilmu  Ushul  Fiqh beberapa  tahun  kemudian dengan predikat  cum  laude  (Asyaroful Ula). Sempat mengajar di Universitas King Abdul Aziz, Arab Saudi.

Tahun  1982,  setelah hampir tiga tahun  mengumpulkan  banyak informasi  tentang  jihad Afghanistan, Abdullah Azzam  hijrah  ke Pakistan, karena ingin berkonsentrasi dan terjun  langsung  pada jihad  Afghan.  Di sana, sebagai mustasyar  (penasihat)  Rabithah Alam  Islami  dalam  bidang pendidikan untuk  Mujahidin  Afghan, beliau  menjalin kontak langsung dengan para pemimpin  Mujahidin seperti Gulbuddin Hekmatiyar, Burhanuddin Rabbani, Yunus Khalis.

Membuat  konsep-konsep  strategi  perjuangan,  ceramah,  berfatwa tentang  urusan  jihad, dan menulis buku.  Di  samping  kesibukan intelektual  di  Peshawar, beliau sekali-sekali terjun  ke  medan pertempuran di berbagai wilayah Afghan, sehingga banyak  mengenal (dan  dikenal luas) para Mujahidin berserta segala  problematika nya. Melihat kiprahnya itu, Abdullah Azzam benar-benar  merupakan figur yang mampu melaksanakan apa yang dikatakannya.

Buku-buku  yang  telah  ditulis Abdullah  Azzam  antara  lain Ayaturrahman Fi Jihadil Afghan yang telah diterjemahkan ke  dalam bahasa  Indonesia menjadi Keajaiban di Medan  Perang  Afghanistan (1985),  Addifak an Aradhil Muslimin min Ahammi Furdul 'iyan,  Fi at  Tarbiyahul Jihadiyah wa Bina serta sekitar 50  judul  ceramah yang menyangkut berbagai topik jihad dan pendidikan.
Menurut Azzam, dalam sebuah pidatonya di depan  mujahidin, jihad dan dakwah perlu pengorbanan. Surga hanya bagi mereka yang siap berkorban. ”Darah, tubuh, tulang belulang, nyawa, dan syuhada adalah api yang menyalakan pertempuran., api yang menyalakan peperangan ideologi, api yang menyalakan perang pemikiran. Tidak ada surga bagi orang yang tidak mau berkorban dan menyumbangkan sesuatu,” katanya.

Dakwah, tegasnya, tidak akan mencapai kemenangan dan keberhasilan jika dakwah tersebut tidak diiringi pengorbanan. Jalan dakwah itu dikelilingi oleh "makaruh" (hal-hal yang tidak disukai), penuh dengan bahaya, dipenjara, dibunuh, diusir dan dibuang. Barangsiapa ingin memegang suatu prinsip atau menyampaikan dakwah, maka hendaklah itu semua sudah ada dalam perhitungannya.

”Barangsiapa menginginkan dakwah tersebut hanyalah merupakan tamasya yang menyenangkan, kata-kata yang baik, pesta yang besar dan khutbah yagn terang dalam kalimat-kalimatnya, maka hendaklah dia menelaah kembali dokumen kehidupan para rasul dan para da`i yang menjadi pengikut mereka, sejak dien ini datang pertama kalinya sampai sekarang ini,” paparnya.
Menurut DR. Dahba Zahely, seorang cendekiawan Muslim Malaysia, ratusan tulisan dan pidato Syekh Azzam mampu menghidupkan ruh baru dalam diri umat. “Seolah-olah beliau dipilih Allah SWT untuk menegakkan kembali kewajiban yang telah dilupakan sebagian besar umat Islam, yaitu jihad."

Di Peshawar, Syekh Azzam mendirikan Baitul Anshar, sebuah lembaga yang menghimpun bantuan untuk para mujahid Afghan. Ia juga menerbitkan sebuah media Ummah Islam. Lewat majalah itu ia menggedor kesadaran umat tentang jihad. Katanya, jihad di Afghan adalah tuntutan Islam dan menjadi tanggung jawab umat Islam di seluruh dunia. Seruannya itu tidak sia-sia. Jihad di Afghan berubah menjadi “jihad universal” yang diikuti oleh seluruh umat Islam di pelosok dunia. Pemuda-pemuda Islam dari seluruh dunia yang terpanggil oleh fatwa-fatwanya, bergabung dengan para mujahidin Afghan.

Ia memegang prinsip, hidup adalah jihad. "Aku rasa seperti baru berusia sembilan tahun, tujuh setengah tahun jihad di Afghan, satu setengah tahun jihad di Palestina, dan tahun-tahun yang selebihnya tidak bernilai apa-apa," katanya pada suatu ketika.
Beberapa kali Syekh Azzam menerima cobaan pembunuhan. Sampai akhirnya ia dibunuh pada Jum'at, 24 November 1989. Tiga buah bom yang sengaja dipasang di gang yang biasa di lewatinya, meledak ketika ia memarkir kendaraan untuk shalat Jum'at di Peshawar, Pakistan. Ia bersama dua orang anak lelakinya, Muhammad dan Ibrahim, meninggal seketika.

(Mel, berbagai sumber)

Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >