| Abdullah Azzam: Mujahid Inspirator Mujahidin |
|
|
| Monday, 01 December 2008 | |
![]() tamanulama.blogspot.com Syekh Azzam adalah sosok pemersatu para pejuang (mujahidin) Aghanistan. Saat itu, mereka menghadapi pasukan agresor komunis Uni Soviet. Selama lebih dari sepuluh tahun (1979-1989), perang Afghanistan melahirkan ribuan Mujahidin. Selain syuhada yang berlaga dan gugur di medan jihad, ada juga syuhada yang berkiprah di bidang lain untuk menunjang kekuatan jihad. Tapi ada juga yang merengkuh keduanya sekaligus, utamanya Syekh Abdullah Azzam. Ia lahir di Saiatul Haritsiyah, sebuah desa di Palestina, tahun 1941. Karena kegigihannya membela jihad Afghan dan lontaran buah pikirannya yang merangsang semangat jihad kaum Muslimin di seluruh penjuru bumi, Abdullah Azzam menjadi incaran musuh-musuh Islam. Sebelum mewakafkan jiwa-raganya demi kepentingan perjuangan kaum Muslimin Afghanistan khususnya, Abdullah Azzam membuat risih para penguasa negara-negara Arab yang berpandangan tradisional-materialistik. Tahun 1980, ia pernah diusir pemerintah Yordania karena aktivitas ke-Islamannya dianggap ”mengganggu stabilitas monarki” dan keterlibatannya dalam aksi-aksi pejuang Palestina terhadap pendudukan Israel. Kapasitas keilmuan Abdullah Azzam termasuk luar biasa: hapal Al-Quran, hadits-hadist Rasulullah, dan karya-karya sastra Arab klasik, sejak masa kanak-kanak. Menempuh pendidikan jarak jauh (intisab) di Fakultas Syari'ah Universitas Damaskus, Suriah, tahun 1966, hingga mencapai gelar sarjana, dan mencapai gelat Master tahun 1969. Tahun 1973 melanjutkan ke Universitas Al-Azhar Mesir dan memperoleh gelar Doktor di bidang ilmu Ushul Fiqh beberapa tahun kemudian dengan predikat cum laude (Asyaroful Ula). Sempat mengajar di Universitas King Abdul Aziz, Arab Saudi. Tahun 1982, setelah hampir tiga tahun mengumpulkan banyak informasi tentang jihad Afghanistan, Abdullah Azzam hijrah ke Pakistan, karena ingin berkonsentrasi dan terjun langsung pada jihad Afghan. Di sana, sebagai mustasyar (penasihat) Rabithah Alam Islami dalam bidang pendidikan untuk Mujahidin Afghan, beliau menjalin kontak langsung dengan para pemimpin Mujahidin seperti Gulbuddin Hekmatiyar, Burhanuddin Rabbani, Yunus Khalis. Membuat konsep-konsep strategi perjuangan, ceramah, berfatwa tentang urusan jihad, dan menulis buku. Di samping kesibukan intelektual di Peshawar, beliau sekali-sekali terjun ke medan pertempuran di berbagai wilayah Afghan, sehingga banyak mengenal (dan dikenal luas) para Mujahidin berserta segala problematika nya. Melihat kiprahnya itu, Abdullah Azzam benar-benar merupakan figur yang mampu melaksanakan apa yang dikatakannya. Buku-buku yang telah ditulis Abdullah Azzam antara lain Ayaturrahman Fi Jihadil Afghan yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Keajaiban di Medan Perang Afghanistan (1985), Addifak an Aradhil Muslimin min Ahammi Furdul 'iyan, Fi at Tarbiyahul Jihadiyah wa Bina serta sekitar 50 judul ceramah yang menyangkut berbagai topik jihad dan pendidikan. Dakwah, tegasnya, tidak akan mencapai kemenangan dan keberhasilan jika dakwah tersebut tidak diiringi pengorbanan. Jalan dakwah itu dikelilingi oleh "makaruh" (hal-hal yang tidak disukai), penuh dengan bahaya, dipenjara, dibunuh, diusir dan dibuang. Barangsiapa ingin memegang suatu prinsip atau menyampaikan dakwah, maka hendaklah itu semua sudah ada dalam perhitungannya. ”Barangsiapa menginginkan dakwah tersebut hanyalah merupakan tamasya yang menyenangkan, kata-kata yang baik, pesta yang besar dan khutbah yagn terang dalam kalimat-kalimatnya, maka hendaklah dia menelaah kembali dokumen kehidupan para rasul dan para da`i yang menjadi pengikut mereka, sejak dien ini datang pertama kalinya sampai sekarang ini,” paparnya. Di Peshawar, Syekh Azzam mendirikan Baitul Anshar, sebuah lembaga yang menghimpun bantuan untuk para mujahid Afghan. Ia juga menerbitkan sebuah media Ummah Islam. Lewat majalah itu ia menggedor kesadaran umat tentang jihad. Katanya, jihad di Afghan adalah tuntutan Islam dan menjadi tanggung jawab umat Islam di seluruh dunia. Seruannya itu tidak sia-sia. Jihad di Afghan berubah menjadi “jihad universal” yang diikuti oleh seluruh umat Islam di pelosok dunia. Pemuda-pemuda Islam dari seluruh dunia yang terpanggil oleh fatwa-fatwanya, bergabung dengan para mujahidin Afghan. Ia memegang prinsip, hidup adalah jihad. "Aku rasa seperti baru berusia sembilan tahun, tujuh setengah tahun jihad di Afghan, satu setengah tahun jihad di Palestina, dan tahun-tahun yang selebihnya tidak bernilai apa-apa," katanya pada suatu ketika. (Mel, berbagai sumber) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





