| Ir. H. Deni Muttaqin, MBA, M.Sc: Hikmah Dari Sebuah Kegagalan |
|
|
| Monday, 01 June 2009 | |
|
"Sebagai manusia tentu saja kita harus punya orientasi atau visi misi yang berlandaskan agama dan nilai-nilai spiritual." Itulah konsepsi hidup, sekaligus kalimat pertama yang terlontar dari seorang Deni Muttaqin, Pemilik sekaligus General Manager Alifa Moslem shopping Center, saat ditemui Alhikmah beberapa waktu lalu di ruang kerjanya di Alifa, Jl. BKR Lingkar Selatan No. 63 Bandung. Manusia, lanjutnya, bukan hanya mengurus kulit atau daging (fisik) semata tapi juga jiwa (rohani). Deni pun menerapkannya dalam konsep bisnis. “Dalam bisnis juga sama, tidak lepas dari landasan spiritual. Artinya tidak hanya mengejar materi semata,” tutur pemegang 2 gelar Master (S2) dari Lyon, Perancis, dan University of Geneva, Swiss ini. Pun tidak lepas dengan Alifa, usaha yang saat ini ia kelola. Di Alifa jika ditilik dari sisi fungsi ruang, terdapat 2 klasifikasi. Pertama utuk kegiatan ekonomi, yang terdiri dari swalayan, dan bookstore. Kedua, tepatnya di lantai ketiga gedung, digunakan untuk kegiatan sosial, agama, dan kegiatan bernuansa dakwah. “Jadi ketika diterjemahkan visi dan misi kami, tidak hanya mengejar materi tapi juga ada orientasi ke akhirat,” papar Deni. Perjalanan hidup seorang Deni Muttaqin, tentu sudah melalui proses yang lumayan panjang. “Baik dan buruk sudah sama bagi saya,” katanya. Menurut pria berusia 37 tahun ini, setiap kejadian dalam hidup adalah hal yang wajar, dan itulah peristiwa-peristiwa yang harus dilalui. Namun, tambah Deni, manusia kerap menilai baik buruk berdasarkan ego masing-masing. Deni mencontohkan, “Oleh orang lain, bencana dianggap buruk dan kesehatan adalah kebaikan. Padahal itu adalah peristiwa yang sama tergantung bagaimana kita memaknainya,” terang Deni. Deni yakin betul, saat ujian datang, pasti ada hikmah yang membuat manusia semakin dekat kepada Allah. “Dalam agama Islam, dijelaskan dalam Alquran, bahwa dibalik kesusahan pasti ada kemudahan. Itu pasti,” tegasnya, mantap. Deni menegaskan, “Allah adalah Dzat yang Maha Suci, dan tidak mungkin menganiaya hambanya. “Dulu saya sempat mengalami stress. Saat itu, saya mencoba mengupayakan A tapi gagal saya raih. Namun kemudian, ada jalan lain. saya malah dapat C, sesuatu yang lebih dari yang saya harapkan,” kenangnya. Maka pantas, menurut alumnus S-1 Universitas Jayabaya, Jakarta ini, jika Allah melalui para Rasul-Nya memerintahkan manusia untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diperoleh. “Mungkin salah satu peristiwa yang membuat saya kecewa adalah tidak berhasilnya menjalankan bisnis/usaha keluarga pada waktu itu,” terang Deni. Bisnis keluarga ini bukan berarti bisnis amatir. “Dulu sebelum konsep Alifa, namanya Mamiku. Toko keluarga dengan konsep kafe swalayan dan arena bermain. Namun, karena belum tersosialisasi dengan baik juga minim dukungan keluarga karena kesibukan masing-masing, akhirnya kandas sekitar tahun 2001,” kenang Deni. Hikmahnya, ternyata Allah memberikan konsep yang lebih baik, dengan berdirinya Alifa Moslem Shoping Center, medio September 2003 lalu. Deni berkeyakinan, dengan konsep baru, yaitu sambil bekerja dan beribadah dalam satu waktu sebagai bentuk rasa syukur, peluang untuk berkembang cukup terbuka. Hal ini juga menurut Deni merupakan amanat manajemen dari pihak keluarga. “Hasilnya, terdesainlah ruangan yang dirasa cukup representatif. Ruangan bawah untuk profit oriented atau bisnis, sedangkan ruangan atas untuk akhirat oriented,” ujarnya, sembari tersenyum. Salah satu wujud konkrit akhirat oriented yang dikemukakan Deni sebelumnya, Alifa pun bersinergi dengan Dompet Dhuafa Bandung, salah satu lembaga zakat jejaring Dompet Dhuafa Republika, Jakarta. Bentuk sinergi, tambah Deni, adalah dengan memfasilitasi penyediaan kantor kas layanan Ziswaf (Zakat, Infak Sedekah dan Wakaf) khusus untuk para pengunjung Alifa. Ke depan, Deni berharap, tidak hanya tersedia kantor kas yang berlaku hanya untuk layanan Ziswaf. Tapi juga membantu masyarakat dalam bentuk konsultasi ihwal ragam problematika kehidupan yang kerap dihadapi. Secara pribadi dan lembaga, Deni berharap bisa memberikan kontribusi positif kepada keluarga, lingkungan, dan masyarakat, sehingga membuat keberhasilan dan kesuksesan secara kolektif. “Kita bisa menghasilkan sesuatu yang tidak dilihat orang lain hanya prestise saja. Artinya harus menjadi orang yang lebih dekat dan sama-sama dalam kebaikan, mengusung konsep visi misi hidup dengan nilai agama,” ungkapnya menutup pembicaraan. (Dedy Ahmad Sholeh/Alhikmah) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




