| Kerikil Rumah Tangga |
|
|
| Wednesday, 01 July 2009 | |
|
Namanya Fatimah. Biasa juga dipanggil Ibu Fat. Dia adalah seorang ibu dengan dua orang anak dari pernikahan dengan suaminya, seorang pengusaha sukses. Suatu ketika, Ibu Fat datang menemui seorang ustadz untuk meminta pendapat. Setelah sejenak berbincang, Ibu Fat pun memulai membuka masalah yang tengah dihadapinya pada beberapa tahun terakhir kehidupan rumah tangganya. Awalnya masih setengah ragu untuk mengungkapkan perasaan yang semakin menghimpit napasnya setiap hari. Meski akhirnya Fatimah pun pada akhirnya mau bersikap terbuka. "Ustadz", ia memulai dengan suara yang agak terbata-bata, "Saya ingin menjadi istri solihah, paling tidak buat suami saya. "Lalu ia terdiam sejenak sebelum sampai pada inti masalah yang dirasakannya begitu berat. "Saya tahu kalau suami saya punya istri lagi", lanjutnya sambil menarik napas panjang. "Tapi selama ini saya berusaha pura-pura tidak tahu. Saya juga setuju kalau suami saya beristri lagi. Saya tulus, ikhlas. Toh dia telah memilih jalan yang benar. Dari pada selingkuh melalui jalur yang tidak sah. Suami saya juga tidak pernah mengurangi perhatian dan nafkah pada saya. Bahkan setiap malam ia selalu berada bersama saya dan anak-anak saya." "Lalu kenapa?", tanya ustadz itu sambil mulai memberikan mutiara hikmah tentang bagaimana istri-istri Nabi memperlakukan Nabi Saw sebagai suami mereka. Ustadz masih belum menangkap masalah utama yang hendak dikonsultasikan dengannya. Tapi ia tetap setia mengikuti paparan Ibu Fat sambil sesekali memberi keyakinan kalau setiap orang pasti memiliki masalahnya sendiri-sendiri. "Belakangan saya merasa berdosa", lanjutnya lagi sambil pelan-pelan memotong penjelasan ustadz yang mulai memasuki inti persoalan yang dibawanya. "Saya merasa berdosa, karena saya telah membiarkan suami saya untuk berbuat tidak adil. Menurut saya, dia telah berbuat dzalim pada istri keduanya. Dia hanya sebentar saja bersama istri mudanya, dan itu pun hanya siang hari di sela-sela kesibukan pekerjaan yang dihadapinya. Sementara di rumah saya, ia tetap hadir setiap malam kecuali jika ada urusan ke luar kota lebih dari satu hari". Agak panjang ibu itu menarik napas. Lalu bertanya, sekaligus menutup pembicaraannya sambil menanti jawaban ustadz: "Jadi, apakah saya ini berdosa?" Jawabannya tentu sederhana, meskipun bagi kebanyakan orang akan menjadi beban yang sulit dipecahkan. Ustadz itu memang bijak. Hampir setiap kata dan kalimatnya selalu mengandung hikmah. Mungkin, baginya, jawaban atas inti persoalan itu juga tidak terlalu penting. Toh penanya sendiri sebetulnya sudah tahu apa jawaban yang sesungguhnya. Mungkin dia hanya ingin penegasan dari orang yang dipandangnya lebih mengerti soal agama. Ini kisah nyata, meski bagi sebagian orang kisah seperti itu sulit dipercaya. Tapi, kisah aneh seperti ini ternyata tidak sedikit terjadi. Saya tahu banyak kisah aneh seperti ini setelah membaca dua buah buku karya Pak Miftah Faridl, Rumahku Surgaku (2005) dan Tak Goyah Diterpa Badai (2006). Buku pertama mengungkap berbagai masalah nyata di seputar romantika dan solusi rumah tangga, sementara buku kedua lebih menitikberatkan pada berbagai gejolak yang biasa muncul dalam rumah tangga. Dalam kedua bukunya ini tampak Pak Miftah seperti tengah berusaha menemukan jalan keluar atas berbagai masalah yang sering muncul di luar dugaan tapi begitu akrab menggoda keluarga. Sejauh yang saya ketahui, Pak Miftah memang sering memberikan layanan bimbingan keluarga sakinah. Banyak orang yang datang menemui beliau, hanya untuk meminta solusi tentang problem yang tengah mengguncang keluarganya, khususnya berkaitan dengan kehidupan suami-istri. Di antara problem yang sering muncul, menurut Pak Miftah, adalah godaan perselingkuhan, termasuk solusi pintas poligami. Atas problem seperti itu, tidak sedikit yang berujung perceraian. Perselingkuhan dan jalan pintas poligami memang bukan fenomena baru dalam kehidupan. ”Korbannya” pun meliputi hampir semua lapisan sosial. Bukan saja lapisan yang memiliki fasilitas seperti para pengusaha dan pejabat negara baik eksekutif maupun legislatif, tapi juga kalangan yang hanya berpenghasilan pas-pasan. Solusinya menjadi sangat kompleks. Ia bukan semata-mata problem ajaran, tapi juga menyentuh problem sosial yang melekat pada lingkaran kehidupan. Untuk mampu menemukan solusi atas berbagai masalah yang sering menimpa pasangan suami-istri, termasuk godaan perselingkuhan, selain menguasai norma agama, butuh kemampuan membaca fakta. Menguasai dalil-dalil Alquran atau petunjuk sunnah nabi saja secara tekstual memang tidak cukup. Tindakan preventif dengan hanya memberikan pemahaman ajaran seringkali menemukan jalan buntu. Ia juga butuh penciptaan lingkungan yang memungkinkan seseorang dapat mengendalikan dirinya sendiri. Pesan-pesan moral tentang sakinah, mawaddah, dan rahmah, perlu diturunkan ke dalam konsep-konsep operasional yang lebih membumi. Keputusan untuk melakukan perselingkuhan ataupun poligami, memang bukan hanya persoalan pertimbangan rasional ataupun norma ajaran, tapi juga menyangkut peluang. Konon, perdebatan antara Soekarno dan Mohammad Natsir di seputar poligami, sama sekali tidak berkorelasi secara signifikan dengan perilaku yang diperankannya. Soekarno sebetulnya tidak setuju poligami, tapi ia mengamalkannya hingga tercatat pernah mengawini beberapa istri yang disukainya. Sebaliknya, dengan beberapa argumen yang bersumber pada ajaran agama, Natsir menyetujui poligami. Anehnya, Natsir sendiri tidak mengamalkannya. Memang, pada tataran pengamalan, kadang poligami itu tidak rasional. Dalam kasus perdebatan antara Soekarno dan Natsir seperti disebutkan di atas, poligami ternyata bukan hanya menyangkut soal setuju atau tidak setuju. Bukan pula soal kesahihan justifikasi ajaran. Tapi juga mungkin menyangkut soal kepatutan, keberanian, kecerdasan, dan fasilitas sosial lainnya yang dapat mendukung keputusan berpoligami. Dari beberapa kasus yang sempat teramati, poligami sering dijadikan solusi pintas untuk menghindari perselingkuhan yang memang dilarang ajaran, khususnya di kalangan lapisan yang kuat memelihara ajaran. Tapi, ya, namanya juga ”solusi pintas”, tetap saja beresiko. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




