| Buah Kegelisahan Kang Badri |
|
|
| Wednesday, 01 July 2009 | |
|
Khasiat madu tidak lagi diragukan semua orang. Semua sepakat madu memiliki kandungan yang menyehatkan dan dapat mengobati beragam penyakit. Namun bagaimana dengan berbekam (hijamah) dan pembakaran dengan besi panas (kay)? Nampaknya tidak banyak orang mengenal kedua istilah pengobatan ini. Kalaupun ada yang mengenal, sebagian orang masih akan berpikir dua kali untuk mencobanya, atau bahkan meragukan keberhasilannya dalam mengobati penyakit. Pada Mulanya Ia pun menanyakan apa sebetulnya yang dimaksud dengan bekam. Setelah dijelaskan metode pengobatannya oleh ustadz yang bukan praktisi kesehatan itu, kang Badri malah berasumsi bahwa metode bekam sangat mengerikan. Kalau orang sakit sudah tidak teratasi lagi dengan pengobatan medis formal, akhirnya beralih ke pengobatan mistik ‘Islami’ yang persyaratannya justru dipertanyakan, seperti harus menyembelih ayam hitam, mandi dengan air tujuh sumur, bunga tujuh warna, belum lagi menggunakan lafadz Alquran. “Apa Islam tidak punya solusi kesehatan?" Kenang kang Badri saat itu. Kegelisahan kang Badri mulai menemukan titik terang, saat ia menemukan kitab berjudul At-Tibbun Nabawi (Pengobatan Nabi) karya Ibn Qayyim al Jauziyyah dan Imam as Suyuti. Kedua ulama ini menurut kang Badri, selain ahli hadist, ahli tafsir, juga sebagai tabib yang bisa mengobati masyarakat waktu itu. Ia pun tertarik dan lalu mendalaminya. Tekad kang Badri Sejak itu, kang Badri bertekad bahwa suatu saat harus ada institusi kesehatan yang menjadi solusi bagi umat Islam. Institusi kesehatan yang bukan saja menjunjung syariat, tapi juga benar-benar menggunakan sunnah nabi yang kala itu masih dipertanyakan oleh Badri, seperti bekam, kay dan rukyah. “Rasul yang bukan ahli pengobatan tapi berani mengatakan bahwa bekam adalah pengobatan terbaik. Kalau ini tidak berkhasiat rontoklah kenabian beliau,” Ungkapnya. Setahun kemudian, Juni 2000, kang Badri mendirikan klinik kesehatan di rumahnya sendiri Jl. Suci 137 Bandung. Klinik kesehatan ini ia beri nama “Darun Hijamah Yasyfi”. Darun artinya tempat. Hijamah artinya berbekam sedangkan Yasyfi diambil dari surat Asy-Syu’ara ayat 80 “Apabila aku sakit Allah yang menyembuhkanku.” Kang Badri tak putus harapan. Dengan dibantu istri tercintanya satu persatu ia menjelaskan keistimewaan hijamah kepada klien yang datang berkunjung, pun masyarakat sekitar. Memurnikan Rukyah “Kenapa saya bawa bekam yang muncul rukyah yang aneh-aneh,” gumam kang Badri setelah melihat ada ketidakseimbangan antara penjelasan tentang jin yang digambarkan media saat itu, dengan apa yang dipahami para ustadz yang berpegang pada Alquran dan sunnah. Tantangan ini tidak menyurutkan Badri untuk terus mengembangkan idenya. Umat Islam saat itu telah menganggap bahwa pengobatan Islam adalah pengobatan yang hanya berkutat pada masalah jin, kesurupan, jodoh, karir dan lain sebagainya. “Sebagai santri saya harus mengembalikan nilai rukyah kepada khittah-nya,” tekad kang Badri kala itu. Inisiatif cemerlang kang Badri dengan mengganti nama kliniknya menjadi Bandung Rukyah Centre, membuahkan hasil. Masyarakat yang telah terpengaruh oleh tayangan rukyah di televisi, mulai tertarik datang ke klinik BRC. Tiga tahun berlalu kliniknya sudah merambah jauh di luar kota Bandung. Ia pun berinisiatif merubah nama kliniknya menjadi Bekam Rukyah Centre. Hingga saat ini BRC telah memiliki 21 Cabang dengan 10.000 pasien perbulannya, dua diantaranya di Malaysia dan Singapura. “Cita-cita saya tahun 2009 ini ada 111 klinik,” ungkapnya. Tak berhenti sampai di situ, kang Badri bahkan berazam, tahun 2015 yang akan datang, ia berencana mendirikan Hospital Syariah. Luar biasa. (MUHAMMAD YASIN)
|
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




“Kesembuhan itu bisa ditempuh dengan tiga hal: berbekam, minum madu dan dibakar dengan besi panas. Tetapi aku melarang umatku menggunakan pembakaran dengan besi panas" (HR Bukhari).
