| MT Permana 36: Dari Rocker untuk Perubahan |
|
|
| Wednesday, 01 July 2009 | |
|
Unik. Diantara mereka ada yang berpenampilan gaul, funky, dengan rambut gondrong dan anting bergelantung di daun indera pendengarannya. Tapi, ada pula yang berpenampilan rapi, berkalung sorban, berpenutup kepala kopiah, lengkap dengan baju koko membalut badan. Suasana kontras berubah cair, layaknya kolega lama yang tak bersua, penuh canda tawa. Malang bagi Riki. Setiap kali hendak naik pesawat, badannya menggigil dan berkeringat, seperti orang ketakutan. Kematian seakan berdiri tepat di depan matanya, saat ia kemudian duduk di bangku pesawat. Merespon pertanyaan itu, pertengahan 2004, Riki diperkenalkan oleh rekannya, Daeng dan Dani, kepada ustadz Aang Umansyah, seorang alumnus Ponpes Darussalam, Taskmalaya. Ia kemudian meminta sang Ustadz mengajarkan cara membaca Alquran pada anak dan istrinya. Sebagai seorang juru dakwah, Ustazd Aang senang saja menerima permintaan tersebut. Namun, betapa terkejutnya dia (ustadz_red), setelah mengetahui ternyata rumah Riki itu sarang para musisi, fans Jamrud dan anak-anak band lain. Mereka saban malam biasa bermain gapleh, bilyard, mabuk dan aktivitas serupa hura-hura, seperti citra kebanyakan pemain band. Meski begitu, Ustadz Aang berusaha tetap tegar. Agar kehadirannya tidak mengagetkan teman-teman Riki, ia dengan sabar mencoba beradaptasi dan bergabung. “Saya ngajar ngaji, dan saya juga belajar bilyard,” ungkap Ustadz Aang kepada Alhikmah, mengenang suasana lima tahun lalu di kediaman Riki. Perubahan Positif Suami dari Maren Lini ini kemudian memutuskan untuk shalat, meski dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. “Saya shalat di kamar pakaian yang sebelumnya saya kunci. Malu, dong, rocker masa shalat,” kenang ayah empat anak ini. Bahkan kepada teman-teman dekatnya, Riki dengan terang-terangan mengajak mereka untuk mempelajari Islam. “Ayolah kita ngaji. Kalau dulu ngajak ngga bener, Sekarang coba ngajak bener,” tutur ayah dari Viosy, Vabia, Valdisa dan Valdinan ini. Awal 2005 menjadi titik tolak lahirnya majelis taklim ini. Setelah mengajak teman-temannya, Riki beserta keluarga dekat memutuskan untuk sama-sama belajar Islam kepada Ustadz Aang. Dipilihlah malam Senin, malam Kamis serta malam Sabtu sebagai jadwal rutin pengajian. Seiring waktu berjalan, satu persatu teman Riki mulai berguguran. Alasannya beragam. Ada yang karena kesibukan, ada pula yang menolak ikut mengaji. Namun tak sedikit yang tetap konsisten mendalami Islam. Jelang Ramadhan 1425 H (2005), Riki beserta teman-temannya berinisiatif mengadakan shalat tarawih. Maka diundanglah masyarakat sekitar untuk shalat tarawih bersama yang diadakan di rumah Riki. Setiap kali usai melaksanakan shalat tarawih, Riki bersama jamaah kerap berdiskusi masalah ke-Islaman hingga subuh menjelang. Selain masyarakat sekitar yang ikut nimbrung, ustadz-ustadz lain pun mulai bergabung untuk saling mentransformasikan ilmu yang dimilikinya. Kepergian bulan Ramadhan menyimpan kerinduan yang mendalam untuk terus menjalin silaturahim dan mengkaji ilmu yang telah lama berjalan. Maka untuk mengobati kerinduan itu diadakanlah kajian Islam rutin, setiap Jumat malam. “Saya tidak melihat apapun latar belakangnya. Yang penting Islam, ayo kita sama-sama mengkaji. Saya hanya memfasilitasi, bukan untuk kelompok, golongan atau partai,” ungkap Riki. Kajian ke-Islaman yang disampaikan pun bervariasi, mulai dari ibadah, muamalah, siyasah dan lainnya. Ustadz yang diundang juga beragam; mulai Hari Mukti, mantan rocker yang kini menjadi da’i, Ustazd Dedi Rahman pengisi tetap tausyah di salah satu radio swasta di Bandung, dr. H. Hani Rono Sulityo Sp. OG (K) MM, serta ustadz-ustadz lainnya. MUHAMMAD YASIN
|
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




Jelang Magrhrib di bilangan Permana 36, Citeureup, Cimahi. Sebuah rumah megah dengan pekarangan yang cukup luas, dan gerbang tinggi namun tak terkunci, tampak sepi. Sejam berlalu, selepas adzan Isya, satu persatu pemuda dan jemaah paruh baya berkendaraan motor, pun mobil, mulai berdatangan masuk ke rumah tersebut.