Advertisement
 
 
Tujuh Tahun Dalam Keraguan, Akhirnya Anton Memilih Islam Cetak E-mail
Wednesday, 01 July 2009

Image“Enaknya dipanggil apa Ustadz? Pak Anton, ustadz Anton, atau ustadz Ramdhan Effendi?” Tanya Alhikmah. “Panggil Anton Medan,” jawabnya tegas. Siapa tak kenal Anton Medan? Mantan penjahat kelas kakap yang menjadi dai, setelah cahaya Islam menyentuh kalbunya. Kini, selain berbisnis baligho dan spanduk, Anton mengelola tiga pondok pesantren yang semuanya dilabeli Pondok Pesantren At Taibin. Salah satunya bertempat di Jl. Kampung Sawah Rt 02/08 Kp. Bulak rata, Kelurahan Pondok Rajeg, Cibinong Bogor.

Anton kecil lahir 52 tahun silam, tepatnya 1 Oktober 1957 di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, dengan nama Cina Tan Kok Liong. “Tan itu marga. Kok itu artinya bangsa. Liong adalah kesuksesan,” jelas Anton kepada Alhikmah.

Anton anak ke-2 dari 17 bersaudara. Ia lahir dari pasangan Usman Effendi (Tan Beng Kiat) dan Teti (Si Abo). Menjelang umur 8 tahun, orang tua Anton mendaftarkannya ke Sekolah Rakyat (SR), jenjang pendidikan setingkat SD saat itu. Namun, hanya sekitar 7  bulan Anton kecil bisa bersekolah. Orang tuanya tak sanggup membiayai pendidikan Anton lebih lanjut.

Sejak itu, Anton belajar menjadi tulang punggung keluarga. Modal uang jelas tak ada. Mengandal ijazah pendidikan, ia pun tak punya. Hanya tekad dan kemauan keras yang membuatnya bertahan. Pekerjaan kasar Anton lakoni, demi memenuhi kebutuhan pokok keluarga besarnya.

Di usia 12 tahun, Anton memulai perjalanan panjangnya. Ia keluar dari rumah, merantau, dan mengais rezeki di Terminal Tebing Tinggi. Ia bekerja sebagai calo, mencari penumpang untuk bis-bis yang beroperasi di terminal itu.
Satu hari, Anton berhasil mengisi sebuah bis yang menjadi langganannya dengan banyak penumpang. Tapi Anton heran, dirinya tidak mendapatkan upah. Saat itu yang menggelayut di benaknya adalah bayangan Ibu, kakak, serta adik-adiknya yang masih kecil. Keluarga yang selalu menantikan kiriman uang dari hasil kerja keras Anton.
Anton pun terlibat perang mulut dengan sang sopir bis. Tanpa sadar ia mengambil sebongkah balok dan menghantamkannya ke kepala sang sopir. Ini menjadi awal baginya berurusan langsung dengan pihak berwajib. Anton berkelit, membela diri karena merasa tak bersalah. Anton hanya ingin mendapatkan haknya yang dirampas sang sopir.  

Sebenarnya, Anton muda ingin hidup wajar-wajar saja. Ia tidak ingin melanggar dan berurusan langsung dengan hukum. Namun, kejadian di Terminal Tebing Tinggi berulang. Kali ini di ibu kota Sumatera Utara, Medan. Anton yang beralih profesi sebagai pencuci bis, satu waktu mendapati tempat yang biasa ia jadikan sebagai penyimpanan uang telah sobek.

Ia menduga kejadian ini sengaja dilakukan. Benaknya mulai menerawang. Dugaan jatuh pada orang yang telah ia kenal. Meski demikian, Anton mencoba bersabar, dengan memeringatkan sang pelaku.
Namun, apa yang terjadi? Ia malah dikeroyok hingga babak belur, tanpa seorang temanpun membantu. Padahal orang yang memukulinya sudah dewasa dengan badan tinggi besar.

Anton kalap. Amarahnya memuncak. Diraihnya sebilah sambit parang bergerigi pembelah es, yang berada tak jauh darinya. Tanpa pikir panjang, ia pun membacok orang yang mengambil haknya. Lawan Anton  tersungkur,  tewas seketika.

Akibat insiden itu, dinginnya dinding penjara harus ia rasakan selama kurang lebih 4 tahun. Anton mendekam di penjara Jl. Tiang Listrik, Binjai. Medan, Sumatera Utara. sang Ibunda hanya menjenguknya sekali saja. Padahal saat itu Anton baru berumur 13 tahun. Usia yang masih belia untuk merasakan pengalaman pahit masuk bui.

Setelah bebas Anton pulang kampung. Ia tidak menyangka keluarga yang dulu ia nafkahi menolak kehadirannya. Keluarga Anton malu memiliki anak mantan narapidana. Selang beberapa jam di rumah, Anton memutuskan angkat kaki.

Terusir dari rumah, Anton memulai petualangannya di rimba Ibu Kota, Jakarta. Bermodalkan seribu rupiah, Anton menyeberangi Selat Sunda menggunakan KM Bogowonto.  Tujuan pertama ke Jakarta adalah ingin menemui pamannya yang dianggap bisa membantu kesulitan dia.

Tak disangka, sang paman pun telah mendengar kabar pengalaman pahit yang Anton jalani. Sang paman tidak mau  menerima Anton, untuk kedua kalinya Anton kecewa.

Berkenalan dengan dunia hitam
Kecewa oleh keluarga yang tak mau menerima kehadirannya, Anton membulatkan tekad menjadi penjahat. Anton memulainya dari hal-hal kecil seperti menjambret. Setelah bosan, Anton beralih dan merambah usaha penjualan obat-obat terlarang. Merasa tidak betah, Anton banting stir. Kali ini dunia judi yang ia selami.

Ternyata, di jagad bisnis haram nama Anton malah berkibar. Sejak 1985 hingga 1991, Anton begitu melegenda dalam bisnis terlarang itu. Anton mengatakan, sebenarnya ia hanya ingin hidup wajar. Akan tetapi, keadaan telah memaksa Anton melakukan semua ini. “Saya sebenarnya ingin hidup wajar. Tapi keadaan yang membuat saya seperti itu. Coba saya hidup di zamannya khalifah Umar bin Abdul Aziz, saya pasti gak akan pernah dipenjara,” ucapnya membela.
Anton yang telah menghabiskan 18 tahun 7 bulan hidupnya di penjara ini menambahkan, sebenarnya yang berbuat kejahatan yaitu masyarakat itu sendiri. “Yang mendorong kejahatan itu ya masyarakat itu sendiri. Apakah masyarakat pernah peduli dengan saudaranya yang mengalami kesulitan?” sesal Anton. Dulu, kata dia, banyak rekan-rekannya sesama narapidana yang melakukan tindak kejahatan karena terdorong himpitan hidup.

Menemukan Islam
Anton sejak lahir memeluk Budha. Agama yang telah dianut leluhurnya sejak lama. Anton memiliki perjalanan panjang tentang kisahnya berkenalan dengan Islam. Sebelum memeluk Islam, Anton terlebih dahulu hijrah ke agama Kristen. Di agama Kristen, Ia sempat bertahan 4 tahun.

Kedua agama itu membuat Anton tidak betah. Ia jengah, Budha dan Kristen tidak menghilangkan dahaganya akan pertanyaan tentang Ketuhanan dan implementasinya dalam kehidupan. “Agama yang benar itu logis. Sesuai dengan akal sehat manusia, dan tidak diskriminatif terhadap umatnya,” papar Anton.

Pernah suatu waktu Anton kecil bertanya pada ibunya saat hari raya umat Budha tiba. “Ibu, mengapa kita tidak merayakan di Klenteng?” Tanya Anton polos. Sang Ibu kemudian menjawab,”Jangan, Ibu malu dengan keadaan (miskin_red) kita nak,” sahut sang Ibu.

Begitu juga dengan Kristen. Anton menilai Bible tidak masuk akal. “Coba lihat Matius:46. Di sana dikisahkan ketika Yesus disalib ia berkata, Eli..Eli..Eli.. Lama sabakhtani. Yang artinya Tuhan, Tuhan, Tuhan, jangan tinggalkan aku. Masa Tuhan minta pertolongan sama Tuhan?” sanggahnya. “Tapi dalam Islam lihat Al Ikhlas, di sana sudah pasti,” tambah Anton.

Perkenalan Anton dengan Islam dimulai saat Ia mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang Jakarta, Anton mengenal napi dengan latar belakang tindak melawan hukum yang berbeda. Salah satunya adalah para napi yang dipenjara karena rezim otoriter Soeharto. Napi-napi tersebut adalah para aktivis mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan berbasis Islam.

Anton heran ketika memerhatikan mereka bisa hidup tenang seolah bukan di penjara. Anton menyimpulkan, ketenangan itu datang dari kalbu yang selalu disirami oleh sejuknya nilai-nilai ibadah. Anton mulai kepincut oleh Islam. Di sana ia mulai berdiskusi, membuka obrolan keIslaman dengan para napi yang ternyata aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). “Diantaranya Sofyan Panigoro dan Mukhtar Sindang,” kenang Anton.

Ternyata, dari Cipinang ia harus pindah. Anton dimutasi ke LP Kosambi, Cirebon. Di sana ia memelajari Islam dari salah seorang tokoh pergerakan berlatarbelakang Persis, bernama Oni,  asal kota seribu santri, Tasikmalaya.

Karena banyak berdiskusi  Anton mengalami keraguan. Kurang lebih tujuh tahun hatinya gundah. Setelah keluar dari penjara Anton tidak bisa menghilangkan kebiasaan barunya, untuk berdiskusi mengenai agama. Kini, sopir pribadinya yang mengaku Ahlussunnah waljamaah yang setia menjadi teman diskusi Anton.

Keraguan Anton memuncak, tatkala mengetahui keragaman pandangan pandangan di tubuh Islam. “Kok Islam banyak macamnya?” Kenang Anton.

Namun, Tuhan berkehendak lain. Pikiran Anton yang digelayuti keraguan mulai terbuka. Ia berusaha menyerap dan menggabungkan ajaran-ajaran Islam yang dipelajarinya. “Dari orang Muhammadiyah saya belajar mengenai Islam yang dikaitkan dengan sosial dan ekonomi. Dari Persis saya belajar mengenai hukum-hukum Islam. Dan dari sopir saya mengenai tata cara ibadah,” terangnya.

Banyak versi mengatakan Anton masuk Islam di penjara. Ada pula yang mengatakan Anton memeluk Islam dihadapan dan dibimbing langsung oleh KH. Zainuddin MZ. Tapi Anton membantah itu semua.  “Saya mengucapkan dua kalimat syahadat di depan sopir pribadi saya, namanya ustadz Torehan” sanggahnya kepada Alhikmah.

Anton pun kemudian memilih nama Muhammad Ramdhan Effendi. Nama itu dipilih Anton, karena Muhammad adalah rasul mulia umat Islam. Ramdhan menjadi nama tengahnya karena ia memeluk agama Allah SWT, saat bulan Ramadhan di tahun 1992. Sedangkan Effendi adalah nama pribumi bapaknya.

Kini, dai yang sejak 1994 berdakwah dari penjara ke penjara itu memiliki kehidupan baru. Kehidupan yang dipenuhi ketenangan cahaya Islam. Anton yang telah berceramah ke 451 rutan dan LP di tanah air memiliki sebuah cita-cita mulia. “Saya berharap Allah SWT.  memberikan kesempatan kepada saya untuk membina kader dakwah yang Insya Allah berkualitas dan dapat bermanfaat di masyarakat,” harap Anton menutup perbincangan.

LINGGA
Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
   
 
   
 
 
 
 
 
Alhikmah Terbaru