Advertisement
 
 
N0. 37/Agustus 2009/Syaban 1430 H Cetak E-mail
Saturday, 01 August 2009

Dalam Kitab Mafahim Islamiyah, Muhamad Husain Abdullah menjelaskan tentang makna spiritualitas, yakni perasaan tunduk dan tawadlu’ terhadap Sang Pencipta, Kekuasaan-Nya, dan Ilmu-Nya yang muncul lantaran kesadarannya terhadap hubungannya dengan Allah SWT, Pencipta Alam jagad raya ini. Maka, jika seorang muslim memiliki kesadaran tersebut secara terus-menerus, maka dia akan senantiasa hidup dalam nuansa keimanan dan keterikatan kepada syariah Allah SWT dengan ridlo dan tenteram.

Ada beberapa langkah praktis agar kesadaran akan hubungan kita dengan Allah tetap “ON”. Pertama,  senantiasa memperbaharui keimanan (tauhid) dan komitmen sebagai hamba Allah SWT yang membutuhkan petunjuk, pertolongan, dan perlindungan-Nya.  Hal ini ditempuh dengan dzikir kalimat lailahaillallah, dan diperkuat dengan kalimat-kalimat dzikir lainnya seperti tasbih, tahmid, takbir, dan istighfar.  Dilakukan setiap selesai shalat wajib, dan setiap kali ada kesempatan, khususnya malam hari menjelang tidur.   

Kedua, berusaha memahami dan merasakan apa yang dibaca di dalam shalat, seperti pernyataan penyerahan diri dalam doa iftitah:

“Aku hadapkan wajahku kehadirat Sang Pencipta langit dan bumi sepenuh ketundukan dan kepasrahan diri, dan bukanlah aku dari golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah bagi Allah Sang Penguasa semesta alam. Tiada sekutu apa pun bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintahkan sedang aku termasuk dari orang-orang muslim.”  

Demikian pula pada saat mengucapkan kalimat :

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus," (QS Al Fatihah 5-6).

Ketiga, gemar bertafakkur dan memiliki tradisi berfikir, khususnya memikirkan dan memperhatikan keberadaan ciptaan-ciptaan Allah SWT. Allah menggelari Ulil Al Abab (Orang Yang Berakal) kepada orang yang senantiasa mengingat-Nya dan juga memikirkan ciptaan-ciptaan-Nya (lihat QS Ali Imran 191).  Keempat, memperbanyak membaca ayat-ayat Alquran yang mengungkap aspek spiritual dari manusia, kehidupan, dan alam semesta sehingga spirit dan kesadaran spiritual dalam diri kita semakin meningkat (misal: QS Ar-Ra’du: 1-7, An-Nahl : 1-21, Ar-Ruum: 19-27).

Kelima, memperbanyak membaca ayat-ayat yang menghubungkan dunia dengan akhirat, sehingga ada kesadaran bahwa hidup ini tidak hanya di dunia saja.  Ada akhirat, dan segala sesuatu yang dilakukan di dunia pasti akan berdampak ke akhirat (misal: QS Al-Baqarah: 281, Ali Imran; 25, Al-An’am; 70, Al-Muddatsir: 38).

Keenam, memperbanyak puasa sunnah seperti puasa Senin-Kamis, puasa hari putih (tiap tanggal 13,14,15 Hijriyah), hari Arafah (9 Dzulhijjah), hari Asyura (10 Muharram), dan hari Tasu’a (9 Muharram) sesuai dengan keterangan dalam hadits-hadits.   Ketujuh, senantiasa berupaya memecahkan persoalan-persoalan dengan syariah Allah SWT sebagai upaya memadukan kesadaran hubungan dan perbuatan kita dengan Allah dalam rangka mencari ridha-Nya.  Para sahabat dulu biasa bertanya kepada Rasulullah Saw terhadap persoalan mereka. (lihat: QS Al-Baqarah: 215, Al-Anfal: 1, Mujaadilah: 1).

Jika hal tersebut secara istiqamah dijalankan, insya Allah kesadaran akan hubungan kita dengan Allah pun akan tetap terjaga. Semoga. 

Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
   
 
   
 
 
 
 
 
Alhikmah Terbaru