| Menjemput Hikmah |
|
|
| Saturday, 01 August 2009 | |
|
Malam itu, tidak seperti biasanya Nisa cepat tidur. Sejak tadi siang ia berencana cepat tidur, karena akan lebih cepat bangun. Pukul 03.00 ia harus sudah bangun. Meski usianya baru menginjak angka enam, tahun ini, untuk pertama kalinya Nisa ikut makan sahur. Besoknya ia akan ikut berpuasa. Saat itu Nisa sendiri belum bisa memastikan, apakah akan mampu bertahan menahan lapar hingga waktu maghrib tiba, atau cukup sampai waktu dzuhur. Orang tuanya pun memberi kebebasan. Yang penting, pada usia enam tahun, orang tuanya berharap Nisa sudah mulai belajar puasa. Ikhtiar melatih berpuasa seperti ini merupakan fenomena yang telah mentradisi cukup lama di kalangan masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia. Satu persatu rukun Islam diperkenalkan kepada anak-anak, dan bahkan mulai dibiasakan untuk dilaksanakan. Ibarat membaca surah al-Fatihah. Rasanya hampir tidak pernah ada anak di kalangan keluarga Muslim yang secara khusus menghapalnya. Surat ini hanya dibiasakan untuk dibaca dan diperdengarkan kepada anak. Bahkan ketika mengajak anak bermainpun, seorang ibu biasa membacakan ayat-ayat dari surah al-Fatihah, sambil sesekali sedikit disenandungkan. Anak pun akhirnya terbiasa membacanya, dan bahkan otomatis hapal di luar kepala. Aneh, jika seorang anak dari keluarga Muslim tidak mampu membaca al-Fatihah. Lebih aneh lagi, jika orang dewasa atau bahkan orang tua yang sejak lahir telah ”berislam” tidak mampu membaca al-Fatihah. Sama anehnya dengan anak-anak Muslim yang tidak kenal praktik berpuasa, termasuk sejumlah tradisi yang melekat dengan bulan saat dilaksanakannya ibadah puasa. Selama bulan puasa, berbagai syiar menggema di mana-mana. Dulu, pada zaman ketika teknologi media masih belum banyak dikenal masyarakat, terdapat berbagai media tradisional ikut menghidupkan suasana Ramadhan. Suara bedug mulai ramai terdengar sejak sehari menjelang Ramadhan tiba. Seusai pelaksanaan shalat tarawih, atau menjelang waktu sahur tiba suara bedug selalu terdengar seolah ikut menggenapkan tradisi berpuasa. Dan di penghujung Ramadhan, sehari penuh bedug berbunyi tak henti-henti. Fenomena inilah yang paling mudah dibaca ketika seseorang mengingat-ingat kembali suasana Ramadhan hingga sekitar era 1970-an. Saat itu, bulan Ramadhan selalu menjadi momentum penting memulai membangun iklim religius di lingkungan keluarga dan masyarakat. Anak-anak mulai diperkenalkan dengan spiritualitas agama yang dianutnya. Sebab selama bulan Ramadhan, bukan saja simbol-simbol fisik yang mencerminkan keberagamaan seseorang, tapi juga sarat dengan proses pencerahan psikis melalui ritual menahan lapar dan dahaga. Hingga saat ini, fenomena itu tidak pernah berhenti, bahkan terus berkembang menemukan warnanya yang lebih relevan dengan perkembangan. Ceramah-ceramah keagamaan yang hingga era 1970-an belum banyak mewarnai aktivitas Ramadhan di masjid-masjid, kini tumbuh menjadi ciri penting agenda Ramadhan hampir di semua institusi. Shalat tarawih bersama diselenggarakan di setiap lembaga baik swasta maupun pemerintahan. Kantor-kantor, hotel-hotel, dan berbagai pusat pelayanan publik berubah seketika menjadi ”pesantren” baru tempat para penghuninya mengaji dan belajar agama secara lebih intensif. Selama bulan suci ini, syiar agama tampak lebih gempita. Masjid-masjid dipenuhi jamaah bukan saja untuk melaksanakan shalat lima waktu, tapi juga untuk melakukan ritual tambahan lainnya, termasuk sekedar untuk memperoleh suasana bathin yang lebih nyaman dan tenang. Mereka sengaja datang menemui Tuan Rumah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Frekuensi membaca kalam-kalam-Nya pun meningkat, jauh melebihi suasana keseharian masyarakat kita. Mereka mempelajari ajaran-ajaran-Nya melalui berbagai forum dan media. Yang lebih menarik lagi, fenomena jilbab yang secara tiba-tiba hadir menjadi pemandangan ekslusif para artis di televisi. Sepanjang bulan suci, mereka mengisi syiar Ramadhan melalui berbagai acara dengan penampilan busana muslim. Jilbab kemudian menjadi warna khas acara-acara televisi Indonesia. Lewat media televisi wajah Indonesia berubah menjadi negeri yang sarat dengan tradisi Islami. Dan, bukan hanya jilbab, substansi acaranya pun penuh dengan muatan pesan-pesan dakwah. Bahkan seluruh televisi menyajikan dakwah ekslusif selama bulan suci. Pertanyaan ini muncul karena banyak di antaranya yang berhenti bersamaan dengan habisnya bulan Ramadhan. Masjid kembali sepi. Kantor-kantor dan hotel-hotel merubah kembali sarana dan fasilitas yang selama sebulan berfungsi sebagai mushalla dan tempat belajar agama. Kehidupan kembali seperti biasa. Seolah tidak berdampak sama sekali, spirit Ramadhan hanya melekat selama sebulan, dan seakan-akan ”tamu” Ramadhan itu hanya mampir sebentar. Tapi sebetulnya tidak demikian. Fenomena itu tetap menyisakan hikmah bagi kehidupan. Meski terkesan sangat simbolik, fenomena itu dapat memfasilitasi tumbuhnya tradisi baru, atau memelihara tradisi yang sebelumnya telah tumbuh menjadi identitas kehidupan. Agama sendiri, pada satu sisi, sebetulnya merupakan fasilitas sempurna yang menjadi pegangan hidup manusia. Disebut fasilitas sempurna karena ia dapat memberikan ”jawaban” atas persoalan-persoalan yang tidak bisa disediakan akal, atau ilmu pengetahuan. Agama tidak semata-mata memelihara spiritualitas yang sering dimaknai abstrak. Sebab pada saat yang sama, agama juga memelihara kepentingan pragmatis yang berada pada wilayah konkrit. Jika agama mensyaratkan keimanan, maka memelihara keimanan juga membutuhkan fasilitas. Seseorang bisa nampak begitu tulus menunjukkan identitas keberagamaan, dan pada saat yang berbeda ia menjadi sosok yang tampak sangat jauh dari keberagamaan. Itulah sebabnya, Nabi sendiri mengingatkan kita bahwa keimanan seseorang bisa naik dan turun. Adakalanya kuat, adakalanya lemah. Karena itu keimanan seseorang harus dipelihara agar tetap pasang. Jika sewaktu-waktu surut, ia perlu diperbaiki, yang salah satunya dengan meningkatkan dan memelihara konsistensi amal shalih. Seperti halnya keimanan, keberagamaan seseorang juga bisa naik-turun, sebab keimanan merupakan substansi keberagamaan. Keberagamaan (religiusitas) seseorang pun membutuhkan fasilitas pendukung, lingkungan yang kondusif, agar dapat terpelihara dengan baik. Dalam konteks inilah, salah satunya, fenomena keberagamaan selama bulan Ramadhan akan berfungsi sebagai fasilitas pendukung untuk menumbuhkan religiusitas masyarakat. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



