| Ina Juniarti: Teknokrat Wanita Berjiwa Pemberdaya |
|
|
| Saturday, 01 August 2009 | |
|
Hal inilah yang menjadi alasan Ina Juniarti menjadi penggiat pemberdayaan usaha kecil, tugasnya menjadi pendamping bagi masyarakat. Tegas, dispilin, tidak main-main dalam bekerja itulah kesan pertama yang muncul saat ditemui Alhikmah di ruang kerjanya, PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Jl. Pajajaran No. 154 Bandung. Bakatnya menjadi seorang entrepreneur sudah terlihat sejak kelas 1 SD. Saat itu dia belajar membuat ‘ink lap’ (lap mata pena) dari perca kain yang dijual kepada teman-teman sekelasnya. ‘ink lap’ merupakan peralatan wajib yang harus dibawa para siswa membersihkan pena. Saat itu pena digunakan untuk belajar menulis halus agar huruf yang ditulis bisa tebal dan tipis. Orang tuanya mengijinkan Ina berjualan bukan untuk mencari keuntungan, tapi ingin mengajarkan bagaimana Ina kecil mampu berinteraksi dan tahan menerima kritik dari orang lain. Dari situlah, segudang pengalaman berharga ia dapatkan kemudian. Ina dan Keluarga Tahun 1976, Ina diterima kuliah di jurusan kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Namun, baru satu hari mengikuti orientasi studi (ospek), Ina merasa kurang nyaman. Akhirnya, ia putuskan untuk pindah studi ke Institut Teknologi Bandung (ITB), dan mengambil jurusan elektro. Empat tahun berlalu, 1981, Ina menikah dengan Eko Soedartanto Aris, temannya sejak SMA hingga kuliah di ITB. Dari pernikahannya, mereka dikarunia tiga orang anak, dua perempuan dan satu laki-laki. Pola pendidikan yang diterapkan untuk anak-anak pun Ina adopsi dari kedua orangtuanya. “Saya ingin menjadi ibu yang baik, menurut kehendak anak-anak, bukan karena kemauan saya sendiri. Alhamdulillah mereka menjadikan saya sebagai teman,” ungkapnya. Hampir 27 tahun, Ina mengabdi di PT DI (sebelumnya IPTN – red). Atas dedikasinya selama hampir tiga dekade, dirinya mendapatkan penghargaan 1992, 1997 dan 2002. Penghargaan lainnya pun Ina peroleh dari Presiden RI tahun 1988, berupa Piagam Tanda Kehormatan Satyalencana Pembangunan, dan dari Menteri Negara Peranan Wanita, sebagai tokoh wanita berprestasi bidang teknologi pada tahun 1992. Kini, selain menjabat sebagai staf Direktur Keuangan PT DI, Ina pun aktif sebagai penggiat pemberdayaan masyarakat usaha kecil, yang bergerak di berbagai bidang, antara lain: Kuliner, Tanaman Hias, Pengobatan Alternatif dan Herbal, Perawatan dan Perbaikan Peralatan Industri dan Rumah Tangga, Aneka Kerajinan Tangan Busana Muslim, Furniture, Jasa dan banyak bidang usaha lainnya. Semua kegiatan ini didanai suaminya. Banyak hal yang didapatnya mulai dari yang manis, hingga menyesakkan dada. “Pengalaman bagi saya yang sangat menarik adalah ketika teman-teman binaan memberikan doa kesembuhan. Subhanallah doa mereka menjadi satu kekuatan terbesar bagi saya untuk bisa terus mendampingi mereka,” kata Ina. Selama masih mampu berkreasi, ibu 3 anak ini selalu rela menyediakan waktu luang bagi siapapun yang membutuhkan. “Saya tidak pernah mengatakan Tidak. Saya selalu bilang insya Allah. Alhamdulillah, hingga saat ini saya hampir selalu bisa memenuhi setiap janji, karena saya yakin setiap niat dan langkah baik, pertolongan Allah selalu hadir di dalamnya,” Namun, pengalaman buruk pun kerap Ina alami. Mulai dari menanggung kerugian penjualan kue binaannya yang tidak laku sampai yang menderita kerugian besar karena tertipu ataupun yang tidak patuh pada arahannya. Pengalaman ini membuat Ina semakin tertantang untuk lebih aktif memberdayakan. Menurutnya dalam setiap usaha diperlukan 3K (Kemauan, Kemampuan/Keterampilan dan Kesempatan). Inilah yang diupayakan Ina sebagai penggiat, tapi kemauan harus tumbuh dari diri mereka.” Ibarat kita ingin mendorong seseorang sekuat tenaga untuk berjalan maju, kalau dia bertahan untuk tidak bergerak, akan mengakibatkan dia jatuh dan kitapun ikut jatuh tersungkur,” katanya. Untuk memenuhi aspek Kemampuan dan Kesempatan, Ina mencoba berbagi dan menebar manfaat kepada masyarakat melalui Pelatihan Bisnis UKM yang diselenggarakan gratis setiap Sabtu Pukul 08.00 – 12.00, di kediamannya, kawasan Jl. Setra Indah Raya 21 Bandung. Prinsip Ina, “Orang hidup itu harus punya bekal untuk mati. Inilah bekal hidup saya; berharap bisa memberikan manfaat untuk orang lain.” ERNI |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




Setiap orang memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang. Namun tidak semua orang mampu memberdayakan potensinya. Yang harus diingat adalah, bahwa uang bukanlah segalanya.