Advertisement
 
 
Laotze: Masjid "Kontrakan" Bergaya Cina Cetak E-mail
Wednesday, 01 April 2009

Image
mia/alhikmah
Bangunan berukuran 6x7 m2 itu didominasi Nuansa merah. Arsitektur bergaya Cina menghiasi pintu masuknya. Menengok lantai dua, tampak  tersusun potongan kayu yang dibuat sedemikian rupa, membentuk sebuah kubah.

Inilah masjid Lautze Bandung, yang terletak di jalan Tamblong 27, Bandung. Dari kejauhan masjid Lautze terlihat mencolok dengan ornamen Cina dan warna merahnya. Bahkan jika kita hanya melihat sepintas, akan tampak seperti vihara. Hal ini dikarenakan, tulisan ‘masjid Lautze’ yang berupa plang menghadap ke arah masjid tidak begitu terlihat. Yang jelas terpampang adalah tulisan ‘toko Lautze’. Padahal masjid pada umumnya ada nuansa hijau. Itulah kemudian yang menjadi keunikan masjid Lautze.

masjid Lautze yang mengambil nama seorang filsuf Cina yang dikenal karena kearifannya ini, memiliki toko di samping bangunan masjidnya. Hal tersebut tidak terlepas dari karakterisitik etnis Tionghoa yang giat berusaha. Hal ini juga yang menjadikan alasan pemilihan lokasi masjid di bilangan Tamblong. Sebuah lokasi yang berjarak hanya selemparan batu, dari jantung kota Bandung, tempat aktivitas perekonomian masyarakat Priangan berlangsung.

Didirikan atas prakarsa Yayasan Haji Karim Oei (YHKO), yang berpusat di Jakarta, keberadaan masjid Lautze memang tidak bisa dilepaskan dari peran etnis Tionghoa. YHKO sendiri merupakan sebuah yayasan yang bertujuan mensyiarkan Islam sebagai agama yang universal dan cocok untuk etnis Tionghoa. Selain itu, YHKO sekaligus berfungsi sebagai wadah pembinaan para mualaf, yang di antaranya adalah muslim keturunan Tionghoa , di setiap pecinan (pusat pemukiman etnis Tionghoa) di Indonesia.

Mulanya medio Ramadhan Desember 1996, saat digelar pertemuan bulanan YHKO di Jakarta. Perwakilan YHKO  dari luar Jakarta datang, termasuk dari Bandung, yaitu Haji Mudirullah dan bapak Hendro. Disanalah tercetus ide, bahwa di Bandung belum ada sekretariat Cabang YHKO. Maka,  dibentuklah YHKO cabang Bandung setahun kemudian, Januari  1997.

Untuk kebutuhan pusat ibadah dan pembinaan umat Islam, khususnya etnis Tionghoa, sekaligus sekretariat cabang YHKO, dipilihlah sebuah bangunan bekas toko buku di kawasan Tamblong, Bandung. Adapun dana awal untuk sewa tempat, menggunakan dana yayasan. Nama Lautze sendiri mengikuti nama masjid milik YHKO, yang sudah didirikan sebelumnya di Jakarta.

Menurut keterangan Muhammad Sulthonudin (Kang Aang) saat ditemui di masjid Lautze, beberapa waktu lalu, saat ini, untuk dana penyewaan lokasi berasal dari pihak YHKO Bandung sendiri. ”Dana awal dari yayasan pusat, untuk tahun berikutnya diupayakan dari pihak Bandung sendiri dari kencleng, dan simpati orang terhadap masjid ini. Kemudian setiap kegiatan juga diupayakan dianggarkan,” Terang Takmir masjid Lautze Bandung ini.

Sampai sekarang pun masjid Lautze merupakan sebuah masjid ‘kontrakan’. “Mungkin satu-satunya masjid yang mengontrak di Bandung,” ungkap Jesslyn, wakil sekretaris DKM Lautze. Karena dianggap sebagai aset kota, maka kepemilikan masjid berada di tangan pemerintah kota Bandung.

Saat ini masjid Lautze tengah menghadapi masalah ihwal kepemilikan. Masih menurut Jesslyn,  pihak masjid Lautze saat ini, menyewa kepada penyewa bangunan tersebut sebelumnya. ”Ini disewa oleh pribadi dan disewakan lagi kepada kita,” ungkap Jesslyn. Saat ini sedang diupayakan agar dapat menjadi penyewa pertama, atau langsung menyewa kepada pemerintah agar biaya sewa menjadi lebih murah.

Di awal pendiriannya, karena masih menyewa dan mengikuti bentuk bangunan lama, masjid Lautze tidak memiliki kubah. Untuk memberikan penanda sebuah masjid, maka dibuatlah gambar kubah di jendelanya. Kegiatan kesekretariatan YHKO pun dilaksanakan di masjid ini. Namun, ruangan yang tanpa sekat antara kantor dan masjid ternyata cukup menyulitkan dalam kegiatan ibadah. Sehingga di tahun 2004 dibuatlah sekat ruangan bergaya arsitektur Cina dengan arsitek dari ITB, yaitu Umar Widagdo.

3 tahun kemudian, 2007, direnovasi kembali untuk membuat kantor terpisah dari ruangan masjid. Dibuatlah sebuah tangga kayu yang dicat merah yang menuju ke kantor di atas masjid. Bangunan yang sudah mengarah ke kiblat ini tidak banyak merubah struktur bangunan dalam merenovasi.

Sebelumnya  ada semacam keraguan dari umat untuk masuk ke dalam masjid Lautze karena tidak ada “penanda” masjid berupa kubah. Akhirnya dibuat sebuah kubah dari kayu sebagai penanda keberadaan masjid Lautze. Karena masih mengontrak, Pemasangan kubah masjid pun memerlukan ijin khusus. Kubah masjid dipasang di atas bangunan yang merupakan milik hotel Istana. Agar tidak menganggu, maka kubah kayu berwarna merah ini didesain berongga, tidak seluruhnya tertutup agar tidak menghalangi sinar matahari yang masuk.

Aspek budaya Tionghoa yang sudah melekat, tetap dilestarikan. Seperti pangilan kepada masing-masing anggota dengan ‘cicih’ dan ‘kokoh’ , meski orang tersebut bukan berasal dari etnis Tionghoa. Menurut Kang Aang, ada semacam kerinduan untuk memelihara budaya sebagai identitas. Penggunaan ornamen bergaya arsitektur Cina hanya sebagai penanda. Ornamen yang dipakai juga sesuai syariat, seperti tidak menggunakan patung singa di depan pintu masuk.
Walaupun kental dengan nuansa Cina, namun keberadaan masjid Lautze tidak dikhususkan untuk etnis Tionghoa Muslim saja. “Kami tidak eksklusif, semua kalangan dapat masuk ke sini,” terang Jesslyn. Penggunaan ornamen Cina seperti halnya yang dilakukan para wali songo dalam menarik masyarakat sehingga tertarik dengan agama Islam, yaitu agar para Muslim Tionghoa yang baru saja belajar Islam merasa dekat, seperti berada di rumahnya sendiri. •MIAGAMALIA/ALHIKMAH

Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >