| Endra Sugiharto Lanoutomo: Di Kamar Mandi, Endra Shalat Diam-diam |
|
|
| Saturday, 01 August 2009 | |
|
Butuh hampir satu dekade bagi Endra untuk memantapkan langkahnya memeluk Islam. Keterbatasan fisik sejak kecil akibat terjatuh, membuat syaraf di tulang belakangnya mengalami kerusakan. Dampaknya, sejak umur 10 tahun, pertumbuhan badannya terhenti. Tapi ia yakin, Allah menilai hambanya bukan dari fisik atau sesuatu yang bersifat materi. Allah menilai hamba-Nya dari derajat ketakwaannya. Sejak itulah, kepercayaan dirinya tumbuh. Kepada Alhikmah di kediamannya, Jl. Kapten Tendean 51 Hegarmanah Kulon, Bandung, Endra menceritakan kisah yang paling berpengaruh dalam hidupnya. Lahir 21 Agustus 1964, Endra, yang kini mengurus bisnis keluarga, tak pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Konon, Endra kecil, dititipkan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung. Endra kemudian diadopsi pasangan suami-istri etnis Tionghoa, Hartono Lanoutomo (Alm) dan Indriyana Sudiyanti, yang sudah dikaruniai 2 orang putri tapi tak bisa memiliki anak laki-laki. Beranjak dewasa, Endra mulai merasakan ketidakcocokan dengan ragam ajaran dan ritual agama yang dianutnya sejak belia, Kristen Advent. Waktu itu 1996, ia lalu memutuskan untuk keluar dari Gereja. “Entah mengapa, saat keraguan menyelimuti diri, saya tertarik membeli Al-Quran, yang kemudian saya pelajari dan dalami,” kenangnya. Endra kaget bukan kepalang, lalu terbangun. Matanya spontan menoleh ke arah Jam yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Ia berusaha menenangkan diri. ”Mungkin itu cuma mimpi,” gumam Endra. Esoknya, Baharudin, salah seorang rekanan bisnis ibunya, menelepon. “Kami sering berdiskusi mengenai Islam,” ungkap Endra. Baharudin yang baru pulang naik haji menyapa Endra. Tak lupa, ia pun bertanya, “Apakah Endra masih memelajari Alquran?” “Tentu,” jawab Endra tegas. Endra kemudian menceritakan ihwal mimpinya semalam. Selesai berkisah, Baharudin langsung berkomentar, “Itu sebuah panggilan, kesempatan yang jarang dan mungkin takkan terulang.” Mendengarnya, Endra tertegun sejenak. Tak lama, ia pun dengan mantap berucap, “Saya siap bersyahadat.” Beberapa waktu sebelum bersyahadat, lagi-lagi Endra mengalami peristiwa tak lazim. Ia, malam itu belum sepenuhnya terlelap. Kyai dalam mimpi dia sebelumnya datang lagi menghampiri. “Kamu benar-benar ingin memeluk Islam?” Tanya sang Kyai. Terbata Endra menjawab, “saya sungguh-sungguh ingin masuk Islam.” Kyai itu pun kemudian menghilang. Waktu berlalu, awal Januari 2004 Endra bersyahadat di 2 tempat, RS Muhammadiyah, dan di rumah makan Panineungan milik H. Baharudin yang sekarang sudah tutup. “Waktu itu hari Minggu, tanggalnya saya lupa,” kenangnya sambil tersenyum. Sebelum bersyahadat Endra ingin dikhitan, namun dokter tidak sanggup kerena Endra memiliki kelemahan pada organ jantung. Endra disarankan memeriksa kesehatan di RS Muhammadiyah. Di rumah sakit tersebut, dokter pun menyarankan Endra untuk menunda proses khitan. Ini tidak membuat Endra menangguhkan keislamannya. Di depan Baharudin, Amir (karyawan Baharudin_red), dan Johari seorang pengacara ia bersyahadat. Disaksikan sedikit orang membuat Endra merasa kurang afdhol. Akhirnya mereka menuju rumah makan Panineungan daerah Dago, Bandung. Di sana, untuk kedua kalinya Endra berikrar. Kali ini disaksikan pula oleh seluruh pegawai rumah makan yang hadir di sana. Setelah memeluk Islam, ia kemudian berkenalan dengan seorang pengusaha, yang lagi-lagi rekanan bisnis sang ibu, bernama Haris LM Harahap. Endra biasa memanggilnya Bang Haris. ”Bang Haris enak diajak ngobrol, khususnya yang berkaitan dengan keislaman,” tutur Endra. Kebetulan saat itu, bang Haris rutin menjadi narasumber di Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung. Kepada Bang Haris, Endra mengutarakan niat untuk berbagi kepada masyarakat perihal keislamannya. Bang Haris pun mengajak Endra siaran di RRI. Ini kali pertama Endra menceritakan kisah hidupnya pada orang banyak. “Saat itu rasa takut atau malu hilang. Padahal sebelum memeluk Islam saya tidak berani dan belum pernah melakukannya,” tutur Endra. Endra pun mengungkapkan, selain Haris dan Baharudin, ada orang di lingkungan terdekatnya yang juga sangat berpengaruh terhadap keislamannya. “Dia teman sekaligus tetangga saya, masih muda, namanya Tantan Purnama. Saya selalu main ke rumahnya. Dia dan keluarganya yang mengajarkan saya shalat,” ungkap Endra lebih lanjut. Dalam Islam Endra merasa lebih dekat dengan Allah SWT yang memberikan kekuatan dan dorongan dalam dirinya. Endra merasa Allah selalu ada untuk dirinya. Dari situ Endra berpikir dan membulatkan tekad untuk terus berdakwah. LINGGA |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




Awal memeluk Islam, 2004 silam, Endra shalat diam-diam. Demi menghormati sang Ibu, di kamar mandi ia terpaksa melakukan ritual penting dalam Islam ini. Mulanya sang Ibu sedikit keberatan. Ia berpandangan shalat itu sesuatu yang merepotkan. Namun, Endra katakan, “Bu, hidayah itu tidak bisa menunggu. Datangnya tidak bisa dua kali. Akhirnya, Ibu bisa menerima.”