Advertisement
 
 
Satu Syawal Cetak E-mail
Tuesday, 01 September 2009

Malam itu, suara takbir tidak banyak bergema. Suaranya hanya terdengar di beberapa tempat. Tanda-tanda besok mau lebaran pun tidak begitu terasa. Bahkan, di sejumlah masjid, masih terlihat orang-orang melaksanakan shalat tarawih bersama.

Padahal, Salman, seorang anak yang masih pada tahap belajar berpuasa, sudah memastikan siang tadi merupakan hari terakhir berpuasa. Ia tidak lagi bangun malam, tidak ada acara makan sahur pagi itu. Ia tidur lelap hingga dibangunkan bapaknya saat berkumandang adzan shubuh.

Usai shalat shubuh, Salman pun siap-siap berpakaian baru, baju koko warna putih yang sengaja dibeli untuk shalat ied. Lalu, Salman dan keluarga berangkat menuju tempat pelaksanaan shalat ied, agak jauh dari rumah tempat tinggalnya. Ada dua keluarga lain yang juga terlihat berangkat pagi itu. Di perumahan juga ada lapangan yang biasa digunakan untuk shalat ied. Tapi pagi itu masih terlihat sunyi. Tidak ada podium untuk sang khatib berkhutbah; dan tidak ada suara takbir memanggil jamaah.

”Kenapa teman-teman tidak ikut shalat ied?”, tanya Salman mulai merasakan keganjilan suasana lebaran pagi itu.
Sambil mengendalikan kendaraan yang terus melaju menuju lapangan shalat ied, bapaknya pelan-pelan menjelaskan. ”Teman-teman Salman baru akan berlebaran besok. Hari ini mereka masih puasa. Besok di dekat rumah juga ada shalat ied. Nanti sore kita juga mau ikut beres-beres lapangan untuk persiapan besok”. Salman masih terlihat bingung, meski kepalanya tampak mengangguk-angguk. Dia hanya tahu kalau teman-temannya belum berlebaran hari itu.

Sepulangnya shalat ied, bapaknya mulai berpikir, bagaimana mengingatkan Salman untuk tidak bebas makan dan minum di luar rumah meskipun sudah tidak berpuasa. Meski terbilang masih sangat dini, Salman mulai mendapat pelajaran berharga tentang bagaimana bisa terjadi perbedaan hari lebaran, dan bagaimana belajar menghargai orang lain yang masih berpuasa. Ia pelan-pelan berusaha memahami kalau teman-temannya belum berlebaran, dan mereka masih berpuasa. Ia pun akhirnya pura-pura berpuasa. Jika merasa haus atau lapar, sejenak ia pulang ke rumah dan kembali setelah makan dan minum.

Bapaknya yang kebetulan saat itu menjabat Ketua RW, memang sudah mengumumkan bahwa kepastian tanggal satu syawal disesuaikan dengan ketentuan pemerintah. Dia sadar betul kalau kemungkinan perbedaan perhitungan satu syawal semakin terbuka lebar. Seminggu sebelumnya, ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan Persatuan Islam, telah mengumumkan hasil perhitungannya masing-masing. Memang berbeda. Dia sendiri meyakini salah satu hasil hitung-hitungan itu. Dan dia akan mengikuti kepastian satu syawal yang diyakininya.

Dia mengumumkan sesuatu yang sebetulnya di luar keyakinannya. Tapi dia tetap melakukannya terutama untuk memelihara keutuhan warga tanpa harus menggiring warganya untuk mengikuti keyakinannya. Dia sangat hati-hati menjaga keyakinan warganya yang sangat mungkin berbeda-beda. Dia tidak ingin kalau keutuhan ukhuwah yang telah lama terbina dengan saling memahami perbedaan akan rusak hanya karena persoalan sepele.

Mungkin, dalam konteks inilah, mengapa dia kembali ikut shalat ied pada keesokan harinya. Dia ikut hadir di lapangan, agar seusai shalat ied dia dapat langsung bersilaturahmi, bersalaman dengan sesama warga. Fasilitas murah agar tidak perlu keliling, datang ke rumah-rumah menemui setiap warga. Salman, anaknya, juga kembali mengenakan pakaian baru. Dia bergabung berpesta mengisi kebahagiaan bersama teman-temannya, tanpa memperlihatkan bahwa sebetulnya kemarin ia sudah berlebaran.

Bahkan, dalam perjalanan membangun tatanan sosial di sekitar tempat tinggalnya, dia biasa memanfaatkan kenyataan untuk memfasilitasi tumbuhnya rasa cinta kasih dengan sesama, tanpa mempertajam adanya perbedaan. Wawasan Alquran yang pernah dipelajarinya ketika masih nyantri di salah satu pesantren, dijadikannya sebagai kerangka acuan untuk memahami realitas jagat, baik empiris maupun transedental. Dia juga meyakini kalau Alquran selalu terbuka bagi setiap interpretasi sehingga tidak lapuk dimakan zaman. Perbedaan yang timbul dari hasil interpretasi sejatinya dipandang sebagai rahmat karena akan mendatangkan peningkatan kecerdasan bagi umat manusia dalam rangka menyingkap rahasia alam.

Inilah di antara rahasia perbedaan dalam memahami satu syawal. Bangunan perbedaan yang tetap menarik dan penting diamati khususnya berkaitan dengan keanekaragaman pemahaman. Keragaman pemahaman ini pula yang kemudian berkembang membentuk komunitas-komunitas primordial yang sering memicu konflik. Padahal, diakui oleh Alquran (Surat Al-Baqarah: 148), bahwa masyarakat terdiri dari berbagai macam komunitas yang memiliki orientasi kehidupan sendiri-sendiri.

Karena itu, manusia harus menerima kenyataan keragaman pemikiran, interpretasi, keyakinan dan pengamalan, sekaligus memberikan toleransi kepada masing-masing komunitas dalam menjalankan keyakinan ibadahnya. Dengan keragaman dan perbedaan itu ditekankan perlunya masing-masing berlomba menuju kebaikan (fastabiq al-khairat). Sebab, rahasia kemajemukan dalam banyak hal sering tak nampak jelas, sementara tugas manusia adalah memahami, menerima, dan menjalani untuk memperoleh hikmah yang sebesar-besarnya.

Dengan demikian, keragaman (pluralitas), apapun alasannya, merupakan sebuah keniscayaan (sunnatullah) yang tidak bisa dihindari. Bila setiap orang muslim memahami secara mendalam etika pluralitas yang terdapat dalam Alquran, maka tidak perlu lagi ada ketegangan, permusuhan dan konflik di antara sesama, sejauh mereka tidak saling memaksakan. Apalagi bila perbedaan itu hanya terjadi dalam perkara kecil, termasuk perbedaan ketetapan satu syawal.

Bahkan, dalam kasus perhitungan dalam penetapan satu syawal, perbedaan interpretasi ataupun metodologi dapat memperkaya khazanah pengetahuan. Perhitungan yang didasarkan pada pergerakan bulan itu sering melahirkan perbedaan terutama karena kriteria yang berbeda. Antara NU dan Muhammadiyah, misalnya, perbedaan terletak pada kriteria batas minimal terlihatnya bulan (hilal). Sehingga, meskipun saat ini telah dilengkapi dengan fasilitas teknologi untuk memudahkan dalam melihat bulan, perbedaan penetapan satu syawal masih tetap akan terjadi.

Jadi, biarkan saja perbedaan itu tetap hidup, tanpa harus dipaksakan sama. Perbedaan satu syawal adalah sekolah lain untuk mengajarkan toleransi, mempertajam cinta kasih, sekaligus memperkokoh kebersamaan.

Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
   
 
   
 
 
 
 
 
Alhikmah Terbaru