| Menyikapi Perbedaan 1 Syawal |
|
|
| Tuesday, 01 September 2009 | |
|
Assalaamualaikum wr. wb. Jawab: Saudara Gunawan, ini merupakan pertanyaan berulang setiap tahun. Menurut logika dan akal sehat kita, mustahil 1 Syawal itu bisa 2 hari dalam satu kota, apalagi satu rumah atau satu ranjang suami istri bisa berbeda karena berbeda organisasi. Berkali-kali pula saya katakan dalam berbagai media, untuk menyikapi ini tokoh-tokoh Islam dari ormas berkumpul merumuskan satu perhitungan dalam menetapkan 1 Syawal. Sehingga, tidak terulang perbedaan penetapan 1 Syawal yang menurut saya sangat memprihatinkan. Ini hal yang salah, jangan ditutup-tutupi dengan alasan saling menghargai perbedaan. Karena dapat memelihara konflik serta kesalahan yang berulang setiap tahun. Menurut saya, cobalah buang egoisme masing-masing kelompok. Saya menghimbau para tokoh-tokoh ahli hisab, ahli rukyah dari berbagai organisasi untuk berkumpul dalam sebuah forum dan silahkan berdebat sepuasnya. Jika semuanya datang ke ruangan itu dengan tujuan yang tulus ingin mencari kebenaran pasti akan muncul kesepakatan mana sebenarnya perhitungan penetapan yang paling tepat. Lalu kesepakatan itu dipegang dan dijadikan acuan oleh pemerintah untuk tahun-tahun berikutnya. Jika dibiarkan berlarut-larut, ini ironis sekali dan sangat memalukan. Kita mempertontonkan kebodohan kita sebagai umat Islam. Kita pun mempertontonkan kepada dunia betapa umat Islam sulit untuk bersatu. Padahal masalah ini sebenarnya sesuatu yang sepele. Dalam hal ini, kita pun harus memiliki sikap legowo. Dengan siap mengakui cara penetapan yang paling kuat. Dan siap mengikuti penetapan itu. Setiap Muslim harus punya jiwa seperti itu. Apalagi seorang ulama. Insya Allah persoalan ini akan selesai. Jika belum ada langkah seperti itu, menurut saya ikuti saja apa yang ditetapkan oleh pemerintah. Karena pemerintah biasanya mengikuti apa yang sudah ditetapkan oleh ormas-ormas dengan mengambil suara paling banyak. Allahua’lam. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




