Advertisement
 
 
Lie Wen Kong: “Meski setiap Minggu ke Gereja, kok Batin Saya Selalu Hampa?” Cetak E-mail
Tuesday, 01 September 2009

ImageBagi Eko, jalannya menemukan Islam berawal dari kisah masa kecil bersama sang nenek, Samsiah (alm). Ketika akan memeluk Islam, Eko tidak pernah mendapatkan tentangan dari keluarganya. Justru, ketika Eko akan menikah di tahun 1989, keislamannya diragukan keluarga Mohammad Dien (Mertuanya sekarang_red).  Padahal, ketika itu ia sudah 2 tahun bersyahadat.

Namanya Eko Tanuwiharja (Lie Wen Kong). Ia lahir di Kota Udang, Cirebon 15 November lima puluh tahun lalu. Eko mengaku, keluarganya sangat toleran dalam hal kepercayaan. Ibunya Lili Eng Tawati (Lie Syu Ing) dan sang ayah Lie Khian Khiun, tidak pernah memersalahkan Eko menjadi penganut Katolik sejak SD.

“Keluarga saya memang kurang relijius. Waktu kecil saya jarang ke Klenteng. SD sampai SMA saya dimasukkan ke sekolah Katolik Santa Maria Cirebon. Karena di sana diarahkan mengikuti ajaran Katolik, saat kelas 5 saya dipermandikan (istilah pembaptisan dalam Katolik_red),” kenangnya saat ditemui Alhikmah di sela-sela kesibukan Eko sebagai konsultan hukum.

Eko mengaku, perkenalannya dengan Islam dimulai ketika ia duduk di bangku SMP. Setelah lulus SD, Eko tidak tinggal seatap lagi dengan ayah, ibu dan keempat adiknya. Ia pindah, tinggal di rumah Samsiah, nenek dari pihak ayah yang ternyata seorang Muslimah. Waktu itu, setiap pulang sekolah Eko menyempatkan berkunjung ke rumah orangtuanya terlebih dahulu, dan sore hari ia pulang untuk menemani sang nenek.

Samsiah adalah seorang pribumi yang dinikahi pria etnis Tionghoa. “Kakek saya Cina totok. Ia sudah Muslim ketika menikahi nenek. Umur kakek tidak lama. Sejak saya kecil dia sudah meninggal. Dan tidak tahu kenapa, ayah saya kembali memeluk Konghuchu, padahal kedua orang tuanya Islam,” tuturnya sambil tersenyum.

Sejak tinggal dengan Samsiah, Eko melihat keseharian dia dalam melakukan ritual ibadah. Setiap malam Eko menyaksikan sendiri neneknya bangun untuk bermunajat kepada sang Khalik dengan bertahajud. Awalnya Eko merasa aneh, karena dirinya belum mengenal Islam. Shaum Senin-Kamis pun manjadi rutinitas bagi Samsiah. Dari sana, Eko menyimpulkan neneknya muslimah yang taat.

Namun, sang nenek tidak pernah menyuruh Eko pindah agama. Samsiah hanya mengajarkan suri tauladan berdasarkan Islam pada Eko. Sejak saat itu, agama yang dibawa baginda Rasulullah Saw ini mulai meninggalkan bekas positif dalam benak dan hati Eko.

KERAGUAN MUNCUL SAAT KULIAH

Lulus SMA tepatnya tahun 1979 Eko hijrah ke Bandung. Ia melanjutkan studinya ke Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan. Di sini Eko aktif dalam senat mahasiswa dan mulai berinteraksi dengan banyak mahasiswa Muslim.
Eko mulai mengamati rutinitas kawan-kawannya di senat mahasiswa. Salah satu yang menarik adalah ketika mereka yang muslim sedang beraktifitas, mereka tidak segan meninggalkan kegiatannya sejenak saat waktu shalat tiba.

Dari sana Eko mulai bertanya, “meskipun setiap minggu ke gereja, kok batin saya selalu hampa? Saya merasa jauh dengan Tuhan. Padahal, ketika saya memeluk Islam Allah tuh gak jauh-jauh amat,” ungkapnya sembari tersenyum.
Hal itu mendorong Eko untuk membuka diskusi dengan teman-temannya sesama aktifis yang beragama Islam seputar ritual agama. Eko merasa hubungan umat Islam dan Sang Pencipta sangat jelas. Dengan ibadahnya Eko menilai, kaum Muslim memiliki keteraturan dalam berhubungan dengan Allah SWT.

Dari situ Eko mulai tertarik akan ajaran Islam. “Saat mahasiswa saya semakin berpikir rasional. Menurut saya, dalam Katolik saya hanya menjalankan ritual saja, dan itu tidak menentramkan,” ungkapnya.

Keraguan mulai menghinggapi Eko. Berbeda dengan penganut Katolik yang hanya bisa “bertemu” Tuhan seminggu sekali, ia melihat umat Islam bisa berkomunikasi dengan Tuhannya minimal sehari lima kali. “Apakah saya sudah tepat memeluk agama Katolik?”, tanyanya dalam hati.

  Keraguan Eko diperkuat dengan ajaran Katolik yang mengatakan untuk masuk surga kelak cukup memercayai Yesus sebagai juru selamat. Menurutnya itu tidak mendidik. “Islam itu rasional, tidak seenaknya. Jika ingin mendapat ridho Allah SWT kita harus selalu mendekatkan diri, tidak sekedar percaya,” tegasnya.

Di akhir masa kuliahnya, saat penyusunan skripsi dan menjelang waktu wisuda, mebuat Eko banyak merenung. Ia mulai yakin akan Islam. Maka pada 1986, setelah satu tahun lulus kuliah Eko dianjurkan beberapa teman dari senat mahasiswa dulu untuk belajar Islam pada seorang ustadz.

“Mas Budiono kakak angkatan saya, Khairani John, dan Asep Iwan Irawan, teman di senat sewaktu mahasiswa melihat potensi saya masuk Islam besar. Mereka mengenalkan saya dengan ustadz H. Agus Syam (alm), dia waktu itu menjabat sebagai Asisten Logistik Kodam III Siliwangi,” kata Eko sambil menerawang.

Butuh setahun bagi Eko untuk mendalami Islam hingga keputusannya bulat mengucap syahadat. Ia mulai meninggalkan gereja, dan pada Ramadhan 1987 Eko pun berikrar disaksikan rekannya juga ustadz Agus Syam.

PENENTANGAN ITU PUN MUNCUL

Keislaman Eko tidak seterusnya berjalan mulus, ketika teman-teman dan dosennya yang beragama Katolik tahu Eko mulai dijauhi. Tapi Eko tak bergeming. Keputusan dan tekadnya sudah bulat. “Islam adalah jalan yang sempurna,” pikirnya.

Setelah lulus, Eko mengambil kuliah Notariat di Universitas Padjadjaran Bandung. Di sana ia berkenalan dengan seorang gadis Muslimah dari keluarga Muslim yang taat, Betty Hasmiyani namanya.

Eko yang sudah memiliki hasrat berkeluarga mulai mendekatinya. Gadis kelahiran Magelang, yang terpaut 4 tahun lebih muda dari Eko itu memberikan sikap positif. Namun, keinginan Betty bertolak belakang dengan keluarganya.
Mohammad Dien, ayah Betty secara terang-terangan meminta Eko menjauhi anaknya. “Pokoknya jauhi anak saya. Saya tidak yakin dengan keislaman Saudara. Saya takut itu hanya kamuflase. Kira-kira itu yang calon mertua saya katakan,” kisahnya sambil tersenyum.

Tapi itu tidak menyurutkan keinginan Eko meminang Betty. Niat keduanya sudah kuat. Eko merasa keyakinannya terhadap Islam datang bukan karena ingin menikah. Menurut Eko itikad baiknya menjalankan salah satu anjuran Rasul Saw, menikah, harus terlaksana. Eko tidak kehabisan akal. Ia kemudian mendatangi keluarga Betty dengan ditemani ustadz yang sudah dianggap sebagai orang tuanya, H. Agus Syam.

Di depan orang tua Betty, ustadz Agus Syam meyakinkan mereka dengan berkata, “Dia anak didik saya. Saya akan bertanggungjawab penuh atas dirinya.”

Akhirnya keluarga Mohammad Dien berubah pikiran. Restu kepada Eko untuk menikahi Betty pun turun. Eko menikahi Betty pada Agustus 1989 di  gedung Moh. Toha Kodam III Siliwangi. Eko kini dikaruniai dua orang putera, Esa Mahira Arman (19) dan Egi Mahira Irham (16).

Kini selain menekuni pekerjaan sebagai konsultan hukum, Eko pun bergelut dalam dakwah. Eko bergabung dengan PITI (Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) pada tahun 1990-an. Dan kini ia menjabat sebagai ketua PITI Jawa Barat, sejak Maret 2009.

LINGGA
Comments (1) >>
...
written by noki, December 09, 2010

berutunglah orang2 seperti anda,mendapatkan hidayah,surga menanti anda.

Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
   
 
   
 
 
 
 
 
Alhikmah Terbaru