Advertisement
 
 
Memberi yang Terbaik Cetak E-mail
Tuesday, 01 September 2009

Setelah melakukan road show ke berbagai kota di Indonesia dan juga ke beberapa negara, saya beristirahat di rumah. Saya habiskan waktu istirahat untuk bercengkerama dengan anak-istri, membuka internet dan membaca buku.
Ketika saya sedang menuntaskan membaca buku The 8th Habit karya Stephen R. Covey terdengar suara parau “kain lap… handuk…keset…kain lap” berulang-ulang. Sayapun bergegas keluar untuk melihat asal suara itu.

Terlihat seorang wanita tua mengendong buntalan kain.  Di bawah sengatan terik matahari, ia terus berjalan dan meneriakkan “kain lap..handuk..keset..kain lap.”  Buntalan yang digendong wanita tua itu cukup besar.  Dari cara jalannya yang condong ke depan, saya yakin buntalan itu sangatlah berat.

Saya memanggil ibu tua itu untuk masuk ke halaman rumah saya. Wajahnya merah tersengat matahari. Keringat di wajahnya diseka menggunakan tangannya. “Jualan apa bu?” saya membuka percakapan. Dia menjawab “ini den, jualan kain lap, handuk, keset buatan anak-anak yatim di kampung.” “Memang ibu kampungnya di mana?” tanya saya. “Majalaya - Bandung den” jawab sang ibu.  Sayapun terperangah, seorang ibu yang telah tua bersedia dan mampu berjualan dari Majalaya Jawa Barat ke Bogor yang jarak tempuhnya lebih dari 5 jam.

Ibu tua yang bernama Etin itu ternyata berjualan ke berbagai kota di Jawa Barat.  Ibu Etin akan kembali ke kota yang sama tiga bulan kemudian. “Tidurnya dimana bu?” tanya saya. Wanita berputera enam dan bercucu empat itu menjawab “Kadang di rumah pak RT,  kadang di masjid, ya..dimana saja, yang penting aman”

“Kenapa ibu masih jualan?” Tanya saya penasaran. Ibu Etin yang murah senyum itu menjawab, “di kampung saya banyak anak yatim. Saya senang sama mereka. Mereka membuat keset, handuk dan kain lap ini, tapi tidak bisa menjual. Maklum masih anak-anak, takut ketemu orang. Saya ingin membantu mereka tapi saya nggak punya uang.  Yang saya punya satu-satunya hanya tenaga. Jadi, saya bantu mereka jualan. Kalau hasilnya laku dijual khan mereka bisa terus membuat kain lap ini dan bisa sekolah.”

Cintanya kepada anak yatim, menjadikan Ibu Etin penuh semangat menjajakan dagangannya. Dia melupakan usianya. Dia abaikan jarak tempuh.  Dia lupakan tidur bersama putera dan cucunya . Dia gendong 20 kodi (400 potong kain) dari satu tempat ke tempat lain untuk ditawarkan kepada para pembeli.

Dari obrolan di halaman rumah, saya jadi mengerti bahwa  milik paling berharga yang Ibu Etin miliki saat itu hanyalah tenaga. Dia kerahkan segenap tenaga yang dimiliki untuk membantu orang lain. Walau usianya sudah senja, dia ingin tetap memberikan yang terbaik buat anak-anak yatim di kampungnya. Dia tidak mau berhenti.  Dia terus berjalan dari satu kota ke kota lain.

Ketika banyak orang berharap bantuan, sayapun bertanya, apakah hal terbaik yang saya punya? Saya ingin menyumbangkan yang terbaik bagi mereka.  Yang terbaik pasti bukanlah pakaian layak pakai.  Yang terbaik pasti bukanlah berlomba mendengar dan membaca berita seputar derita dan kesengsaraan mereka. Yang terbaik tentu adalah berbuat, bertindak dengan memberikan hal terbaik yang saya punya.

Ketika saya letih, lesu dan kurang tidur, terbayang wajah Ibu Etin.  Wajah tua dan keriput namun memiliki semangat yang luar biasa.  Sayapun malu bila harus mengeluh, malu bila cepat lesu dan letih.  Saya malu kepada Ibu Etin, juga kepada Allah SWT yang telah memberikan banyak nikmat dalam kehidupan saya, namun semangat dan daya juang saya kalah dibandingkan dengan seorang nenek yang telah renta.

Suara Ibu Etin ketika menjajakan barang dagangan keliling kota, menginspirasi saya untuk selalu berkarya dan memberi yang terbaik. “Kain lap… handuk…keset…kain lap..handuk …keset….”  Terima kasih Ibu Etin, engkau begitu mulia di mata saya. 

Comments (2) >>
...
written by Edy Riswantoro, January 16, 2010

Subhannalloh Begitu Mulia Perjuangan Seorang Nenek Di usia nya Yang sudah senja untuk membantu anak2 yatim.setelah saya membaca artikel ini saya harus memotivasi diri untuk lebih santun pada anak yatim piatu.smilies/smiley.gif)


...
written by budi, January 08, 2010

Luar Biasa!!!

Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >