| Mendamba Pemimpin yang Adil |
|
|
| Sunday, 01 March 2009 | |
|
Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Tahukah siapakah orang yang rugi di antara kita?” para sahabat menjawab: “Ya Rasulullah, menurut hemat kami orang yang rugi adalah orang yang tidak mempunyai harta, dan tidak pula kesenangan duniawi. Kemudian Rasul bersabda: ”Orang yang rugi adalah orang yang datang nanti di akhirat membawa pahala shalat, shaum, zakat dan haji. Namun, ia ketika di dunia pernah berbuat menyakiti orang lain, mengambil hak orang lain memakan harta orang lain dan menumpahkan darah orang lain. Oleh Ridwan, M.Ag* Maka orang yang pernah disakiti, dirampas hartanya atau dibunuh tersebut akan datang mengurangi pahala orang yang berbuap dzalim. Jika pahala orang yang berbuat dzalim itu habis, maka kesalahan yang teraniaya itu akan ditimpakan kepada orang yang berbuat dzalim itu. Lalu ia akan dilemparkan kepada neraka.”. HR Attirmidzi. Hadist di atas memberikan gambaran kepada kita, orang yang merugi bukan orang yang berbisnis lalu bangkrut, bukan pula orang yang tertipu orang lain dan bukan pula orang yang tak memiliki penghasilan bulanan. Justru orang yang rugi menurut Rasul adalah orang yang berbuat aniaya kepada orang lain, bisa berupa korupsi harta Negara, bisa pula merampas hak hidup orang lain, seperti penggusuran tanah secara dzalim. Sebagai pemimpin di masyarakat, boleh jadi berbagai kesempatan atau peluang Sangat terbuka. Tidak menutup kemungkinan adanya orang yang menyuap untuk pembebasan tanah rakyat. Sementara caranya dengan mengintimidasi agar dapat dijual murah. Masih untung untuk kepentingan umum tapi kalau hanya untuk kepentingan pribadi atau untuk segelintir orang, sungguh sangat keterlaluan. Apalah artinya kita memiliki harta yang banyak, tapi mendapatkannya melalui korupsi. Apalah artinya kita menduduki jabatan tinggi, tapi dengan cara harus menyikut orang lain. Apalah artinya kita mempunyai penghasilan besar, namun harus mengorbankan penderitaan orang lain. Suatu hari, seorang Yahudi miskin dari Mesir datang kepada Khalifah Umar bin Khathab. Ia mengadukan gubuknya yang kecil terkena penggusuran oleh gubernurnya Amir bin Ash untuk membangun perluasan istana. Ia mengeluh karena tidak memiliki tempat tinggal selain gubuk itu. Umar menerima keluhan itu. Ia berikan sebuah tulang yang dipotong dan diberi garis lurus oleh pedangnya. Orang yahudi itu kembali ke Mesir dan memberikannya kepada Amir bin Ash. Amir bin Ash pun terkejut setelah menerima pesan Umar berupa tulang. Gemetar tubuhnya dan penggusuran itu tidak jadi dilaksanakan. Orang Yahudi itu kaget dan bertanya, ”Mengapa tidak jadi, tuan?” Amir bin Ash menjawab, “Tulang ini seolah-olah berkata, Hai Amir jangan mentang-mentang sekarang engkau mempunyai jabatan. Jika engkau lurus menegakan keadilan, maka aku bersamamu. Tapi jika engkau bengkok, maka pedang ini yang akan meluruskanmu.” Oleh karena itu, apa pun yang kita raih dengan cara mendzalimi orang lain, ini merupakan petaka untuk akhirat kita. Sepatutnya lah kita mendahulukan kepentingan umum ketimbang kepentingan pribadi, apa lagi dengan cara tak terpuji. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




