| No. 39 Oktober 2009 / Syawal 1430 H |
|
|
| Thursday, 01 October 2009 | |
|
Assalamu’alaikum wr. wb. Simsalabim, Sulap itu Trik atau Sihir? Anda tentu sudah mafhum, jika sulap memang tengah marak, terutama yang menghias layar kaca negeri ini. Sesosok manusia bisa hilang begitu saja hanya dengan hitungan detik. Bahkan kepala manusia bisa dipotong-potong, namun masih tetap bernyawa tanpa ada sedikitpun luka yang membekas. Puncaknya, salah satu stasiun televisi swasta menayangkan program ‘The Master’, awal tahun ini. Ratusan orang mengantri untuk mengikuti audisi agar bisa meraih gelar The Master. Padahal seleksi The Master dilakukan secara tertutup se-Jabodetabek dan Bandung. Pro-kontra pun menyeruak. Paska penayangan The Master yang menampilkan adegan Cosmo (Fakir Magician) yang melukai diri sendiri dengan benda-benda tajam dan berbahaya, sekitar 25 pesantren di Jawa Timur yang dimotori oleh, ketua MUI Jawa Timur, KH. Khoirul Rozy angkat bicara. Melalui rapat Bahtsul Matsail yang digelar pesantren Abu Dzarrin, Kendal, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, MUI Jatim mengambil kesimpulan bahwa acara The Master masuk dalam kategori haram. Seterusnya tentang sulap, bisa Anda simak di Sajian Utama Alhikmah edisi 39, Oktober 2009 ini. Pembaca Alhikmah, sosok yang kami angkat dalam rubrik Profil penerbitan ini, adalah Muharani Meisarah. Tahukah Anda siapakah Muharani Meisarah? Ya, beliau ini adalah arsitek di balik sukses sekolah Mutiara Bunda. Sekolah internasional dengan sistem pendidikan dan kurikulum yang berbeda dengan sekolah lain. Di rubrik Hidayah, pemilik situs mualaf.com, yang juga seorang Mualaf, bertutur tentang kisahnya menemukan Islam. Steven betul-betul tak menyangka kebenciannya yang mendalam terhadap Islam, justru mengantarkan dia secara perlahan jatuh di pelukan agama tauhid ini. Selama menjalani pendidikan calon bruder (penyebar agama Katolik), dirinya mendapatkan kenyataan pahit. Pastur yang selama ini ia hormati, ternyata melakukan perbuatan asusila terhadap para suster. Demikian pula para frater yang menghamili siswinya, serta para bruder yang menjadi homo. Ketika memutuskan masuk Islam, Indra kemudian diusir oleh ayahnya, setelah dipaksa menandatangani surat pernyataan di hadapan notaris, mengenai pelepasan haknya sebagai salah satu pewaris dalam keluarga. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




