Advertisement
 
 
Tabayyun dan Pertaruhan Reputasi Media Cetak E-mail
Thursday, 01 October 2009

Masih ingat penggerebekan ‘Noordin M. Top’ di Temanggung beberapa waktu lalu?  ‘Heroik’ sekali  kelihatannya. Sorot  kamera liputan langsung, mempertontonkan sebuah rumah tinggal di Tenggulun, Temanggung, tengah dikepung oleh sepasukan Densus 88. Berkali-kali, rentetan tembakan dari berbagai sudut mata angin, jelas terdengar di daun pendengaran. Tang … tang .. tang … tang…

TV One saat itu, Sabtu (8/8/09) yang menyiarkan. Kebetulan, saya pun turut menyaksikan lewat layar kaca. Liputan  langsung disampaikan dua reporternya, Ecep S. Yasa dan Grace Natalie (tolong dikoreksi jika salah). Tentu, bagi media, peristiwa itu tak boleh terlewatkan. Lebih istimewa lagi, jika bisa memeroleh liputan eksklusif, seperti tvOne.

Tak seberapa lama, setelah serentetan tembakan terus mengarah ke rumah tersebut, sang reporter, Ecep S. Yasa dengan penuh percaya diri melaporkan, bahwa Noordin M. Top berhasil ditembak, lalu tewas.

Namun kemudian, laporan ‘meyakinkan‘ itu  ternyata keliru. Polisi membantah bahwa pihaknya yang memastikan orang tewas dalam penggerebegan tersebut adalah Noor Din M. Top.

Mantan wartawan Kompas dan BBC London, Arya Gunawan, dalam artikelnya ‘Sebilah Bumerang bagi Media’ menuliskan kritiknya atas peristiwa tersebut. Menurut Arya, penyebab kesalahan editorial yang dialami tvOne ini adalah apa yang dalam disiplin jurnalisme disebut sebagai verifikasi, yakni bahwa setiap informasi yang diterima oleh seorang jurnalis tidak boleh diterima begitu saja. Diperlukan proses untuk meyakini bahwa informasi tersebut benar, atau setidaknya mendekati kebenaran, antara lain dengan menyaksikan sendiri, atau lewat pengecekan silang ke sumber lain.

Jika kedua langkah ini belum dimungkinkan, masih ada satu cara yang sebetulnya sederhana, yang membuat jurnalis masih memiliki ceruk aman untuk berlindung jika kelak dipertanyakan masyarakat: pilihlah kata yang tepat. Untuk kasus mengenai siapa yang telah tewas di rumah di Temanggung itu, jurnalis jelas dimungkinkan untuk memakai kata “diduga”, dan bukan “dipastikan”, sehingga laporan sang jurnalis menjadi: “Orang yang tewas sebagai akibat dari aksi penyerbuan polisi ke rumah di Temanggung ini diduga adalah Noor Din M. Top.”

Alquran sendiri sudah sejak 14 abad silam memperingatkan tentang pentingnya cek dan ricek (tabayyun). Seperti firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 6. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya/ tabayyun) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.
Jika sudah seperti ini, siapa paling besar ketiban rugi? Media yang bersangkutan sudah pasti. Konsumen yang mayoritas umat muslim, apalagi! Pun pencitraburukkan Islam yang lekat dengan terorisme.

Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
   
 
   
 
 
 
 
 
Alhikmah Terbaru