Advertisement
 
 
Seperti Teka-teki Cetak E-mail
Thursday, 01 October 2009

Saya tidak tahu, sejak kapan istilah sulap mulai dikenal dan menjadi bagian dari kebudayaan manusia. Mungkin, sulap telah dikenal sejak zaman nenek moyang. Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar pada akhir 1960-an, saya pun mulai mengenal sulap dan sering meninggalkan kelas karena nonton sulap.

Sejak saya mulai mengenalnya, terkesan bahwa sulap bukan merupakan sesuatu yang baru. Ia seolah telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Ia bahkan menjadi semacam pelengkap penggembira ketika ada kerumunan manusia. Di pasar-pasar tradisional, saat itu, sulap malah hampir selalu melekat dengan pertunjukan yang diperankan seorang pedagang obat tradisional.

Ada beberapa kelengkapan lain yang biasa digunakan untuk pertunjukan sulap. Di mata anak-anak saat itu, para pedagang obat tradisional biasanya identik dengan tukang sulap atau seorang jagoan yang memiliki ilmu kekebalan. Badannya kekar, berambut gondrong, pakaian serba hitam, dan kadang tampak jarang tersentuh air. Dengan kemampuan retorikanya yang luar biasa, dia menawarkan berbagai khasiat obat-obatan yang diramunya sendiri, sambil sesekali menggerak-gerakkan golok panjang. Ular besar juga biasanya selalu dibawa untuk menggenapkan kesan seorang jagoan. Ada kesan angker tersirat dalam keseluruhan penampilannya.

Para penonton yang kebanyakan anak-anak biasanya sabar menunggu hingga pertunjukan sulap dimulai. Dengan membaca mantra-mantra yang tidak jelas kalimat dan maknanya, sulap pun mulai digelar. Ada kertas berubah jadi uang; saputangan berubah jadi seekor burung merpati; naik sepeda dengan mata tertutup; dan lain sebagainya. Pendeknya, para penonton dibuat terkesima dengan berbagai macam sulap yang dipertunjukkannya. Para penonton dewasa pun mulai tertarik membeli obat yang dijajakannya. Yang saat itu tidak sempat saya ketahui, apakah obat-obat itu mujarab menyembuhkan penyakit atau tidak. Wallahu ’alam.

Anak-anak sekarang mungkin tidak pernah kenal pemain sulap yang biasa menggelar pertunjukan di pasar tradisional. Selain pasar tradisional kini semakin habis tergeser super market, para pemain sulap generasi sekarang juga sudah tidak lagi pentas seperti para pendahulunya. Mereka sekarang tampil lebih modern, menggelar pertunjukan di gedung-gedung mewah, dengan para penonton yang serba eksekutif. Dan sulap bahkan kini hadir di layar-layar televisi.

Pertanyaannya kemudian, apakah sulap yang saat ini marak di televisi sama dengan sulap yang dulu biasa mangkal di pasar-pasar tradisional? Lalu apa sebetulnya sulap itu? Dan, yang sering juga disangsikan sebagian kalangan, apakah sulap dibenarkan menurut ajaran agama?

Dalam batas-batas tertentu, sebagai alat hiburan, sulap tidak lebih dari sebuah permainan. Ibarat sebuah teka-teki yang dalam kebudayaan masyarakat Sunda biasa disebut tatarucingan. Bedanya, teka-teki atau tatarucingan umumnya disajikan dalam bentuk lisan atau bisa juga tulisan, sedangkan sulap merupakan ”teka-teki” yang disajikan dalam bentuk gerakan-gerakan tubuh. Gerak tubuh ini biasanya lebih banyak diperankan tangan. Keterampilan tangan memainkan gerakan-gerakan istimewa menjadi modal utama permainan sulap. Ia dimainkan dengan menggunakan tangan-tangan terampil, melalui gerakan-gerakan jari dan tangan yang lebih cepat dari gerakan mata para penontonnya.

Jadi, jika yang dimaksud dengan sulap itu hanya sebatas hiburan dengan menggunakan fasilitas keterampilan tangan seperti disebutkan di atas, maka tidak ada masalah bila dilihat dari sudut pandang mana pun, termasuk, menurut saya, dari sudut pandang ajaran agama. Mungkin ada kesan menipu. Misalnya, ketika seorang pemain sulap mengatakan bahwa potongan kertas dapat berubah menjadi selembar uang, padahal sebetulnya uang itu sudah ada sebelum kertas itu ”disulap” menjadi uang, maka orang merasa tertipu. Tapi di situlah letaknya permainan. Ia menjadi bagian dari seni memainkan keterampilan tangan, selama tidak secara sengaja dimaksudkan untuk menipu orang.
Akan tetapi, jika sulap sudah dibumbui aspek magik dengan menggunakan kekuatan supernatural, maka, meminjam istilah yang digunakan Alquran, ia sudah masuk pada kategori sihir. Di sini tidak ada lagi seni memainkan keterampilan tangan, melainkan sudah memasuki dunia irrasional.

Dalam sejarah para nabi dan rasul, istilah sihir sudah banyak dikenal umat manusia. Bahkan boleh jadi sihir sudah menjadi bagian dari kebudayaan nenek moyang mereka. Dalam konteks perlawanan terhadap misi para rasul, mereka menggunakan kekuatan sihir terutama untuk mengimbangi keistimewaan mukjizat yang dimiliki para utusan Allah itu. Di antara para pengikut Nabi Musa, misalnya, ada sebagiannya yang dikenal ahli sihir. Bahkan, ketika Nabi Muhammad Saw diangkat menjadi rasul pun, para pemuka Quraisy menuduh Muhammad sebagai tukang sihir.

Seperti diceritakan dalam Alquran, di antara perwujudan sihir yang berkembang pada zaman Musa adalah keluarnya sejumlah ular ke hadapan Musa. Lalu Musa pun mendapat perintah Tuhan untuk memukulkan tongkatnya, dan keluarlah ular-ular dalam ukuran dan jumlah yang jauh lebih besar. Konon, ular mukjizat Musa itu memakan habis ular-ular kecil yang dihadirkan para tukang sihir. Inilah yang dituduhkan kepada Musa sebagai tukang sihir, padahal sebetulnya mereka sendiri tahu kalau itu bukan sihir. Hanya saja, mereka tidak sanggup, dan tidak mungkin sanggup, mengimbangi keistimewaan yang diperankan Musa.

Mereka menyadari kalau sihir itu memang merupakan kebohongan atau bahkan penipuan. Ketika Nabi Muhammad dituduh sebagai tukang sihir, secara implisit tuduhan itu mengandung arti bahwa sihir tidak lebih dari kebohongan. Banyak keistimewaan mukjizat para rasul yang dituduh sebagai sihir. Keluar air dari jari tangan yang menjadi salah satu mukjizat Nabi Muhammad, misalnya, telah mengundang orang-orang kafir Quraisy cemburu, iri, takut, sehingga diisukanlah bahwa Muhammad sebagai pembohong dan tidak lebih dari tukang sihir.

Semua keistimewaan itu hanya bisa diberikan kepada para nabi dan rasul yang mendapat mukjizat. Dan mukjizat tidak diberikan kepada manusia biasa. Ada memang manusia yang memiliki keistimewaan. Tapi itu hanya terjadi dalam wilayah kemanusiaan meskipun tidak dapat dilakukan oleh setiap orang. Keistimewaan-keistimewaan atau kelebihan-kelebihan manusia itu tidak termasuk mukjizat meskipun tidak bisa dilakukan oleh setiap orang.

Nah, di antara tarik menarik antara kemampuan manusiawi dengan keistimewaan mukjizat inilah sulap dapat disalahtafsirkan oleh para penontonnya. Seperti teka-teki, sulap dapat dimainkan oleh siapapun yang sanggup mempelajarinya. Seperti teka-teki pula, tidak banyak orang dapat menebaknya.

Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >