Advertisement
 
 
Masyarakat Madani atau Negara Madani Cetak E-mail
Thursday, 01 October 2009

Perspektif sebagian khalayak umum telah menerima Muhammad adalah Nabi dan Rosul yang membawa risalah untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia di  bumi ini.

Akan tetapi kalau pandangan tersebut kita alihkan kepada pandangan apakah Muhammad Kepala Negara atau hanya sekedar pemimpin ritual umat Islam saat itu, tentu saja berbagai perspektif akan muncul  dipikiran manusia tak terkecuali pandangan umat Islam sendiri.

Pandangan ini tentu saja dipengaruhi oleh ideologi apa yang sedang bercokol didalam akal masing-masing individu tersebut.

Ada sebagian kaum muslimin yang berpandangan bahwa saat di Madinah, Rasulullah hanya pemimpin ritual belaka yang mengarahkan manusia untuk memiliki akhlak yang mulia. Pandangan tersebut juga beranggapan bahwa saat itu aktivitas Rasulullah terlepas dari aktivitas politik, beliau hanya mengadakan suatu aktifitas ibadah ritual secara individual.

Pemikiran inilah yang sampai sekarang masih membelenggu sebagian dari umat Islam sehingga menjadikan mereka suatu kaum yang apatis yang tidak dengan sekuat tenaga menjadikan Islam ini Rahmatan lilalamin dengan aturannya yang diterapkan di masyarakat.

Apabila pemikiran ini terus berkembang dan diterima oleh mayoritas umat Islam maka niscaya Alquran dan sunnah akan menjadi buku berjalan yang hanya sekedar teori belaka untuk dihafalkan dan untuk dilafalkan bukan diterapkan dalam kerangka yang sesungguhnya.

Hal ini disebabkan oleh bercokolnya pemikiran asing yang mendominasi umat Islam. Dalam kitab Takattul Al Hizb dijelaskan bahwa bercokolnya tsaqofah asing dan racun asing serta merajalelanya kebodohan telah memunculkan dua macam kelompok orang-orang pragmatis ditengah-tengah umat.

Kelompok pertama adalah kelompok orang-orang yang bersikap realistis/pragmatis, yang menyeru umat untuk menerima realitas, rela dengan realitas dan menyerah pasrah kepada realitas, seakan-akan realitas adalah suatu keharusan yang tidak bisa ditolak.

Kelompok kedua adalah kelompok orang-orang zalim yang enggan hidup dalam kebenaran, karena mereka terbiasa hidup enak dalam kegelapan, terbiasa tidak peduli terhadap orang lain, dan berpikir secara dangkal.

Masyarakat madani merupakan konsep yang memiliki banyak arti atau sering diartikan dengan makna yang berbeda-beda. Bila merujuk kepada Bahasa Inggris, ia berasal dari kata civil society atau masyarakat sipil, sebuah kontraposisi dari masyarakat militer.

Merujuk pada Bahmueller (1997), ada beberapa karakteristik masyarakat madani, diantaranya: Pertama, Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok eksklusif kedalam masyarakat  melalui kontrak sosial dan aliansi sosial. Kedua, Menyebarnya kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif.

Ketiga, dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh negara dengan program-program pembangunan yang berbasis masyarakat. Keempat, Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena keanggotaan organisasi-organisasi volunteer mampu memberikan masukan-masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah.

Kelima, Tumbuh kembangnya kreatifitas yang pada mulanya terhambat oleh rejim-rejim totaliter. Keenam, Meluasnya kesetiaan dan kepercayaan sehingga individu-individu  mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.

Ketujuh, Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan berbagai ragam perspektif.

Oleh karena pandangan diatas maka munculah pemikiran bahwa masyarakat madani adalah masyarakat dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingan-kepentingannya berdasarkan standard kehidupan halal dan haram.

Namun demikian, masyarakat madani bukanlah masyarakat yang sekali jadi, yang hampa udara. Masyarakat madani adalah konsep yang cair yang dibentuk dari proses sejarah yang panjang dan perjuangan yang terus menerus.
Tanpa prasyarat tesebut maka masyarakat madani hanya akan berhenti pada jargon. Masyarakat madani akan terjerumus pada masyarakat “sipilisme” yang sempit yang tidak ubahnya dengan faham militerisme, demokrasi dan sering melanggar hak azasi manusia.

Apa yang sering kita dengar tentang masyarakat Madani sebenarnya adalah Negara Madani (Islam) yang dibangun oleh Rasulullah di mulai dengan adanya baiat Aqabah kedua. Dimana Rasulullah mengumpulkan pemuka-pemuka kaum atau kabilah yang terdapat di Madinah untuk loyal terhadap Rasulullah sebagai pemimpin mereka, walaupun mereka harus kehilangan harta, nyawa dan pemimpin-pemimpin mereka.

Negara Islam sangat jauh berbeda secara mendasar dengan masyarakat sipil yang dikaitkan dengan demokrasi, seperti yang sering sekali dikampanyekan oleh orientalis dan Sipilis. Negara Islam merupakan suatu tatanan sosial masyarakat yang terikat oleh suatu pemikiran, perasaan dan sistem aturan yang berlandaskan akidah Islam sehingga menjadi masyarakat yang khas yang membentuk hadharah (peradaban) yang khas juga.
Wallahua’lam bishawab.   


* Penulis adalah anggota Komunitas Pengusaha Rindu Syariah (KPRIS)
Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >