Advertisement
 
 
Maharani Meisarah: Arsitek di Balik Sukses Mutiara Bunda Cetak E-mail
Wednesday, 04 November 2009

ImageSebagian orang mungkin tidak asing dengan sekolah Mutiara Bunda. Sekolah internasional dengan sistem pendidikan dan kurikulum yang berbeda dengan sekolah lain. Tapi, tahukah Anda siapakah yang berada di balik kesuksesan Mutiara Bunda? Dialah Muharani Meisarah, yang akrab disapa Sarah.

Bergelut dengan dunia pendidikan ternyata bukan keinginannya sejak kecil, meskipun dirinya tidak tahu ingin menjadi apa ketika dewasa. Namun, karena ada ketertarikan dan kemampuan yang muncul, akhirnya Sara menikmati profesi ini selama 19 tahun.

Dilahirkan dari keluarga yang pas-pasan, membuat dirinya harus berpikir kreatif. Terlebih, sang ayah, Arlinus Sutrisno, yang bekerja sebagai pengemudi taksi di Jakarta, dan ibunda, Juniar seorang penjahit baju wanita, hanya mampu membiayai pendidikan Sara hingga SMA.

“Kalau mau kuliah harus bisa membiayai sendiri,” katanya, mengenang ucapan orangtua dulu. Bukannya demotivasi, hal tersebut justru menjadi tantangan bagi Sara, yang sejak kecil sudah dididik untuk mandiri.
Sara pun nekad mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi Negeri, dan lulus tes masuk di dua PTN sekaligus, yakni; Jurusan Bahasa Inggris, IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta_red) dan Politeknik Sipil, Universitas Indonesia (UI).

Namun, ayahnya tak setuju jika Sara memilih Politeknik Sipil.

“Ayah sangat tidak setuju karena dari 50 orang yang lulus di politeknik UI, hanya tiga orang perempuannya dan saya salah satunya. Bapak pun langsung menyatakan keberatan kalau saya masuk politeknik,” ungkapnya.

Akhirnya, sehari sebelum batas akhir pendaftaran, Sara berinisiatif pergi ke Bandung untuk meminta pertimbangan tantenya, yang seorang Dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB), (alm) Rosnelly Hamron, tentang jurusan apa yang seharusnya dia ambil.

“Menurut Tante, seorang wanita muslimah cocoknya adalah menjadi pendidik, atau guru, karena lebih aman kerjanya. Sedangkan sipil lebih terlihat seperti laki-laki. Saya sebenarnya tidak suka bahasa Inggris, tapi karena sejak kecil terbiasa menjadi anak baik, akhirnya dengan terpaksa saya ambil jurusan bahasa Inggris dan menjalani perkuliahan setengah hati, ” ujarnya, sembari tersenyum kecil.

Terjebak dalam dunia pendidikan

Alhamdulillah, meskipun menjalaninya dengan setengah hati, Sara mendapatkan beasiswa di jurusan yang ia pilih. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan lain, Sara mencoba mengajar les bahasa Inggris untuk anak-anak.
“Saya mengajar mulai dari tahun 1990-an. Saya terjebak ketika hampir lima tahun mengajar, jumlah kelas les bahasa Inggris semakin bertambah,” ungkapnya.

Melihat fakta demikian, hati Sara bergumam, “ooh, ternyata saya mampu mengajar bahasa Inggris, dan memiliki kemampuan mengajar dengan baik dan menyenangkan.”

1993, setelah berpindah-pindah tinggal dari satu tempat ke tempat lain di Jakarta, kedua orangtua Sara memutuskan untuk menetap di Bandung. Namun kepindahan mereka tidak menjadikan dirinya ikut serta. Terlebih Sara sudah nyaman di Jakarta dengan segudang kesibukan mengajar di sebuah sekolah internasional, mengajar bahasa Indonesia untuk ekspatriat, plus memiliki bisnis yang bergerak di bidang jasa penyediaan guru-guru Bahasa Indonesia bagi orang-orang asing yang membutuhkan.

Namun, dua tahun kemudian Sara memutuskan untuk pindah ke Bandung. Tawaran dari tantenya untuk membuat sekolah, plus sebuah rumah tinggal, membuat Sara berubah pikiran, untuk segera berhijrah dari Ibu Kota.
Rencana persiapan untuk membuat sekolah pun dirancangnya. Konsep, kebutuhan sumber daya manusia, hingga kurikulum yang akan dijalankan. Meski dalam perjalanannya berbagai kendala muncul, namun orangtua dan keluarga terus memberikan semangat dan dukungan.

Sara kemudian mencoba memulai dari kursus bahasa Inggris, beranjak ke kelompok bermain, TK, tingkat Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah pertama dan atas (SMP dan SMA).

 Di tempat tinggalnya di perumahan Batik Jonas, Bandung, yang memiliki Lima kamar, Sara mengawali inisiasi kelompok bermain. Tiga kamar di buat sebagai kelas pendukung untuk perpustakaan, seni, dan komputer. Untuk kelas, Sara memanfaatkan garasi yang terletak di samping rumah.

“Jadi setiap pagi, kalau murid-murid sudah datang mobil harus dikeluarkan,” ungkapnya.
 

Harapan dan keinginan selanjutnya

Kini, sekolah Mutiara Bunda terus berkembang. Salah satu indikatornya adalah minat para orangtua untuk menyekolahkan anaknya di Mutiara Bunda terus meningkat di setiap tahun ajaran baru. Bahkan, bisa dikatakan membludak.

Hal ini tidak serta merta dimanfaaatkan oleh Sara untuk menangguk keuntungan lebih. “Prioritas tetap pendaftar pertama. Jika sudah mencapai batas maksimal, meski pendaftar yang terlambat  mau membayar lebih, kami tetap tidak akan terima,” katanya.

Gedung sekolah Mutiara Bunda, mulai Kelompok Belajar, SD, SMP, SMA tersebar di tiga titik di Bandung .
Kesuksesan membangun jaringan sekolah Mutiara Bunda tak membuat Sara berleha-leha. Beberapa keinginan Sara yang belum terlaksana, antara lain ingin memiliki banyak anak asuh (anak yang bebas biaya sekolah di Mutiara Bunda_red).

Selain itu, Sara pun punya obsesi ingin memiliki sekolah dengan fasilitas praktik yang memadai, semisal: Salon, Fotokopi, bengkel, dan katering, untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Tujuannya agar, anak-anak tersebut, dapat menyalurkan minat dan bakat yang ada pada diri mereka.

Sara juga berharap, para pendidik di seluruh Indonesia dapat menyiapkan anak-anak yang siap terjun ke masyarakat. Bukan semata anak-anak yang siap untuk melaksanakan Ujian Akhir Nasional (UAN). Sehingga mereka memiliki karakter yang terbuka, bertanggung jawab, dan peduli.

Apalagi menurutnya, sebuah institusi sekolah bukan hanya berfungsi sebagai tempat untuk mendidik anak-anak, tapi juga untuk menyebarkan kebaikan-kebaikan yang ada di sekolah tersebut untuk guru-guru yang lain di manapun mereka berada.

Setiap minggu, sekolah Mutiara Bunda banyak dikunjungi guru-guru dari sekolah lain di seluruh Indonesia untuk melihat proses pendidikan di sekolah ini.Tidak hanya dari propinsi-propinsi di Indonesia tapi juga dari negara-negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia.

Saat ini Mutiara Bunda mempunyai divisi Community Service di mana setiap pekan para guru berbagi ilmu dengan sekolah lain yang tidak mampu baik di Jawa maupun di luar Jawa.”Mudah-mudahan dengan kegiatan berbagi ini, guru-guru kami menjadi lebih peduli pada masa depan pendidikan di Indonesia” ujar Sara.
“Kami hanya berusaha,untuk hasilnya kita serahkan saja pada Allah,” pungkas Sara.

(ERNI)
Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >