Advertisement
 
 
Berhaji di Luar Tanah Suci Cetak E-mail
Monday, 01 December 2008

SECARA harfiyah haji berarti "menyengaja pergi menuju tempat yang diagungkan". Sedangkan secara istilah, haji adalah "beribadah kepada Allah dengan melaksanakan manasik haji", yaitu perbuatan tertentu yang dilakukan pada waktu dan tempat tertentu dengan cara tertentu pula.

Oleh H. DENDI ABDUL AZIZ

"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang di maklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal."  (QS. 2 : 97).

Dalam ayat di atas dijelaskan, orang yang sedang  berhaji dilarang untuk rafats. Rafats artinya mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh. Di tanah suci orang difokuskan hanya untuk melaksanakan ibadah haji.

Ibadah haji disyari'atkan kepada mereka yang memiliki kemampuan (istitha'ah) dengan syarat dan rukun tertentu. Menunaikan ibadah haji adalah mengunjungi Mekah untuk menunaikan ibadah thawaf, sa'i, melempar jumroh, wukuf di Arafah dan ibadah-ibadah lain untuk memenuhi perintah Allah dan mengharap keridhaan-Nya.

Setiap tahun tanggal 10 Dzulhijah, jutaan umat Islam berkumpul di Mekah untuk menunaikan puncak ibadah haji.  Jutaan muslim sedunia, dari berbagai suku, bangsa, ras, dan budaya tumpah ruah di sana dengan pakaian yang sama, putih tanpa dijahit.

Suasana haji adalah gabungan kehangatan agamawi dan kegembiraan persahabatan. Setiap orang yang melaksanakan haji merupakan saudara satu sama lain, sebab semuanya sadar bahwa mereka dekat dengan Allah dan sama-sama menyeru kalimat yang sama " Labbaika Allaahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika….! ". Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu… !   Demikianlah rasa persamaan, persatuan, dan persaudaraan serta sinar Islam yang menyala-nyala tiap tahun di Mekah.

Dari segi ini, haji dapat dikatakan sebagai simbol Ummatan waahidatan, kesatuan umat Islam, bahkan umat manusia seluruhnya. Peristiwa ritual ibadah haji tentunya menyadarkan kita, bahwa pada hakikatnya umat manusia adalah satu keluarga.

Komitmen ukhuwah mengajarkan kepada kita, umat Islan secara keseluruhan adalah satu kekuatan dan persaudaraan yang harus saling membela sesama mereka. Dalam kaitan ini ada sebuah hadits yang harus terus kita camkan, yaitu "Barang siapa yang tidak perduli dengan masalah yang dihadapi kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golonganku". Dari hadits inilah kemudian lahir konsep ihtimam, yakni kepedulian terhadap sesama muslim. Konsep itu erat dengan konsep ukhuwah Islamiyah.

Allah SWT menegaskan, "Sesama orang beriman adalah saudara". Setidaknya, sebagai pengamal ihtimam bertandaskan komitmen terhadap ukhuwah Islamiyah, kita turut merasakan apa yang di derita oleh saudara-saudara kita seiman. Nabi Saw. Mengatakan, sesama muslim adalah satu tubuh, bila satu bagian sakit maka bagian yang lainnya turut merasakan.

SEBAGAI seorang muslim kita harus bisa mengambil hikmah di balik ritual ibadah haji. Meskipun kita belum termasuk mampu menunaikannya, di antaranya:
Pertama, menjaga fisik jasmani kita, karena ibadah haji membutuhkan kualitas fisik yang sangat prima. Menjaga fisik merupakan bagian dari ibadah, sebab sebagai titipan Allah, fisik kita harus senantiasa dijaga agar dalam menjalankan ibadah dan kehidupan ini dapat berjalan lancar.

Kedua, mendidik kita menjadi seorang Muslim yang kaya, karena salah satu makna isti-tha'ah adalah memiliki kemampuan secara finansial (keuangan) yang cukup untuk biaya perjalanan haji maupun biaya bagi keluarga yang ditinggalkan. Intinya, setiap muslim dituntut untuk hidup cukup agar dapat menjalankan ibadah dan berbuat baik kepada orang lain.

Ketiga, bersemangat dalam menuntut ilmu terus-menerus dan mengamalkannya, semua ibadah yang di lakukan tanpa didasari dengan ilmunya maka ibadah tersebut akan tertolak. Sebuah ibadah jika tidak dibarengi dengan ilmu tentu akan sia-sia. Terlebih ibadah haji yang memeras tenaga, pikiran, dana dan waktu yang lama, memerlukan dukungan ilmu yang memadai, agar semua pengorbanan yang keluarkan tidak mubadzir terlebih ditolak Allah.
Keempat, menghargai perbedaan dan saling hormat menghormati sesama muslim lainya dari manapun ia, kita dididik bersatu, bersaudara dalam ikatan ukhuwah Islamiyah. Prosesi haji merupakan simbol persaudaraan setiap umat Islam. Di sana diperlukan sikap saling memahami satu dengan yang lainnya. Perbedaan budaya tidak menjadi masalah ketika setiap orang sedang memenuhi panggilan Allah. Semuanya berkumpul dan melaksanakan ibadah bersama-sama.

Kelima, mendidik kita menjadi seorang muslim yang berakhlak mulia. Orang yang melaksanakan haji dintuntut untuk memiliki akhlak mulia. Di tanah suci mereka diuji dengan berbagai hal, karenanya mereka dintuntut untuk berperilaku terpuji, mulai dari sabar, saling menghargai, tidak saling menyakiti dan senantiasa berharap pertolongan hanya kepada Allah.

Keenam, menjadikan kita seorang muslim yang taat dan sabar dalam menghadapi situasi apa pun. Dengan terpaan perilaku yang terbiasa dengan disiplin dalam ibadah, terbiasa menghargai orang lain dan selalu bersabar, hendaknya setiap orang Islam selalu berperilaku mulia kapanpun dan dimanapun mereka berada. *


* Penulis adalah pengurus Bidang Pelayanan, Ibdadah, dan Haji (PIH) Pusdai Jabar.

Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
   
 
   
 
 
 
 
 
Alhikmah Terbaru