| BKLDK: Skandal Century Simbol Matinya Bangsa Indonesia |
|
|
| Wednesday, 27 January 2010 | |
|
BKLDK menganggap talangan yang diberikan kepada Bank yang sekarang berubah nama menjadi Bank Mutiara itu, alirannya sangat kabur dan ditengarai terjadi pembelokan aliran untuk kepentingan politik. Pansus century yang sedianya dapat membongkar kecurangan itu malah sangat jauh dari harapan. Kinerja pansus tidak lebih dari sekedar dagelan politik, yang semakin mencerminkan betapa buruknya wajah Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan. “Oleh karena itu, Kita bukan hanya menyerukan pergantian rezim tapi kita menyerukan pergantian sistem. Sudah berapa kali kita berganti rezim mulai dari soekarno sampai SBY namun nyatanya tidak ada perbaikan untuk rakyat ini. Maka kami memberikan alternatif, alternatif itu adalah sistem syariah,” ungkap juru bicara BKLDK, Chandra Purna Irawan kepada Alhikmah di sela-sela aksi. Bank sendiri, menurut Chandra, merupakan bentuk rentenir yang dilegalkan dari segi hukum. "Belum lagi talangan yang dikocorkan kepada Century ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap rakyat. Pendistribusian kekayaan alam berupa kekayaan amah (rakyat), fardiah (pribadi), dan daulah (negara) di Indonesia ini saling bertabrakan satu sama lain," katanya. Masih menurut Chandra, dalam kasus ini, dana talangan century adalah kekayaan daulah yang berasal dari rakyat oleh karena itu seharusnya dikembalikan lagi kepada rakyat berupa suntikan pendidikan, modal kerja, kesehatan dan bantuan lainnya yang membangkitkan perekonomian rakyat. Maka, tambah Chandra, terjadinya kemiskinan di Inodneisa tidak lain karena faktor system yang dipakai oleh Indonesia. Selesai orasi, para mahasiswa menampilkan aksi teatrikal berupa penyiksaan terhadap para rakyat yang dilakukan oleh para pengusaha dan juga menampilkan keranda mayat yang menunjukan skandal century, simbol matinya bangsa Indonesia. Aksi yang dikawal oleh puluhan polisi ini dimulai dengan berjalan kaki dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan berakhir di Pusat Dakwah Islam Jawa Barat (PUSDAI). (m.yasin/Alhikmah) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




