|
ALHIKMAHONLINE.COM –Tim Khusus Dompet Dhuafa tengah bersiap untuk bertolak ke Haiti untuk membantu korban Gempa 7 Skala Richter, Selasa lalu (12/01/10). Tim ini beranggotakan beberapa orang Dokter dan Ahli Penanganan Bencana yang dipimpin langsung oleh Direktur Program Dompet Dhuafa Republika, M Arifin Purwakananta.
Menurutnya, misi kemanusiaan ke Haiti ini didasarkan pada pertimbangan, diantaranya adalah solidaritas internasional dan visi Dompet Dhuafa yang selalu mengambil peran dalam setiap musibah baik dalam skala nasional maupun internasional. “Haiti adalah salah satu negara miskin di dunia. Lebih dari itu, disana terdapat sekitar lebih dari 3,000 jiwa masyarakat muslim yang berada dalam kondisi memprihatinkan,” ungkapnya.
Rencananya, Dompet Dhuafa akan mengucurkan dana sebesar 3,2 Milyar Rupiah untuk misi Haiti. Dana ini sebagian berasal dari dana Zakat dan bantuan dari CSR sejumlah perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Ada 4 program besar yang akan dilaksanakan di Haiti. Program tersebut adalah Medical Assistant (bantuan medis), Food Feeding Program (program bantuan makanan), Temporary School (sekolah sementara) dan Temporary House (hunian sementara). “Target penerima kita di Haiti, diutamakan untuk korban dari kalangan orang tua, para Ibu, bayi dan orang yang sedang sakit,” jelas Arifin.
Dalam misi ini, Dompet Dhuafa bekerja sama dengan Lembaga Kemanusiaan Muslim Eropa, IHH, yang berbasis di Turki. “IHH sudah banyak berkiprah dalam berbagai misi kemanusiaan di wilayah Haiti selama 5 tahun lebih. Rencananya, di Haiti, kami akan merekrut sejumlah Relawan Lokal untuk membantu distribusi makanan, obat, mengajar dan membangun hunian di kamp-kamp pengungsian. Mohon doanya, semoga misi kami ke Haiti lancar,” tutur Arifin. Musibah Terburuk Gempa yang mengguncang Haiti merupakan musibah terburuk yang pernah ditangani Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Kerusakan infrastruktur diperkirakan melebihi tsunami yang menghancurkan Aceh tahun 2004 lalu. Gempa Haiti memang sebuah bencana yang mengerikan. Bahkan sepanjang sejarah PBB, belum ditemukan bencana separah ini.
PBB mencatat setidaknya saat tsunami di Aceh, kantor pemerintahan masih ada yang berdiri. Tapi di Haiti, seperti di kota Leogane, seluruh fasilitas publik hancur dalam gempa tersebut. Gempa ini seperti membunuh kota tersebut. Sekitar 90 persen bangunan dan gedung di Leogane hancur akibat gempa. Tidak ada kantor pemerintahan yang tersisa.
Saat ini tim SAR dari 27 negara yang berkekuatan 1.500 orang bersama 115 anjing pelacak masih mencari para korban yang selamat. Namun faktor lemahnya komunikasi, sulitnya transportasi dan kurangnya BBM menjadi penghambat operasi SAR tersebut.
Gempa yang menewaskan hampir ratusan ribu penduduk Haiti ini, menyisakan duka yang mendalam. Ratusan penduduk yang selamat dipastikan tidak hanya kehilangan anggota keluarganya tetapi juga kehilangan tempat tinggal. Bahkan di antara mereka ada yang tidur beralaskan aspal.
Penduduk Port-au-Prince, yang sebelum gempa berjumlah 2 juta jiwa, mulai frustrasi dan marah akibat kekurangan makanan dan air. Selain itu, masalah lain datang dengan munculnya para penjarah yang menenteng senapan, yang menebar ketakutan baru di jalan-jalan kota itu.
Kota Leogane yang berada sekitar 32 kilometer arah barat Ibukota Haiti, Port Au Prince, merupakan daerah paling parah terkena dampak gempa. Sebagian besar korban tertimpa reruntuhan bangunan yang ambruk. Puluhan ribu orang diperkirakan masih terkubur di puing-puing reruntuhan. Kota Leogane kini menjadi kuburan massal. Pemerintah setempat kekurangan alat berat untuk mengevakuasi korban. Kian hari, warga semakin putus asa dan frustrasi. Ketegangan dan tindakan kriminal juga semakin tinggi. Puluhan ribu warga kini terpaksa tinggal di udara terbuka dan mereka dalam keadaan sangat ketakutan. Sejauh ini lebih dari 25.000 mayat berhasil ditemukan dan dikubur, dan para petugas penyelamat berusaha keras untuk menemukan warga yang masih hidup dan terperangkap di bawah reruntuhan.
PBB menyampaikan permintaan bantuan sebesar US$ 562 juta untuk menolong tiga juta rakyat Haiti selama 6 bulan, sedangkan dua juta orang diperkirakan memerlukan bantuan darurat. Tetapi meski sejumlah besar bantuan sudah berdatangan, upaya untuk menyalurkannya terhambat oleh berbagai kesulitan logistik. Bandara penuh sesak, pelabuhan rusak parah, dan ruas-ruas jalan dirintangi oleh reruntuhan bangunan.
Banyak warga yang meninggalkan Port-au-Prince untuk mencari makanan, air dan obat-obatan. PBB juga melaporkan jumlah warga yang mencoba menyeberang masuk ke negara tetangga Republik Dominika serta ke kota-kota lain di Haiti utara bertambah banyak. Laporan lain menyebutkan, karena minimnya bantuan, penduduk yang selamat dari bencana terlibat dalam perkelahian untuk merebutkan makanan yang dibagikan para relawan di ruas-ruas jalan. Haiti memerlukan bantuan yang tidak sedikit jumlahnya. Selain mengevakuasi puluhan ribu korban yang masih tertimbun di reruntuhan bangunan, masyarakat Internasional perlu dengan segera menyiapkan sederet paket program recovery untuk memulihkan negara miskin itu lahir dan batin.
(ddorg/alhikmahonline/pic:reuters)
| Comments () >> |
 |
|