| Berdakwah di ‘Desa Buana’ |
|
|
| Tuesday, 09 February 2010 | |
|
Sepenggal pandangan Prof. Dr. KH Miftah Faridl yang disampaikan dalam orasi ilmiahnya bertajuk ”Revitalisasi Dakwah Islam pada Era Informasi” pada Studium General “Bedah Pemikiran Dakwah dan Launching Biografi Prof. DR. KH. Miftah Faridl”, Selasa (9/02/10). Di sisi lain, menurut Miftah, ketika kekuatan media itu mulai menyentuh wilayah-wilayah yang dinilai berseberangan dengan norma-norma yang berlaku, media pun tidak jarang menuai kritik dan bahkan penolakan. Terkait hal tersebut, Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa Bandung ini menawarkan dua hal penting sebagai refleksi dan aktualisasi dari tujuan dilaksanakannya syariat (Maqashid al-syariah). Pertama, realitas social merupakan alat ukuran keberhasilan dakwah di satu pihak, yang sekaligus menjadi cermin sosial dalam merumuskan agenda dakwah pada tahap-tahap berikutnya. Kedua, aktivitas dakwah sendiri pada hakikatnya merupakan pilihan strategis dalam membentuk arah perubahan suatu masyarakat. Itulah sebabnya, Miftah menganggap eksistensi dakwah sama sekali tidak bisa diabaikan dari dinamika kehidupan masyarakat. “Jika menolak teknologi adalah hal yang sia-sia, maka memanfaatkan teknologi secara produktif , khususnya di bidang informasi dan komunikasi, sangat mungkin menjadi pilihan dan bahkan keniscayaan,” kata Guru Besar Humaniora Institut Teknologi Bandung (ITB) ini. Pilihan dakwah dengan mengedepankan pendekatan akomodatif terhadap perkembangan teknologi, menurut Dewan Redaksi tabloid Alhikmah ini, sesungguhnya sejalan dengan semanat profetika dakwah, yang memiliki ciri-ciri: dakwah yang multidialogis, serta dakwah yang integratif dan fungsional. (hbs/alhikmahonline/imej:google) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




ALHIKMAHONLINE.COM – “Dengan bantuan media audio-visual, semuanya menjadi terasa semakin dekat. Mungkin, inilah diantara ciri era informasi, dimana dunia telah berubah menjadi apa yang biasa disebut ‘desa buana’ (Global Village).”
