Advertisement
 
 
Ustadz H. Budi Prayitno: Dari Hati, Meretas Jalan Dakwah Cetak E-mail
Monday, 30 November 2009

ImageMeski dikenal sebagai juru dakwah, namun perjuangan Ustadz Budi untuk menjadikan dakwah sebagai jalan utama tidaklah singkat. Beragam profesi, mulai dari reporter hingga pengusaha pernah dijalaninya. Namun, ternyata Allah kembali mengingatkan potensi dan kemampuan yang ada pada dirinya untuk menjadi seorang dai.

Meski dikenal sebagai juru dakwah, namun perjuangan Ustadz Budi untuk menjadikan dakwah sebagai jalan utama tidaklah singkat. Beragam profesi, mulai dari reporter hingga pengusaha pernah dijalaninya. Namun, ternyata Allah kembali mengingatkan potensi dan kemampuan yang ada pada dirinya untuk menjadi seorang da’i.
Ditemui Alhikmah di Outlet busana muslim, Shafira, di bilangan Sulanjana, Bandung, Da’i sekaligus pembimbing haji salah satu Kelompok Bimbingan Haji (KBIH) ternama di kota Bandung ini berbagi kisah hidupnya. Termasuk kedua orangtuanya, yang memberikan inspirasi terbesar dalam hidup dia.
Di Purwakarta, Jawa Barat, Budi kecil lahir ke dunia, 46 tahun silam. Buah cinta Ayahandanya, Yusuf Soekarno dan sang Ibu, Siti Murningga.
Terdidik dalam lingkungan madrasah,  menjadikan Ayahnya dengan mudah mengajarkan agama. Tak hanya kepada Budi, namun juga anak-anak tetangga yang dikumpulkan di rumah untuk diajari mengaji.
“Ayah adalah orang yang berpendidikan baik, jago menulis bahasa Arab, serta fasih bahasa Belanda dan Jepang. Sedangkan  ibu adalah orang yang juga memiliki ghirah (semangat_red) beragama yang luar biasa,” ungkapnya.
Karena semangat beragama yang luar biasa itulah, sang Ibu meminta Budi mengikuti pendidikan madrasah selepas sekolah. Termasuk standby di masjid mulai Maghrib hingga Isya, untuk belajar mengaji.
“Jika saya tidak ke masjid maka saya harus bisa mengaji di depan ibu dengan posisi ibu sudah memegang lidi di tangannya. Kalau saya salah, ibu sudah siap mengayunkan lidinya” ungkap Budi, mengenang.
 Karakter kedua orangtuanya yang sederhana, tegas, tangguh dan berani, menjadikan anak keenam  dari tujuh bersaudara ini terdidik demikian. Budi banyak mengambil pelajaran dan hikmah dari pola asuh kedua orangtuanya itu.
Ayahnya yang hobi membaca, seru sekali saat bercerita. Budi kecil kerap khusyuk mendengarkan ayahnya mengisahkan kembali apapun yang ia baca. Inilah yang kemudian membuat dirinya termotivasi untuk terus membaca. Satu buku yang menarik perhatiannya adalah biografi ulama kharismatik negeri ini, almarhun Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah).
“Saat duduk di bangku SMP, sudah terlintas dalam benak saya untuk menjadi seperti Buya Hamka, yang merdeka dalam bersikap dan mengungkapkan pemikirannya. Tidak tergantung pada gaji dari pemerintah, menghasilkan karya-karya yang luar biasa berpengaruh lagi bermanfaat di tengah masyarakat. Tapi ternyata sampai sekarang, saya rasa sepuluh persennya pun belum bisa menyamai Buya Hamka,” ungkapnya merendah.

Keinginan Menjadi Mubaligh
Usai menjuarai lomba pidato saat kelas dua SMP, Ustadz yang hobi traveling dan membaca ini bercita-cita menjadi mubaligh. Namun hatinya berkata, bahwa untuk menjadi mubaligh itu harus memiliki ilmu yang luar biasa banyak, serta memiliki latar belakang pesantren. Karena prasangka buah pemikirannya itulah, cita-cita Budi menjadi mubaligh sempat pupus.
Keinginan untuk menjadi mubaligh kembali muncul tatkala dirinya bergabung menjadi pengurus Keluarga Remaja Islam Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (KARISMA ITB) di Masjid Salman ITB dan mengikuti pelatihan mujahid dakwah.
 Puncaknya tahun 2001. Saat berkesempatan menunaikan ibadah Haji, ustad penyuka tempe ini berjanji dua hal di depan Ka’bah. Pertama, ia berjanji akan membebaskan hutang-hutang orang lain kepada dirinya. Serta memohon pertolongan Allah agar dirinya pun bisa membayar hutang kepada siapapun. Selanjutnya, Budi berjanji untuk bersungguh-sungguh pada pilihannya berada di jalan dakwah.

Menggantikan Amien Rais
Budi pun menjalani hari-hari di jalan mulia yang penuh tantangan ini. Suka duka berkecimpung menjadi aktivis dakwah mewarnai hidup dia. Satu waktu, saat Ramadhan 1999, tokoh reformasi, Amien Rais, dijadwalkan memberikan ceramah di Masjid Salman, ITB.
Saat itu, Jamaah sudah tampak memadati masjid. Bahkan tempat parkir pun penuh dengan kendaraan roda empat. Tiba-tiba, persis menjelang Shalat Isya berjama’ah, tersiar kabar bahwa Amien Rais urung hadir. Saat itu, spontan panitia acara meminta ustadz Budi sebagai pengganti.
Deg. Jantung Budi seolah tertahan. Hatinya merasa belum pantas untuk menggantikan seorang tokoh sekelas Amien Rais. Namun kemudian, sebagai seorang juru dakwah, pantang baginya menolak permintaan untuk mengisi ceramah. Terlebih, panitia saat itu dalam kondisi  panik, tanpa persiapan narasumber pengganti.
Panitia pun kemudian mengumumkan soal pembatalan kehadiran Amien Rais, lalu menyampaikan penggantinya, ustadz budi Prayitno. “Begitu saya naik mimbar, langsung saya ceramah dalam waktu lima menit, tanpa titik dan koma, ekspresi wajah jamaah mendadak berubah. Posisi duduk mereka yang sebelumnya nyantai, terlihat mulai serius, seperti penasaran” kenangnya, sambil tertawa. Itulah diantara pengalaman yang sangat berkesan baginya, selama aktif menebar syiar Islam.
Saat ditanya pandangannya tentang strategi dakwah agar tepat sasaran, ia mengingatkan bahwa para juru dakwah kini harus bisa mengevaluasi kembali kenapa ceramahnya tidak membuat orang tertarik sehingga masjid menjadi kosong oleh jamaah.
“Apa yang salah? Mungkinkah metode yang dipakai menjemukan? Atau karena temanya tidak up to date? Marilah kita bersama-sama memberikan yang terbaik kepada masyarakat dengan cara terbaik pula, agar jamaah tetap tertarik mengkaji Islam,“ ungkapnya.
Untuk itu, ia berencana membuat standar dan lembaga dakwah sendiri. Tujuannya tak lain agar para juru dakwah tak membebani jamaah dengan pesan-pesan Islam yang rumit untuk dicerna. Sehingga kebutuhan umat/jamaah untuk menambah khazanah pengetahuan keislaman pun sedapat mungkin terpenuhi, dengan kemasan dakwah yang menarik, plus jauh dari membosankan.

ALHIKMAH/ERNI ARIE SUSANTI
Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >