| Dilema Melepas Jilbab di Tempat Kerja |
|
|
| Monday, 30 November 2009 | |
|
Assalamu’alaikum wr.wb. Jawaban: Selanjutnya seperti yang kita telah ketahui, memang kita sebagai akhwat yang telah baligh, dalam hadist riwayat Abu Daud, menjelaskan kita kaum wanita harus memakai pakaian yang tidak menampakkan aurat. Mari kita renungkan ketika Rasulallah Saw menegur cara berpakaian Asma binti Abu Bakar saudarinya Aisyah r.a. Ia (Asma) masuk ke rumah Nabi Saw dengan mengenakan pakaian tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya. Serta merta Rasulullah Saw memalingkan wajahnya seraya bersabda, “Hai Asma! jika telah tiba masa haidhnya, seorang wanita tidak dibenarkan menampakkan badannya kecuali ini dan ini sambil beliau menunjuk muka dan telapak tangannya.” (HR Abu Daud) Dalam Alqur’an, surat Al-Ahzab 33: 59, Allah SWT menyeru kepada semua kaum wanita yang beriman untuk tidak menampakan auratnya, “Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya (jalaabihinna) ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Kemudian aturan jilbab tertera pula di dalam QS An-Nur: 31. Sayangnya, niat Anda untuk tetap mengenakan jilbab terganjal oleh dilema dimana Anda harus melepas jilbab di tempat kerja. Timbul pertanyaaan, apakah perlu meneruskan bekerja di tempat ini, walau harus membuka jilbab? toh, hanya selama jam kerja. Ataukah lebih baik keluar dari pekerjaan tersebut? Sebab, pastinya akan ada fitrah pertentangan batin yang tak dapat terhindarkan. Bayangan dosa selalu berkecamuk di hati dan pikiran. Pertanyaannya adalah, masih layakkah pekerjaan ini dipertahankan? Mengingat desakan kebutuhan sehari-hari sebagai penopang ekonomi orangtua? Langkah awal, saya menyarankan dan mendoakan semoga Anda dan semua anggota keluarga mampu meneguhkan hati, lisan dan amal perbuatan, kembali pada Allah saja. total berserah diri, bahwa satu-satunya tempat bergantung kehidupan di masa sekarang dan yang akan datang hanya ada di tangan Allah. Ia lah Ar-Razak (Maha Pemberi Rizki). Semoga Anda dan keluarga, cenderung mengejar bentuk amalan terbaik, amal shaleh yang akibatnya baik bagi dunia dan akhirat, serta menghilangkan unsur bebuat dosa. Sebab Dia Maha Berkuasa membantu kita (lihat QS Al-Anam: 17). Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi. Perkuat sabar (lihat QS Al-Kahfi: 28) Perlu diketahui, memang kekuatan ketawakalan setiap manusia berbeda, seiring menurut QS Fatir 35: 32, bahwa di antara hamba-hamba Allah SWT. itu, tingkatan iman dan taqwanya beragam, pertama, ada yang masih suka menzalimi diri sendiri, kedua, ada yang pertengahan, ketiga, dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan. Maka untuk kasus Anda, tentu ada beragam sikap yang dipilih manusia: 1. Ia ragu keluar kerja, dan tidak ada rencana untuk pindah kerja. 2. Langsung keluar kerja, tapi ia ragu karena ketidakpastian biaya hidup setelah ia keluar, 3. Orang yang tidak ragu dan ia optimis, ada banyak jalan keluar dari Allah yang terbaik. 4. Atau pilihan seperti Anda, ia bertahan sementara di tempat kerja tersebut, namun di sisi lain, sangat ingin segera keluar dari tempat tersebut. InsyaAllah, kondisi Anda masih dalam kategori kedaruratan, asalkan niat Anda bertahan di tempat kerja semata-mata untuk menyambung hidup, dan sambil menunggu pekerjaan baru, dan merasa berdosa bila melepas jilbab, berusaha keras agar segera keluar, tanpa berlama-lama meneruskan di sana. Bolehnya kita melakukan sesuatu yang asalnya dilarang, sekedar keperluan menyambung hidup, dan segera ingin bisa melepaskan diri dari hal itu, dianalogikan kepada isi ayat-ayat yang diterangkan dalam QS Al-Baqarah: 173, QS Al-Anam: 145, “….dan maka barangsiapa terpaksa tidak karena keinginan dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Penyayang”(QS An-Nahl: i5). Semoga saja Allah Mengampuni. Amiin. Sadarilah, semua adalah ujian hidup yang harus kita hadapi, karena semua milik Allah dan akan kembali pada Allah (QS Al-Baqarah:155-156), maka sikapilah dengan sikap terbaik Anda, yaitu tetap istiqamah berjilbab, apapun yang terjadi. Allah lebih Anda jadikan tempat berharap dan bergantung. Sebaiknya segera berusaha mencari pekerjaan yang tidak melanggar syariat hukum Islam. Seiring waktu Anda berjalan terus, maka hiasi dengan ketawakalan, bertaubat pada Allah, berdoa, bersabar, memohon pertolongan kepada Allah, yakinlah sumber rezeki Allah Maha Luas, insya Allah semoga meraih ridha Allah. Sebab, bagi Dia amat mudah mengganti pekerjaan tersebut, dengan pekerjaan yang mengandung keberkahan dunia dan akherat. Amiin. Wallahu’alam bishawwab. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




