| Seandainya... |
|
|
| Thursday, 31 December 2009 | |
|
Seandainya Pak Kyai muda itu benar tengah menghadapi kemelut dalam keluarganya, jamaahnya akan ikut menuai luka. Mereka prihatin. Keteladan pak kyai pun luntur. Para pengikutnya akan kehilangan seorang panutan. Kekuatan kharismanya pelan-pelan tenggelam. Tidak ada lagi fatwa-fatwa yang menenangkan, atau nasihat-nasihat yang menyejukkan. Semuanya menjadi tidak menentu. Konon, keadaan ini bersumber dari desas-desus bahwa pak kiai itu beristri lagi. Seandainya benar pak kiai beristri lagi, mengapa harus menjadi masalah? Bukankah jamaah masih tetap memperoleh perhatian penuh pak kiai? Tidak berkurang sedikitpun. Setiap shubuh pak kiai masih tetap hadir memberikan santapan rohani. Masih ada tanya jawab interaktif di radio. Dia masih menyisihkan waktu untuk tetap dekat dengan umat. Dan ketika sewaktu-waktu diundang untuk mengisi tabligh, pak kiai tetap berusaha datang. Mungkin, perasaan sebagian jamaah mulai terusik oleh teka-teki rumah tangga pak kiai. Lalu berempati karena dikabarkan istri pak kiai mulai gerah. Bahkan, konon, terdengar isu minta pisah. Seandainya benar kalau istri pak kiai itu minta pisah, tak terbayang, bagaimana nasihat-nasihatnya masih akan memiliki akar uswatun hasanah yang sebelumnya begitu kuat diikuti para jamaah. Istrinya menangis. Anak-anaknya terluka. Tapi kiai tampak tetap berusaha tegar, meski sesekali badannya yang lunglai itu tak bisa lagi disembunyikan. Luka, karena tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau keputusan untuk membagi kasih itu ternyata telah membuat luka. Luka itu begitu membekas. Tak bisa ditutup-tutupi lagi. Ibarat bau busuk yang sudah terlanjur menguap. Tak bisa disembunyikan. Semuanya sudah menjadi konsumsi publik. Tidak ada lagi rahasia. Bahkan kalau saja luka itu adalah ’aib, tidak ada lagi kekuatan sekedar untuk menutupi dan membendung isu yang mengalir semakin deras. ’Aib itu terlanjur menembus batas. Tidak ada tenggang rasa. Empati pun hilang, sehingga membuat orang itu semakin terluka. Tidak ada lagi ikatan moral di antara kiai dan jamaahnya. Pesan Nabi agar senantiasa menutupi ’aib hanya terdengar samar-samar. Bahkan kini ’aib seseorang sudah menjadi tontonan gratis yang banyak menarik perhatian. ’Aib kini sudah semakin lumrah mengisi kehidupan rumah tangga, atau sebagai alat pergaulan perekat komunikasi sehari-hari. ’Aib ada di berbagai media dan kesempatan. Di televisi, di majalah, dan di media massa lainnya, ’aib semakin berwarna mengisi setiap halaman dan kesempatan. Padahal sejak awal Nabi telah mengisyaratkan pentingnya menjaga harga diri orang lain, agar ’aib tidak liar mengemuka. Seandainya sudah seperti itu jejak rekam pak kiai, lalu apa bedanya dengan selebriti. Lihatlah, berbagai tayangan di televisi yang sengaja dirancang untuk mengungkap kisah-kisah pasangan bermasalah. Kehidupannya menjadi bahan gonjang-ganjing berbagai kalangan. Urusan rumah tangganya berubah menjadi urusan publik. Seolah mereka tidak lagi diperbolehkan menyimpan rahasiah. Dan semua ikut terlibat, ikut merasakan, meski penilaiannya bisa sangat berbeda-beda. Bayangkan, seandainya diri kita yang mendapat giliran sebagai objek gonjang-ganjing. Kita tidak lagi bisa bersembunyi. Kita tidak lagi bisa menggunjingkan orang lain, karena kita yang dipergunjingkan. Kita akan menjadi bahan perbincangan orang banyak. Jika itu adalah sebuah ’aib, ’aib kita akan menjadi hiasan yang memperindah hari-hari yang biasanya kita lalui, atau sebaliknya, hari-hari itu menjadi sedemikian kusut. ’Aib kita akan menjadi buah bibir yang manis untuk dipergunjingkan, terpasang pada setiap dinding rumah, tertulis pada setiap lembaran catatan hidup. Mungkin, kita pun akan malu berada bersama teman, saudara, atau bahkan keluarga kita sendiri. Tapi, konon, kejadian yang menimpa selebriti pun belum tentu senyata seperti itu. Berbagai peristiwa yang sering menjadi warna berita hanyalah aliran kosong untuk mencari sensasi. Banyak hal yang tak masuk akal. Ceritanya berawal dari kejadian yang tak seberapa, dan berujung dalam ketidakjelasan. Ceritanya hilang, bukan saja karena muncul aktor baru dengan isu yang baru pula, tapi memang karena ia hilang begitu saja. Mungkin pak kiai hanyalah korban ganasnya gonjang-ganjing yang jelas-jelas dilarang Nabi. Selebriti hanyalah sandiwara yang sengaja dibesar-besarkan untuk membangun sensasi. Tapi dampaknya luar biasa. Membuat orang tidak berharga, terpuruk, bahkan terancam menjadi sampah. Padahal Nabi pernah mengingatkan agar tidak mentradisikan gonjang-ganjing, menjauhi sejauh-jauhnya kebiasaan ghibah, apalagi memfitnah. Kiai itu ternyata tidak apa-apa. Ketika ditemui di rumahnya, seperti biasanya sang kiai sedang bersama anak-istrinya. Para santrinya tetap hormat. Pengajian tetap berjalan seperti biasa. Keluarga pak kiai pun tetap tampak bahagia. Tampak alamiah. Tidak ada tanda-tanda artifisialisasi canda yang telah menjadi karakter kesehariannya. Anak-anaknya yang sempat dikabarkan terluka marah, mereka tampak ceria. Tapi, memang, citranya di mata umat sudah terlanjur jatuh. Tidak seperti biasanya, para pengunjung lenggang. Jumlah tamu yang datang pun berkurang deras. Mereka sudah terlanjur percaya kalau berita itu benar. Untung saja pak kiai tidak berusaha melakukan tabayun guna mengklarifikasi keadaan. Dengan tulus pak kiai membiarkan isu itu tetap mengalir. Melepaskan gonjang-ganjing itu terus berjalan. Sebab kalau saja tabayun itu dilakukan, mungkin akan menuai amarah jamaah yang lebih besar. Pak kiai sudah terlanjur jadi korban. Ia benar-benar jadi korban pencitraan buruk yang terbangun melalui pemberitaan di berbagai media. Ia menjadi korban penjulukan yang disimpulkan secara sepihak. Tampak tak berdaya, pak kiai “harus” pasrah menerima putusan tanpa proses pengadilan. Seperti kata McLuhan, media memang bisa menjadi kepanjangan panca indera, mempercepat meluasnya pesan, memaksa membentuk opini publik. Isu itu lalu meluas deras. Menjadi tamu liar yang datang ke setiap rumah tanpa diundang. Pantas saja kalau Nabi dengan tegas melarang kebiasaan bergunjing. Nabi sengaja melarangnya, karena bergunjing berpotensi merugikan dan dapat memotong persahabatan. Tidak heran jika kelembagaan ulama di negeri ini sempat mengeluarkan fatwa larangan mengungkap kisah-kisah yang membahayakan ini. Meski menuai banyak kontroversi, fatwa ini harus tetap tegar. Fatwa ini sejatinya menjadi obat penawar untuk memotong aliran penyebaran virus ghibah yang dapat mewabah. Tapi sudahlah. Jangan berkepanja-ngan. Berhentilah, sebelum orang-orang menjadi korban bahayanya ghibah. Saya harus segera menutup perbincangan ini, agar tulisan ini pun tidak ikut larut dalam menebarkan aroma ghibah. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




