| No. 43 |
|
|
| Monday, 01 February 2010 | |
|
Assalamu’alaikum wr. wb. Itulah perubahan. Hampir pasti selalu ada yang harus ‘dikorbankan’. Tak berarti yang lama kalah mutu. Hanya mencoba menyelaraskan keterbatasan ruang yang hanya 28 halaman, dengan arah perubahan yang diusung. Dr. Ing Fahmi Amhar, dalam makalahnya “Penelitian, Kebenaran dan Kreativitas dalam Paradigma Islam” mengatakan, kreativitas diperlukan untuk menjawab tantangan permasalahan yang dihadapi di dunia ini. Kreativitaslah yang menjadikan suatu bangsa unggul dalam ilmu dan teknologi, dan bukan nilai kebenaran atau kebijaksanaan yang mereka kumpulkan. Fakta-fakta kejayaan peradaban Islam di masa lampau, melalui karya-karya kreatif para cerdik cendekia muslim saat itu coba kami hadirkan ke tengah pembaca. Begitu pun para cendekiawan muslim kontemporer. Bukan sekedar untuk dikenang, lantas berhenti begitu saja. Tapi lebih dari itu. Bahwa kita, umat Islam mempunyai modal yang memadai, untuk mampu bangkit menjadi pribadi-pribadi yang unggul, yang akan menghantarkan kita kembali meraih kegemilangan peradaban Islam, kelak. Mengutip salah satu paragraf di Sajian Utama, “Menjadi muslim kreatif, misalnya. Tentu tak lepas dari aspek-aspek kepribadian seorang muslim lainnya, mulai aspek ruhiyah, fikriyah, hingga amaliyahnya. Ruhiyah yang baik logisnya akan melahirkan akidah yang lurus dan mantap, tak tergoyahkan. Fikriyah yang cemerlang tentu bermula dari wawasan keislaman yang matang, dan pola pikir islami yang berawal dari satu sumber, yakni kebenaran dari Allah SWT. Sehingga membuahkan kreativitas yang unggul, dan dirasakan manfaatnya oleh umat. Amaliyah yang terjaga akan memunculkan konsistensi lisan dan perbuatan pada pribadi-pribadi muslim.” Di rubrik Profil, pembaca bisa menyimak ‘Revolusi Sampah dari Taman Sari’. Sebuah gagasan dari seorang ibu bernama Iyom, yang dengan kegigihannya berhasil mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai, bahkan kemudian menebar mashlahat bagi masyarakat banyak. Wallahu a’lam. |
| Berikutnya > |
|---|



