| Muslim Numeral |
|
|
| Monday, 01 February 2010 | |
|
Pernahkah Anda mengamati lambang angka-angka yang biasa kita gunakan sehari-hari? Lihatlah satu persatu. Angka satu dilambangkan dengan ”1”, angka dua dilambangkan dengan ”2”, tiga dengan ”3”, dan seterusnya. Jika diamati, bentuk angka-angka itu ada kemiripan dengan lambang angka-angka yang digunakan dalam huruf Arab. Bahkan, dengan cara mengubah-ubah posisi fisiknya, akan tampak semacam produk modifikasi dari lambang angka-angka dalam huruf Arab. Angka satu, misalnya, berbentuk tongkat berdiri yang hampir tidak ada perbedaan sama sekali di antara keduanya. Angka dua nampak ada perubahan sedikit, yaitu dengan memutar 90 derajat ke kiri. Demikian pula lambang angka-angka lainnya, jika diamati akan diperoleh gambaran kesamaan dengan sedikit modifikasi. Lambang angka ini ternyata digunakan hampir di seluruh dunia. Termasuk di negara-negara yang memiliki lambang angka sendiri, seperti negara-negara yang menggunakan huruf Arab. Mereka menggunakan lambang huruf Arab, dan pada saat yang sama, mereka juga menggunakan lambang angka seperti yang biasa kita gunakan. Coba perhatikan mata uang Arab. Uang itu, pada masing-masing mukanya, menggunakan kedua bentuk lambang angka tersebut secara bersamaan, yaitu lambang angka sesuai dengan bahasa yang mereka gunakan, dan lambang angka yang biasa kita gunakan. Lalu tahukah Anda, apa nama angka yang hingga saat ini digunakan masyarakat dunia itu? Angka itu dikenal di seluruh dunia dengan nama ”Angka Arab” (Arabic Numeral). Sejumlah referensi yang mengungkap sejarah ilmu hitung, termasuk sejarah matematika, secara jelas menyebutnya angka Arab. Memang ada lambang angka lain yang juga masih digunakan, yaitu angka Romawi. Angka Romawi dilambangkan dengan I, II, III, IV, dan seterusnya. Akan tetapi, jika dilihat dari sisi penggunanya, angka Arab jauh lebih banyak digunakan dibanding angka Romawi. Hal menarik lain dari lambang angka ini adalah terkait dengan nama. Mengapa angka ini disebut Angka Arab? Sejak awal abad ke-8, orang-orang muslim mulai memasuki daratan India. Mereka datang dengan seperangkat fasilitas fisik maupun non-fisik. Mereka membawa budaya, baik budaya material maupun non-material. Mereka membawa bahasa dan seperangkat pengetahuan dengan segala simbol yang melekat di dalamnya, termasuk lambang-lambang angka dan huruf yang telah lama berkembang dalam tradisi baca-tulis bangsa Arab. Semuanya mewujud dalam proses interaksi dengan penduduk setempat yang juga sarat dengan berbagai nilai budaya. Bangsa India saat itu dikenal sebagai peminat ilmu hitung yang luar biasa. Bahkan sampai saat ini, orang-orang India masih dikenal dengan keunggulannya dalam bidang matematika. Itulah sebabnya, anak benua ini pernah menjadi lahan subur bagi Al-Khawarizmi ketika menyemai keahliannya dalam bidang matematika. Al-Khawarizmi pun dikenal dalam sejarah sebagai penemu ilmu hitung dengan karya besarnya Al-Handasah. Dalam pergaulan dengan penduduk setempat, tidak bisa dihindari, para pendatang Muslim itu pun menyesuaikan diri dengan tradisi dan minat penduduk asli. Mereka terlibat dalam berbagai perbincangan di seputar ilmu hitung yang banyak menggunakan angka-angka. Ditemukannya angka 0 (nol) oleh pendatang Muslim itu, salah satunya, merupakan hasil pergaulan intelektual dengan para pemeluk Hindu yang saat itu sedang merumuskan sistem penanggalan sendiri. Ada yang menarik dari proses penemuan lambang angka itu. Seperti disebutkan di atas, dapat diduga kuat, lambang-lambang angka itu didisain dengan memodifikasi lambang angka yang mereka miliki, angka dalam huruf Arab. Caranya, seperti terlihat dari bentuk lambang angka Arab, dengan cara memutar 90º ke arah kiri serta modifikasi seperlunya seperti terlihat pada angka-angka 2, 3, dan 6. Sedangkan angka 1 dan 9 nyaris tidak dirubah kecuali sedikit modifikasi. Sungguh, menurut saya, sebuah kreativitas monumental yang hingga saat ini masih digunakan. Para penyebar Islam itu melakukan berbagai inovasi yang mungkin pada awalnya tidak terbayangkan bakal memberikan pengaruh besar, khususnya di dunia ilmu. Bayangkan jika saat itu tidak ditemukan angka nol. Mungkin tidak akan dikenal adanya bilangan cacah dan hanya dikenal bilangan asli yang ketika menunjukkan angka 1 belum memberikan arti apa-apa. Akan tetapi, di atas itu semua, ada satu hal yang perlu digarisbawahi. Mengapa lambang angka itu disebut angka Arab. Orang-orang India saat itu mengidentifikasi Muslim sebagai orang Arab. Alasannya pun sangat sederhana. Islam lahir di Jazirah Arab. Sehingga setiap Muslim, saat itu, dapat dipastikan sebagai orang Arab. Mirip dengan identifikasi Jawa bagi orang-orang Muslim di Bali, karena ada kesan kuat bahwa orang-orang Islam yang ada di Bali adalah orang Jawa atau sekurang-kurangnya berasal dari Jawa. Karena itu, lebaran iedul fitri, di Bali sering disebut Magalungan Jawa. Padahal, orang-orang Muslim yang datang ke anak benua India hingga melintasi daratan Cina pada paruh pertama abad ke 8, belum tentu tergolong orang-orang Arab. Sejak pertengahan abad ke 7, Rasulullah sudah memperluas kawasan dakwah hingga ke Afrika dan Asia Timur lainnya. Sehingga para penyebar Islam yang datang ke kawasan anak benua India pun sangat mungkin berasal dari luar kawasan Arab. Mereka ada yang berasal dari Turki, atau beberapa kawasan Muslim lainnya, termasuk Iran atau Persia yang secara geografis berdekatan dengan India. Tidak mudah dibuktikan kalau muslim yang datang dan berakulturasi dengan penduduk lokal saat itu adalah orang-orang Arab, tempat kelahiran Islam dan Nabi Muhammad. Jadi, kalau mau jujur, para penemu angka itu sesungguhnya adalah orang-orang Muslim yang kebetulan diidentifikasi oleh orang-orang India sebagai orang Arab. Karena itu, penyebutan Angka Arab terhadap lambang bilangan yang saat ini kita gunakan akan lebih tepat jika disebut Angka Muslim (Muslim Numeral). Mengapa tetap disebut Angka Arab? Wallahu a’lam. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




